Jero Bagia, Layani Konsultasi Nasib Turis Asing

Rabu, 14 Desember 2016 | 08:10 WITA

Jero Bagia, Layani Konsultasi Nasib Turis Asing

beritabali.com

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM

   Males Baca?

Beritabali.com, Temukus. Tak hanya berwisata menikmati keindahan alam dan budaya, wisatawan yang datang ke Bali ternyata juga ada yang menyempatkan diri mencoba jasa konsultasi 'balian' atau dukun tradisional Bali. Salah satunya di Desa Temukus, Buleleng.
 
Pagi sekitar pukul 10, Nyoman Bagia atau yang kini dikenal dengan Jero Mangku Gde Bagia, tampak baru usai melakukan sembahyang pagi, di rumahnya, di Banjar Tengah, Desa Temukus, Kecamatan Banjar, Buleleng.
 
Pria kelahiran 20 Maret 1934 ini kemudian mempersilakan Beritabali.com untuk masuk 'ruang prakteknya'. Sebuah ruangan yang tidak begitu besar dan penuh dengan aneka patung, topeng, foto serta kliping koran yang dibingkai, dan benda-benda khas dunia spiritual lainnya.
 
Dengan ramah, pria yang tampak masih sehat di usia senjanya ini memulai percakapan.
 
"Napi sane jagi katunasang (apa yang mau ditanyakan),"ujarnya ramah.
 
Sebelum memulai sesi konsultasi, Jero Bagia masuk ke dalam bilik khusus untuk berdoa meminta petunjuk. Bunyi kleneng atau genta disertai doa mantra kemudian terdengar dari balik bilik yang ditutup kain gorden.
 
Usai berdoa, Jero Bagia kemudian meminta Beritabali.com untuk menunjukkan garis tangan kiri. Dengan tiga buah dupa berasap, Jero Bagia mulai membaca garis tangan. Agar lebih afdol, Jero Bagia juga menanyakan hari otonan atau hari kelahiran Bali.
 
Setelah membaca garis tangan dikombinasi dengan hari otonan, Jero Bagia mulai menjabarkan apa yang ingin diketahui 'kliennya', mulai nasib, peruntungan, rejeki, kesehatan, dan lain sebagainya.
 
"Semuanya sudah ada, dijelaskan di garis tangan dan otonan ini, saya hanya membantu membacanya, dibantu dengan petunjuk Ida Sesuhunan, Betara Kawitan, dan Tuhan Ida Sang Hyang Widhi Wasa,"jelasnya.
 
Usai membaca garis tangan, Jero Bagia mulai bercerita soal profesi yang dijalaninya.
 
"Tahun 1957, saya bekerja di pabrik sabun di Buleleng. Tahun 1968 saya mulai Ngiring Sesuhunan, Betara Kawitan, tapi mungkin belum waktunya," ujarnya.
 
Seiring perjalanan waktu, tahun 1983, kediaman Jero Bagia mulai semakin ramai. Warga dari berbagai wilayah datang ke rumahnya untuk berkonsultasi.
 
"Yang datang ke sini nunas (minta) petunjuk, membaca garis nasib, nunas tamba (obat), dan lain sebagainya. Dan ada yang bisa terbukti berhasil,"ujarnya.
 
Selain warga Bali, yang datang untuk konsultasi ke rumah Jero Bagia juga berasal dari beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, dan kota kota lainnya,
 
"Turis juga ada yang ke sini, dari Eropa, Amerika, hingga China. Semuanya konsultasi soal kehidupan, nasib, dan ramalan lainnya, semuanya berdasar otonan dan garis tangan,"ujarnya.
 
Perbincangan dengan Jero Bagia akhirnya harus diakhiri. Karena di luar ruang prakteknya sudah mulai ramai didatangi warga yang hendak konsultasi. 
 
Untuk bisa melakukan konsultasi dengan Jero Bagia, warga tidak dipatok tarif tertentu. Hanya canang (sajen), dupa, uang sumbangan (punia) seiklasnya, dan sebungkus rokok kretek filter kesukaannya. [bbn/psk]


Rabu, 14 Desember 2016 | 08:10 WITA


TAGS: jero bagia buleleng temukus




Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya:

 

Nama Jumlah Donasi
Ni Kadek
Rp 20,000
Ni Ketut Sukerti A.
Rp 100,000
OSIS Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Amlapura
Rp 2,000,000
Semeton
Rp 70,000
Ni Ketut Sukerti A.
Rp 30,000

Jumlah Donatur sampai saat ini: 22 Donatur
Total Donasi sampai saat ini: Rp 8,605,000

Dimulai sejak Sabtu, 11 Februari 2017