Tips Bisnis

Berbisnis?, Pilih Dulu Sebelum Mulai

Kamis, 01 Desember 2016 | 19:00 WITA

Berbisnis?, Pilih Dulu Sebelum Mulai

Tips Memilih Bisnis. [source: istimewa]

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM

   Males Baca?

Beritabali.com - Denpasar. Kesalahan yang biasa dilakukan pebisnis adalah keliru memilih bisnis. Jika sudah keliru, kemungkinan terbesar adalah bertemu kegagalan. 
 
Kegagalan sendiri banyak bentuknya. Ada yang gagal namun pebisnisnya masih bisa par, netral tanpa hutang. Ada pula yang menyisakan banyak hutang. Sayangnya, persoalan hutang bukan cuma mengenai materi, tapi ikut juga menyeret masalah psikologi.  
 
Setelah kemarin, Rabu (30/11), dibahas mengenai tips pertama dalam memeilih bisnis. Kini, simak tips keduanya. 
 
Pilih bisnis yang staples 
 
Jika sudah menemukan irisan dari ketiga aspek Go to Great tersebut, langkah selanjutnya adalah memikirkan bisnis mana yang mampu staples. Bisnis yang staples adalah sebuah bisnis yang diterima oleh market. Ketika ditawari, produk dari bisnis tersebut tidak akan menimbulkan pertanyaan butuh atau tidaknya. Artinya produk tersebut sudah tentu akan dibutuhkan pasar. 
 
“Contoh dari ujung rambut sampai kaki, misal rambut, orang butuh cukur rambut gak? Tentu butuh, jadi kalau kita buka bisnis cukur rambut itu bisnis yang staples. Yang kedua, orang butuh keramas gak? Tentu butuh dan apapun mengenai rambut. Karena manusia butuh itu,” jelasnya lagi. 
 
Ery menambahkan, jangan sampai pebisnis meyakinkan konsumen untuk membeli produk. Sebab, hal itu memerlukan effort yang lebih. Jika tidak berbisnis yang staples diawal, maka yang terjadi pebisnis akan meyakinkan konsumen mengenai produk tersebut. Sebaliknya, jika sudah berbisnis yang staples di awal maka fokus pebisnis cuma satu, yaitu konsumen yang membeli produk. Tentu hal ini akan lebih meringankan pebisnis diawal usahanya. 
 
Supaya pebisnis tidak terjerumus dalam meyakinkan konsumen, maka pebisnis harus mengerti betul masalah pasar, yang didalamnya ada want, need, dan demand. Bahasan want dinilai terlalu luas. Jika membahas need, sudah lumayan sempit. Namun, pebisnis sebaiknya sudah mecapai level demand, mempertanyaakn kebutuhan pasar. 
 
“Kalau want, siang ini saya ingin makan steak, mie, babi guling, ataupun gado-gado. Keinginan saya banyak. Tapi need saya apa sih? need saya hanya sepiring nasi dengan lauk dan segelas minuman. Itu need saya. Trus demand saya apa? Demand itu di kantong saya uangnya ada berapa? Kalau Cuma lima ribu rupiah ya saya gak dapat steak, saya dapatnya indomie mungkin. Nah itu demand saya,” ungkap Ery menjelaskan beda want, need, dan demand. 
 
Ery menyarankan, pebisnis harus mampu menganalisa hingga ke level demand. Sebab, menurutnya sebagus apapun produk, customer service, maupun cara menjual produk tersebut namun tidak dibarengi dengan demand sama halnya dengan percuma. Konsumen tidak akan membeli produk tersebut. Kemampuan konsumen jelas tidak ada. 
 
Bersambung
 
[wrt]


Kamis, 01 Desember 2016 | 19:00 WITA


TAGS: tips bisnis




Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya:

 

Nama Jumlah Donasi
Ni Kadek
Rp 20,000
Ni Ketut Sukerti A.
Rp 100,000
OSIS Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Amlapura
Rp 2,000,000
Semeton
Rp 70,000
Ni Ketut Sukerti A.
Rp 30,000

Jumlah Donatur sampai saat ini: 22 Donatur
Total Donasi sampai saat ini: Rp 8,605,000

Dimulai sejak Sabtu, 11 Februari 2017