denpasar

Nyepi Siaran dan Kesadaran Konservasi Energi Lembaga Penyiaran

Jumat, 13 Maret 2015 | 00:00 WITA

Nyepi Siaran dan Kesadaran Konservasi Energi Lembaga Penyiaran

bbn/net/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Penghentian siaran atau Nyepi siaran oleh lembaga penyiaran di Bali pada tahun ini memasuki tahun ke-5.  Nyepi siaran bukan saja sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai agama dan kearifan lokal masyarakat Bali. 

Komitmen bersama penghentian siaran selama satu hari penuh juga merupakan bentuk kepedulian atas upaya penghematan penggunaan energi atau konservasi energi.  “Komitmen bersama satu hari tidak bersiaran saat Nyepi menjadi sebuah contoh bahwa industri penyiaran juga mampu mewujudkan sebuah industri yang berkelanjutan dan ramah lingkungan,” kata Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali Anak Agung Rai Sahadewa dalam keteranganya di Denpasar, Minggu, 8 Maret 2015.

Sahadewa menyampaikan komitmen ini menjadi bukti bahwa lembaga di Bali tidak hanya menyuarakan konsep Tri Hita Karana, tetapi juga terlibat dalam mengimplementasikan konsep tersebut dalam berbisnis di Bali. 

Pertama, dalam hubungan kepada Tuhan, lembaga penyiaran telah mampu menempatkan nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam berbisnis. Hal ini tentu sejalan dengan implementasi Undang-Undang no. 32 tahun 2002 tentang penyiaran terutama pasal 5 poin b yang menyebutkan bahwa penyiaran diarahkan untuk menjaga dan meningkatkan moralitas dan nilai-nilai agama serta jati diri bangsa. 

Kedua, dalam hubunganya antar manusia, lembaga penyiaran telah memberikan penghormatan terhadap kearifan lokal masyarakat. Termasuk penghormatan terhadap hak pegawai atau karyawan untuk beristirahat. Ketiga, dalam hubunganya dengan lingkungan, lembaga penyiaran terlibat dalam pengurangan emisi gas buang yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan berdampak pada pemanasan global.

Sahadewa memaparkan mematikan operasional pemancar berarti tidak adanya penggunaan energi atau menghemat penggunaan energi. Dalam hal ini energy listrik dapat diibaratkan dengan api. Dengan tidak menghidupkan pemacar memiliki arti ikut serta melakukan amati geni (tidak menyalakan api). Nyepi siaran juga bermakna menghentikan seluruh kegiatan peralatan dan manusia. Dalam hal ini Nyepi siaran sejalan dengan pengertian amti karya atau tidak melakukan pekerjaan. 

Dengan Nyepi siaran berarti seluruh karyawan lembaga penyiaran tidak pergi kekantor atau tidak bepergian (amati lelungan). Sedangkan dalam Undang-Undang nomor 32 tahun 2002 pasal 4 ayat (1) disebutkan “penyiaran sebagai kegiatan komunikasi massa mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat dan perekat sosial”. “Tentunya siaran di saat Nyepi bertentangan dengan konsep Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang/menikmati hiburan)” ujar Sahadewa.

Sahadewa menyebutkan saat Nyepi siaran terjadi penghematan energy listrik yang cukup besar dilakukan oleh lembaga penyiaran. Secara umum stasiun pemancar televisi di Bali menggunakan daya listrik sebesar 10 Kilowatt hingga 40 Kilowatt. Jika rata- rata diambil 20 Kilowatt dengan jumlah sasiun pemancar televisi di Bali sebanyak 20 lembaga penyiaran maka daya listrik yang terpakai mencapai 400 Kilowatt. 

Berikutnya di Bali terdapat 54 lembaga penyiaran radio swasta dan publik yang menggunakan daya pancar sekitar 500 watt hingga 2000 watt. Jika menggunakan asumsi rata-rata daya pancar radio di Bali 1000 watt, maka daya listrik yang digunakan lembaga penyiaran radio di Bali sebesar 54.000 watt (54 Kilowatt). Mari lihat secara umum kemudian jika lembaga penyiaran TV dan radio tersebut bersiaran selama 18 jam sehari. 

Walaupun terdapat radio dan TV yang bersiaran selama 20-24 jam dalam satu hari. Selain itu di Bali terdapat 3 radio komunitas dengan penggunaan daya listrik maksimal 50 watt. Radio komunitas tersebut secara aturan hanya bersiaran sekitar 10 jam. Tentunya energy listrik yang digunakan lembaga penyiaran cukup besar. 

Penghitungan ini baru penggunaan energy listrik untuk stasiun pemancar, belum termasuk penggunaan energy listrik untuk keperluan perkantoran. Jumlah energy listrik untuk keperluan operasional kantor lembaga penyiaran tentunya tidak sedikit. 

“Selain untuk pemancar lembaga penyiaran memerlukan penggunaan listrik untuk lampu studio, AC, komputer dan peralatan lainnya,” kata Sahadewa.

Sahadewa menambahkan Nyepi Siaran tidak saja berarti penghematan energy dilakukan oleh lembaga penyiaran tetapi juga oleh penonton dan pendengar. Dapat dibayangkan di Bali terdapat lebih dari 1 juta kepala keluarga. Jika dalam satu rumah diumpamakan terdapat 2 buah TV dengan daya rata-rata 150 watt yang menyala selama 4-5 jam perhari, maka jumlah energy listrik yang mampu dihemat saat Nyepi siaran cukup lumayan besar. 

Belum lagi saat Nyepi siaran, lembaga penyiaran TV berlangganan juga menghentikan siaranya untuk wilayah Bali. Dimana sebagian besar pelanggan TV berlangganan di Bali adalah hotel. Dimana setiap kamar hotel di Bali rata-rata memiliki fasilitas hiburan dari TV berlangganan. Sementara pada 2012 Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali memprediksikan jumlah akomodasi wisata di Bali baik hotel, villa, pondok wisata hingga penginapan mencapai 90.000 kamar (beritabali.com). Dapat dibayangkan jika seluruh kamar hotel mematikan pesawat televisi selama satu hari penuh. Tentu energy listrik yang mampu dihemat cukup besar.

Kepala Stasiun SCTV Denpasar Kadek Suartana menyatakan tetap memegang komitmen untuk tidak bersiaran saat pelaksanaan Nyepi di Bali. Menurutnya, Nyepi siaran tidak saja untuk menghormati umat Hindu di Bali tetapi juga menjaga peralatan. Manfaat lainnya adalah pengurangan penggunaan listrik. Mengingat selama ini stasiun pemancar SCTV Denpasar yang berlokasi di Bukit Jimbaran menggunakan daya listrik sebesar 40 megawatt. Dengan daya sebesar itu, SCTV Denpasar harus menanggung beban biaya listrik sekitar Rp. 90 juta perbulan. “ itu biaya yang cukup besar, belum lagi penggunaan listrik untuk operasional kantor” kata Kadek Suartana.

Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Bali Ngurah Sudiana menyambut positif keterlibatan lembaga penyiaran di Bali dalam pelaksanaan Nyepi. Apalagi telah terdapat kesepakatan bersama dengan seluruh komponen di Bali dan Forum Umat Beragama di Bali (FKUB) guna mewujudkan kekhusukan pelaksanaan Nyepi. Salah satunya adalah kesepakatan untuk tidak membuyikan suara-suara yang dapat mengganggu pelaksanaan Nyepi. “Kami mengharapkan seluruh komponen menjaga kondusivitas, agar apa yang menjadi syarat pelaksanaan Nyepi dapat terpenuhi” ujar Ngurah Sudiana.

Learning Sites Manager Coral Trianggle Centre (CTC) Marthen Willy menyampaikan konsep Nyepi pada dasarnya telah diadopsi dalam bentuk kegiatan World Silent Day (WSD) atau Hari Hening Sedunia. Melalui WSD pada dasarnya konsep Nyepi dari segi upaya penyelamatan lingkungan diharapkan dapat dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Sedangkan konsep Nyepi secara spiritual tentu hanya masyarakat Hindu Bali yang mampu melakukanya. Apalagi selama ini Nyepi telah memberikan kontribusi bagi pengurangan emisi. “Akan menarik dari perspektif lingkungan jika bisa dihitung penghematan listrik, bahan bakar, dan pengurangan emisi pada saat Nyepi” kata  Marthen Willy

Dalam upaya penanggulangan terhadap perubahan iklim Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26% dengan usaha sendiri dan mencapai 41% jika mendapat bantuan internasional pada tahun 2020. Guna merealisasikan target tersebut tentunya perlu keterlibatan semua pihak untuk mewujudkanya. Nyepi merupakan salah satu aksi nyata dalam upaya penyelamatan lingkungan. Konsep Nyepi memiliki nilai-nilai positif dalam upaya penyelamatan alam, kebersihan udara dan pengendalian pencemaran lingkungan. Berdasarkan hasil pemantauan Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim menunjukkan Nyepi mampu mengurangi emisi dari sektor transportasi laut dan udara mencapai 20.000 ton.[bbn/muliartha]


Jumat, 13 Maret 2015 | 00:00 WITA


TAGS:



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: