jakarta

Samad Terancam Dipecat, Hasto Terancam Pidana

Jumat, 13 Maret 2015 | 00:00 WITA

Samad Terancam Dipecat, Hasto Terancam Pidana

bbn/inilahcom

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Jakarta. Abraham Samad terancam dipecat dari jabatan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) jika terbukti melakukan manuver politik saat penjaringan calon wakil presiden Jokowi di Pilpres 2014.

Sebab, Samad telah melakukan pelanggaran kode etik sebagai aparat penegak hukum yang masuk ke ranah politik.

Anggota Komisi III DPR sebagai mitra kerja KPK, Arsul Sani mengatakan, jika Samad terbukti melakukan manuver politik, maka tindakan tersebut telah merusak citra KPK sebagai institusi penegak hukum. Maka, sanksinya adalah pemecatan.

"Ada wacana membentuk Pansus mengenai itu. Pelanggaran KPK, sanksi berat pemberhentian," kata Arsul, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (22/1/2015).

Jika Samad terancam dipecat sebagai Ketua KPK, tidak demikian dengan pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP, Hasto Kristiyanto yang mengungkap manuver politik Samad. Hasto akan terancam hukuman pidana jika tidak dapat membuktikan pernyataannya soal pertemuan Samad dengan petinggi PDIP.

Ketua Komisi III DPR, Aziz Syamsuddin mengatakan, jika Hasto tidak dapat membuktikan terkait manuver politik Samad, maka akan terancam pidana dengan pasal pencemaran nama baik.

"Apa mungkin seorang Hasto mau katakan itu tanpa bukti, ibaratnya orang mimpi pasti harus tidur dulu. Asumsi saya saat sampaikan itu sudah didukung alat bukti. Kalau tidak itu pencemaran nama baik, pasal 335 KUHP," kata Aziz, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (22/1/2015).

Namun, kata Aziz, kemungkinan Hasto telah mengantongi lebih dari dua alat bukti terkait pertemuan Samad dengan petinggi PDIP saat penjaringan calon wakil presiden Jokowi jelang Pilpres 2014. Menurutnya, jika dua alat bukti itu ada, maka komite etik harus memeriksa Samad.

"Saudara Hasto bisa membuktikan, rekaman pembicaraan audio, bisa visual, ditambah lagi saksi. Kalau melebhi dua alat bukti maka komite etik tidak ada alasan untuk lakukan pemeriksaan etika. Pemeriksaannya seperti apa, itu kewenangan komite etik," tegas Aziz.

Sebelumnya, Hasto Kristiyanto siap membuktikan apa yang diungkapkannya tidaklah bohong. Pertemuan Samad dengan PDIP terjadi saat Jokowi mencari cawapres dalam Pemilu 2014. Pertemuan digelar lebih dari lima kali.

Hasto dan mantan Kepala BIN Hendropriyono siap bersaksi di depan Komite Etik KPK. Samad memang ingin menjadi cawapres Jokowi.

Hasto membeberkan ada pertemuan-pertemuan rahasia Samad dengan petinggi partai PDIP. Hal ini dilakukan sebelum pemilihan umum presiden. Dia bahkan menuding Samad mendusta jika tak mau mengakui pertemuan itu.

"Kepada bapak Abraham Samad yang memimpin institusi begitu besar dan dipercaya publik, kami harapkan berani mengakui pertemuan yang banyak dilakukan sekurang-kurangnya dengan para petinggi kedua partai PDIP dan Partai NasDem," kata Hasto dalam jumpa pers di Jalan Cemara, Menteng, Kamis (22/1) siang.

Hasto ngotot kabar pertemuan itu benar. Dia pun mendorong agar Samad mau berterus terang kepada publik. "Kami menyatakan berita tertulis dalam 'Rumah Kaca' tersebut benar adanya. Dengan demikian pernyataan yang disampaikan bapak Abraham Samad itu fitnah sangat tidak tepat," ujar Hasto.

Sementara, tudingan Hasto Kristiyanto soal beberapa pertemuan Ketua KPK Abraham Samad dengan Elite PDIP dibantah KPK.

Menurut Deputi Pencegahan KPK, Johan Budi dalam jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (22/1/2015), setelah adanya kabar terkait sejumlah pertemuan dengan petinggi PDI-P, struktural di KPK langsung melakukan rapat.

Disana, kata Johan, pihak struktural KPK menanyakan pada Samad soal kebenaran sejumlah pertemuan itu. Menurut Johan, dalam penjelasannya Samad membantah dengan keras pertanyaan dari pihak PDI-P.

"Dari keterangan yang disampaikan Pak Abraham Samad mengenai sejumlah pertemuan dengan beberapa pihak yang diindikasikan berkaitan dengan pencalonan pak Abraham sebagai Wapres waktu itu. Penjelasannya bahwa semua yang disampaikan adalah fitnah belaka," kata Johan. [bbn/inilahcom]


Jumat, 13 Maret 2015 | 00:00 WITA


TAGS:



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: