Peluncuran Buku Puisi, Klungkung: Tanah Tua, Tanah Cinta

Jumat, 28 Oktober 2016 | 07:05 WITA

Peluncuran Buku Puisi, Klungkung: Tanah Tua, Tanah Cinta

bbn/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Klungkung. Untuk merayakan 88 Tahun Sumpah Pemuda, Museum Nyoman Gunarsa menggelar peluncuran buku kumpulan puisi “Klungkung: Tanah Tua, Tanah Cinta”. Buku yang diterbitkan oleh Yayasan Museum Nyoman Gunarsa itu merangkum puisi-puisi para penyair dari berbagai daerah di Indonesia, dari Sumatera hingga Papua.
 
Acara peluncuran digelar di Museum Nyoman Gunarsa, Takmung, Klungkung, pada Jumat 28 Oktober 2016, jam 17.00 wita-selesai. Acara tersebut dimeriahkan dengan pembacaan puisi dari penyair yang karyanya termaktub dalam buku. Selain itu, juga ditampilkan pementasan musikalisasi puisi dan berbagai pertunjukan seni lainnya. 
 
Selain penyair dari Bali, beberapa penyair luar Bali menyatakan kesediaannya untuk hadir dalam acara tersebut, di antara Isbedy Stiawan ZS (Lampung), Fanny J. Poyk (Jakarta), Suryadi Arfa (Madura), Bambang Eka Prasetya (Magelang), Ika Permata Hati (Temanggung), Na Dhien (Jakarta). Adhenar Dhirham (Yogyakarta), Sindu Putra (Lombok), Rusydi Zamzani (Jember). Bahkan, Sekretaris Jenderal MPR RI, Ma'ruf Cahyono, juga akan hadir mengapresiasi acara sastra tersebut.
 
Menurut ketua panitia, April Artison, kegiatan ini dirancang sejak bulan Mei lalu untuk merayakan 88 tahun Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober 2016. Teks Sumpah Pemuda sejatinya adalah sebuah puisi yang menyemai semangat nasionalisme, kemudian melahirkan negara dan bangsa Indonesia. “Karena itulah, kami merayakannya dengan puisi,” ujar April.
 
Lebih lanjut, April menjelaskan, Klungkung dipilih sebagai tema besar dalam buku antologi puisi tersebut dimaksudkan untuk mengingatkan bahwa wilayah terpencil di Bali tersebut memiliki sejarah peradaban sangat panjang yang diwarisi hingga kini. Sebutlah misalnya Puri Agung Klungkung, Kerthagosa, seni lukis wayang Kamasan, Pura Goa Lawah, Kusamba, kampung muslim Gelgel, dan banyak lagi. 
 
“Meski data-data perihal Klungkung bisa dicari di berbagai sumber (terutama internet), bagi kami, puisi adalah cara berkomunikasi yang paling intim untuk menyuarakan Klungkung,” kata April.
 
April mengatakan sangat bangga dengan kegiatan sastra berskala nasional yang baru pertama kali digelar di Klungkung ini. Sambutan para peserta sangat luar biasa. Panitia menerima sekitar 450-an puisi dari 240-an peserta dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada yang mengirim dari Malaysia, Thailand, Hongkong, dan Singapura. Puisi-puisi tersebut kemudian dikurasi menjadi 100 puisi oleh tiga kurator, yakni penyair Gde Artawan, Dewa Putu Sahadewa, dan Wayan Jengki Sunarta. 
 
“Kami mengucapkan terima kasih kepada para peserta yang telah bersedia mengikuti kegiatan ini. Juga kepada para kurator yang telah bekerja keras menyaring puisi-puisi tersebut,” ujar April.
 
April berharap Klungkung: Tanah Tua, Tanah Cinta bisa ikut meramaikan khazanah perpuisian di Indonesia. “Kami mohon maap bila buku ini belum mampu memuaskan semua pihak. Namun, kami akan terus melakukan yang terbaik untuk kemajuan peradaban lewat kegiatan-kegiatan kesusastraan,” tutur April.
 
Pendiri museum, perupa Nyoman Gunarsa, mengatakan buku puisi ini adalah salah satu tuangan proses kreativitas yang sangat mengena untuk Klungkung. Apalagi mengingat posisi Klungkung yang pada masa kerajaan adalah pusat pemerintahan Bali. Hal ini tentu membuat Klungkung tumbuh sebagai pusat seni budaya dan sastra. 
 
Peristiwa puputan Klungkung dan masuknya kolonialisme membuat Klungkung terpuruk sebelum kemerdekaan RI. Dan, yang lebih miris lagi, dalam perjalanannya Klungkung pernah mengalami degradasi budaya seiring proses modernisasi. Hal itu menyebabkan banyak khazanah seni budaya di Klungkung belum tergali.
 
Gunarsa berharap kehadiran buku ini dapat memberi wawasan baru bagi Klungkung. Sebab, penyair yang terlibat dalam buku ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia, yang membuat bobot buku ini sangat luar biasa. Selain itu, buku ini diharapkan mampu menentukan posisi Klungkung secara nasional. Sebab, selama ini Klungkung hanya sebagai daerah atau kabupaten yang tidak pernah terdengar. 
 
“Semoga dengan kehadiran buku ini, Klungkung lebih dikenal secara luas dengan sejarahnya yang panjang dan berbagai keunikan seni budayanya. Semoga buku ini mampu menjadi sumber inspirasi dan membawa kemajuan bagi kita semua,” ujarnya.[bbn/rls/psk]
 
 
 


Jumat, 28 Oktober 2016 | 07:05 WITA


TAGS: klungkung



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: