search
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
light_mode dark_mode
Anak Mulai Masturbasi, Apa Yang Harus Dilakukan?
Minggu, 12 Mei 2019, 09:50 WITA Follow
image

bbn/ilustrasi/Himedik.com

IKUTI BERITABALI.COM DI

GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Beritabali.com, Denpasar. Tanya: “Dok, aku dulu nikah muda karena "kecelakaan". Waktu SMA kadung hamil. Sekarang anakku sudah besar, sudah kelas 6 SD. Begitu cepat rasanya tanpa aku sadari. Nah anakku ini tanpa sengaja pernah aku lihat mempermainkan kelaminnya sendiri di kamarnya, dan terlihat dia kesenangan dan sangat menikmatinya. Aku terkejut dan merasa belum siap menghadapi hal seperti. Apa yang harus aku lakukan, Dok?” (Dayu,29)
 
[pilihan-redaksi]
Jawab: Jika memang para orang tua mengalami situasi yang serupa, sebaiknya memang tidak perlu khawatir, karena kejadian seperti ini masih tergolong wajar. Di usia ini, sesuai dengan perkembangan psikoseksualnya, si anak sudah berada pada awal fase genital, atau fase di mana si anak merasakan sensasi seksual sudah berada di kelaminnya secara sadar, karena saat ini juga sudah mulai muncul dorongan seksual yang dibentuk karena faktor mulai bekerjanya hormon seksual. 
 
Fase ini juga dikenal dengan istilah pubertas, saat mana juga sering kali pada laki-laki ditandai dengan kejadian munculnya mimpi basah. 
Fase genital biasanya dimulai sekitar usia 12 atau 13 tahun, yang saat ini sesungguhnya seorang manusia mulai masuk ke tahapan kehidupan seksual sesungguhnya yang ditandai dengan adanya tanda-tanda pubertas, dan sensasi seksual sudah dinikmati di organ-organ seksnya secara sadar. 
 
Salah satu bentuk sadar buat menikmati sensasi dan dorongan seksual yang muncul adalah dengan melakukan hal seperti yang disebutkan dalam pertanyaan, yang biasa disebut dengan masturbasi atau onani. 
Masturbasi itu sendiri adalah aktifitas menggosok-gosokkan kelamin sendiri untuk mendapatkan kepuasan seksual. 
 
Dahulu kala, saat berbicara tentang seksualitas menjadi sesuatu hal yang sangat ditabukan, membicarakan tentang masturbasi pada akhirnya juga sering kali dianggap negatif, malu dan cenderung tidak diakui. Tanpa harus menutup mata, sesungguhnya masturbasi sudah sangat umum dilakukan oleh anak muda. Baik pada laki-laki maupun perempuan. 
 
Laki-laki hampir keseluruhan pernah melakukannya, sedangkan pada perempuan masih dalam jumlah lebih sedikit dibanding laki-laki, misalnya dengan meraba kelamin, menggesek-gesekkan kelamin dengan benda tertentu atau memasukkan benda tertentu ke dalam vagina misalnya. Di jaman yang semakin terbuka, di mana saatnya semua itu bisa didiskusikan dengan ilmiah dan masuk akal, membicarakan seks dengan cara yang lebih terbuka, asalkan dengan orang yang tepat, misalnya anak dengan orang tua, atau berbicara dengan dokter yang paham kesehatan seksual, seharusnya tidak lagi dipandang sebagai sebuah tabu. 
 
 
Karena aktivitas masturbasi sebenarnya bukanlah sebuah dosa dan berefek buruk, karena secara medis tidak ada akibat buruk yang ditimbulkannya selama tidak menggunakan alat bantu yang kotor dan dilakukan terlalu sering. Menggunakan alat bantu yang kotor, atau bisa juga jika tangan masih dalam keadaan kotor, dapat mengakibatkan infeksi, sementara jika dilakukan sering kali dan berlebihan, terutama di usia yang masih muda, akan berpotensi mengakibatkan ketergantungan.
 
Lalu, bagaimana cara menjelaskan hal ini pada si remaja ABG? Apa yang dilakukan oleh Ibu Sagung yang menanyakan hal ini sudah benar, tinggal coba lebih tenang dan jangan panik berlebihan. Yang terjadi, secara biologis sebenarnya memang sudah memungkinkan dan tidak salah, tinggal bagaimana bisa berkomunikasi yang baik dengan anak, agar anak dan orang tua tetap bisa nyaman selama anak ada dalam masa barunya dengan berbagai macam perubahan, tumbuh dan berkembang sebagai remaja. 
 
[pilihan-redaksi2]
Semuanya ini adalah tentang perubahan di masa pubertas. Baik sekali jika orang tua sanggup berdiskusi dan menyempatkan diri bertanya tentang hal ini, untuk kemudian menjadi pendengar yang baik tentang apa yang saat ini sedang dilalui si anak. Pastikan kemudian memberitahukan pada akhirnya dua hal tadi. 
 
Pertama, meminta anak agar tidak terpaku dan terlalu sering melakukan aktivitas masturbasi untuk kemudian mengelola waktu luang masa remaja yang ada dengan ingat pelajaran di sekolah, pekerjaan rumah dan ekstrakurikuler yang disenangi. Dukung selalu si anak untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan hobi dan hal lain yang lebih bermanfaat, tentu saja yang disenangi agar tidak banyak waktu kosong terbuang percuma, yang kemudian malah memberinya kesempatan lebih banyak untuk berpikir dan berfantasi seksual yang kemudian mendorongnya melakukan masturbasi. 
 
Kedua, berikan informasi, jika masturbasi tetap dilakukan, hendaknya jangan menggunakan tangan dan alat yang kotor atau yang bisa mengakibatkan perlukaan. Semoga penjelasan ini bisa membantu. Terima kasih. (bbn/dr. Oka Negara,FIAS /rob)

Reporter: bbn/oka



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami