jakarta

Samad Dinilai Seret Militer ke Konflik KPK-Polri

Jumat, 13 Maret 2015 | 00:00 WITA

Samad Dinilai Seret Militer ke Konflik KPK-Polri

bbn/inilah

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Jakarta. Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Universitas Padjadjaran Muradi menilai permintaan langsung Ketua KPK Abraham Samad ke Panglima TNI Jenderal Moeldoko bagian dari upaya melibatkan TNI dalam konflik KPK-Polri.

Samad meminta Jenderal Moeldoko untuk mengamankan kantor KPK dari kemungkinan ancaman penggeledahan yang dilakukan oleh penyidik paska-penangkapan dan penetapan tersangka Bambang Widjajanto oleh Polri

"Ada empat indikasi atas apa yang dilakukan Samad tersebut. Pertama, bentuk inferioritas yang berlebihan dari kemungkinan ancaman bersenjata dari institusi sipil bersenjata, yakni Polri," ujar Muradi kepada wartawan, Minggu (25/1/2015).

Paradigmatik superioritas sipil atas militer paska transisi demokrasi yang panjang ini menjadi terkoreksi karena upaya mengajak dan melibatkan TNI pada konflik antara KPK-Polri yang ranahnya lebih bernuansa penegakan hukum.

Indikasi kedua, kata dia, penegasan Presiden Jokowi agar penyelesaian masalah antara KPK dan Polri tetap dalam kerangka penegakan hukum.

"Langkah untuk meminta pengamanan oleh TNI berpotensi untuk memperluas konflik tidak hanya KPK dan Polri dan menegasikan apa yang menjadi kebijakan Presiden," kata Muradi.

Ketiga, lanjut Muradi, langkah untuk meminta pengamanan TNI oleh pimpinan KPK juga dapat diartikan sebagai bagian ketidakpercayaan antar institusi yabg terlibat dalam konflik tersebut. Padahal, kata dia, pada konteks pemberantasan korupsi, kerja sama antar KPK dan Polri berkorelasi dengan menguatnya kerja sama antar institusi tersebut.

"Keempat, turunan dari ketidakpercayaan antar institusi tersebut berkorelasi pada tidak efektifnya masing-masing fungsi dan membuat penegakan hukum dan pemberantasan korupsi menjadi tidak efektif. Dan pelibatan pengamanan Oleh TNI mengarah pada situasi politik yang tidak kondusif," ujarnya.

Dengan berkaca pada situasi tersebut, kata Muradi, maka akan lebih baik agar KPK dan Polri, sebagaimana penegasan Presiden Jokowi untuk fokus pada penyelesaian permasalahan keduanya hanya pada penegakan hukum.

"Sebab langkah melibatkan institusi lain dalam konteks tersebut, tidak hanya mengarah keinginan untuk menyelesaikan masalah, namun lebih banyak mengarah pada keinginan untuk saling menjatuhkan, dan tidak bervisi pada upaya untuk memperkuat kondusifitas keindonesiaan," pungkasnya. [bbn/inilah] 


Jumat, 13 Maret 2015 | 00:00 WITA


TAGS:



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: