Eksekusi Tanah Serangan Ricuh, Brimob Kena Panah, Ini Kronologisnya

Selasa, 03 Januari 2017 | 20:40 WITA

Eksekusi Tanah Serangan Ricuh, Brimob Kena Panah, Ini Kronologisnya

Beritabali.com

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM

   Males Baca?

Beritabali.com, Serangan. Eksekusi tanah dan bangunan seluas 94 are di Kampung Bugis Pulau Serangan yang dimenangkan pihak pemohon, Hj. Maisarah berlangsung ricuh. Seribuan lebih aparat kepolisian yang mengamankan jalannya eksekusi pada Selasa (3/1) pagi, bentrok dengan warga setempat. Sejumlah warga luka-luka dan satu anggota Brimob tertembus panah di bagian paha kirinya.
 
Eksekusi berlangsung sekitar pukul 08.30 Wita, setelah 1278 personel kepolisian bersenjata lengkap dari Polresta Denpasar, Polda Bali, Brimob dan TNI, berkumpul di depan lokasi eksekusi. Dalam eksekusi tersebut, petugas mengerahkan public dress (mobil dilengkapi mikrophon), mobil rantis baja dan mobil watercanon. Petugas juga membentengi diri dengan tameng, body pack (pelindung badan) dan tongkat pemukul.
 
Sementara ratusan warga Serangan yang menolak eksekusi tersebut terlihat sudah menanti kedatangan petugas. Mereka berteriak takbir “Allahu Akbar” dan meminta petugas keluar dari lokasi eksekusi. 
 
Diantara ratusan warga yang menolak eksekusi, tampak kuasa hukum termohon Rizal Akbar Maya Poetra, Cokorda Pemecutan dan Zaenal Thayeb, berada di tengah-tengah kerumunan pendemo. Yang menarik, dalam penolakan tersebut warga membawa ibu ibu dan anak anak sambil duduk membentang spanduk bertuliskan penolakan eksekusi.
 
Para pendemo menghadang perjalanan petugas dengan memblokade jalanan dengan perahu besar. Petugas berupaya membujuk pendemo untuk meminggirkan perahu agar eskavator bisa masuk ke lokasi eksekusi. Namun pendemo keberatan dan berdalih masih memiliki hak atas tanah dan bangunan secara turun-temurun. 
 
Berkat negosiasi dari Kasat Reskrim Polresta Denpasar Kompol Reinhard Habonaran Nainggolan dan bantuan kuasa hukum termohon Rizal Akbar Maya Poetra, perahu tersebut dapat dipinggirkan, meski sebagian pendemo menolak.
 
Kericuhan mulai tampak setelah sekitar pukul 10.00 Wita, setelah Panitera Pengadilan Negeri Denpasar membacakan penetapan eksekusi atas putusan Pengadilan Negeri Denpasar nomor 188/PDTG/2009/PN Denpasar tanggal 10 Desember 2009, junto putusan Pengadilan Tinggi Denpasar 45/PDTG/2010/PT Denpasar, 28 Juni 2010, junto putusan Mahkamah Agung RI nomor 3081K/PDTG/2012 tanggal 22 Maret 2012, yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap sampai selesai dan tuntas dengan bantuan alat Negara atau polisi. 
 
Putusan ini berlaku tanggal 9 Juni 2014 dan ditanda-tangani Ketua Pengadilan Negeri Denpasar, Sugeng Riyono SH.
 
Pengacara Warga Protes
 
Setelah pembacaan penepatan eksekusi yang dimenangkan oleh pihak pemohon Hj, Maisarah, kuasa Hukum termohon Rizal Akbar Maya Poetra seakan tidak terima putusan eksekusi tersebut dan mengatakan tidak sah. Dia berteriak-teriak meminta panitera untuk mendengarkan tuntutan mereka. 
 
“Ini putusan salah pak. Mohon dengarkan saya, ini putusan salah pak,” jelas Rizal Akbar kepada panitera yang tidak mengubris permintaan tersebut. Bahkan Rizal Akbar mengancam akan melaporkan panitera ke ranah tindak pidana karena tidak mengubris permintaannya.
 
Sementara puluhan petugas yang ditunjuk dari Pengadilan Negeri (PN) Denpasar mulai mengeluarkan barang barang rumah tangga milik para termohon 36 KK. Satu persatu barang dari mulai kasur, lemari, kursi hingga pakaian, dikeluarkan ke depan rumah pemiliknya. Tidak terima barangnya dibawa keluar, ibu ibu rumah tangga yang tidak sempat mengangkut barang barangnya marah. 
 
Mereka berteriak berteriak memaki petugas, namun tidak digubris. Petugas selanjutnya mengangkut barang barang tersebut keluar dari areal eksekusi dengan menggunakan truk yang sudah disiapkan.
 
Sementara dari arah selatan, ratusan warga yang berdemo terus menolak. Petugas akhirnya mengurung para pendemo dari arah utara dan selatan. Petugas mencoba memukul mundur pendemo dari dua arah yang berlawanan. Disinilah ratusan warga mengenakan peci mulai marah. Disaat petugas menghadang dengan tameng, warga melawan.
 
Ratusan warga memukul petugas dengan tongkat yang sudah dipersiapkan. Tidak terima dipukul, emosi petugas terpancing dan ikut balas memukul. Bentrok Polisi dan warga pun akhirnya terjadi. Sejumlah warga luka-luka dibagian kepala. Bahkan ada warga yang terpaksa ditangkap karena diduga memprovokasi kericuhan. 
 
Sementara kuasa hukum termohon Rizal Akbar Maya Poetra mata kirinya terkena pukulan tongkat saat mendamaikan bentrok tersebut.
 
Situasi semakin tidak terkendali setelah pendemo terdiri dari ibu-ibu dan anak anak yang berada ditengah insiden bentrok berteriak ketakutan. Sejumlah anak anak menangis dan terpaksa dibawa petugas keluar dari arena bentrok. Tak ketinggalan, petugas Polwan dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (Unit PPA) ikut membantu mengeluarkan ibu ibu dari arena bentrok, meski sebagian diantaranya mengalami luka lecet akibat terinjak injak kaki dalam aksi kericuhan tersebut.
 
Guna membubarkan aksi demo, petugas menyemprotkan gas air mata di tengah tengah kerumunan bentrok. Akhirnya warga memilih kabur sambil menutup matanya yang perih. Petugas berhasil memukul mundur pendemo hingga ke tanah lapang kosong.
 
Dalam insiden demo tersebut, nahas dialami perwira Intel Brimob Iptu I Wayan Suardika. Saat bentrok terjadi, paha kirinya tertembus panah yang tidak tahu darimana datangnya. Dalam kondisi berdarah darah, perwira tersebut digotong anggotanya untuk dibawa ke rumah sakit. 
 
“Anggota terkena panah di kaki kirinya dan sudah dibawa ke rumah sakit Prima Medika. Rencananya mau dioperasi. Saya mau lihat dulu kesana,” kata Kabid Propam Kombes Pol Beni Arjanto yang ditemui di lokasi eksekusi.
 
Setelah menguasai keadaan, 7 unit eskavator yang sudah dipersiapkan petugas PN Denpasar langsung masuk dan merobohkan satu persatu rumah warga yang sudah mereka huni sejak ratusan tahun silam.  Namun, saat merobohkan rumah warga, insiden kecil terjadi. Dari seberang jalan, warga melempar petugas dengan bebatuan dan kayu. Beruntung, insiden tersebut hanya sebentar saja terjadi karena petugas Sat Reskrim Polresta Denpasar langsung melakukan pengejaran.
 
Kapolresta Denpasar Kombes Pol Hadi Purnomo mengatakan, dalam eksekusi Kampung Bugis Serangan, pihaknya menurunkan 1278 personil dari Polresta Denpasar, Polda Bali, Brimob dan TNI serta instansi terkait lainnya. Banyaknya jumlah personil yang diturunkan semata-mata untuk meredam perlawanan warga Kampung Bugis.
 
Dijelaskannya, sebenarnya eksekusi sudah sempat dilakukan 2 kali, pada tahun 2014 lalu. Tapi, eksekusi gagal dengan alasan pihak termohon mengajukan PK (Peninjauan Kembali) ke Mahkamah Agung. Sehingga eksekusi kali ini, polisi sudah melakukan pendekatan kepada warga kampung Bugis. 
 
"Sudah 5 kali kami melakukan pendekatan kepada warga dan juga mediasi, setelah turunnya PK," kata Kombes Hadi, Selasa (3/1).
 
Mantan Kapolres Gianyar ini menjelaskan, dalam eksekusi tersebut terjadi perlawanan dari warga dan sudah diprediksi aparat kepolisian. Sehingga pihak kepolisian mengerahkan personel lengkap dalam pengamanan tersebut.
 
Namun, meskipun ada perlawanan, polisi tidak menggunakan senjata api dalam mengamankan protes massa dan mengantisipasi aksi yang menjurus brutal.
 
"Protap yang ada penindakan eskalasi, tidak menggunakan senjata api," ucapnya. [spy/psk]


Selasa, 03 Januari 2017 | 20:40 WITA


TAGS: eksekusi serangan




Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya:

 

Nama Jumlah Donasi
Ni Kadek
Rp 20,000
Ni Ketut Sukerti A.
Rp 100,000
OSIS Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Amlapura
Rp 2,000,000
Semeton
Rp 70,000
Ni Ketut Sukerti A.
Rp 30,000

Jumlah Donatur sampai saat ini: 22 Donatur
Total Donasi sampai saat ini: Rp 8,605,000

Dimulai sejak Sabtu, 11 Februari 2017