Wagub Sudikerta Ingatkan TPID Bali Waspada Peningkatan Inflasi di Akhir Tahun

Rabu, 16 November 2016 | 15:53 WITA

Wagub Sudikerta Ingatkan TPID Bali Waspada Peningkatan Inflasi di Akhir Tahun

Sudikerta memberikan arahan dalam rapat koordinasi High Level Meeting TPID Provinsi Bali di Ruang Rapat Graha Tirta Empul, Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Denpasar, Rabu (16/11). [source: istimewa]

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com - Denpasar.  Jelang puncak kedatangan wisatawan (peak season) akhir tahun 2016 permintaan komoditi dan kebutuhan pokok diperkirakan akan meningkat, sehingga hal ini akan menyebabkan tingginya ketergantungan pasokan dari luar Bali. 
 
Menyikapi kemungkinan ini, anggota Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Bali  diharapkan segera menentukan langkah-langkah dalam upaya untuk menekan dan mengendalikan laju peningkatan inflasi di Bali. Demikian disampaikan Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta yang juga merupakan Ketua TPID Provinsi Bali dalam arahannya saat saat memimpin rapat koordinasi High Level Meeting TPID Provinsi Bali di Ruang Rapat Graha Tirta Empul, Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Denpasar, Rabu (16/11).
 
Menurut Sudikerta diperlukan langkah-langkah agar tidak terjadi fluktuasi harga yang dikhawatirkan akan menyebabkan tingginya inflasi. Ia juga meminta untuk menjaga ketersediaan stok komoditi  disamping juga distribusi komoditi  yang harus dipastikan berjalan lancar. 
 
Lebih lanjut, Sudikerta  meminta para anggota TPID untuk selalu melakukan koordinasi dan sinergitas dari pihak terkait  salah satunya dengan melakukan upaya-upaya yang terstruktur dengan implementasi yang jelas seperti melakukan monitoring, sidak pasar, operasi pasar, dan pemantauan stok ketahanan pangan. Kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan untuk selalu dilaksanakan dalam upaya menjaga stabilitas dan ekspektasi harga komoditas yang ada di Bali.  
 
Sudikerta juga menyadari langkah-langkah tersebut tidak akan ada gunanya jika tidak didukung dengan adanya anggaran yang memadai. Oleh karena itu, diharapkan masing -masing pihak terkait untuk segera menyampaikan kepada Pemerintah Daerah, Kabupaten atau Kota masing – masing agar dapat  dialokasikan anggaran untuk mendukung stabilisasi harga. 
 
Tak kalah pentingnya menurut Sudikerta  adalah melibatkan aparat keamanan dalam upaya menghindari para produsen nakal yang melakukan penumpukan barang, serta terus melakukan rapat koordinasi antar TPID Kabupaten/Kota dengan provinsi, dalam merumuskan berbagai upaya, sehingga tingkat inflasi bisa ditekan.
 
Sementara itu Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Bali, Causa Imam Karana, menyatakan bahwa untuk bulan Oktober 2016, Bali justru mengalami deflasi sebesar 0,21%. 
 
Menurutnya angka tersebut bisa dibilang cukup aman, namun jelang akhir tahun, inflasi tersebut bisa meningkat drastis sebagai akibat adanya hari besar dan liburan yang menyebabkan banyaknya wisatawan yang akan masuk ke Bali dan akan berpengaruh pada kebutuhan komiditas baik itu pangan dan sandang. 
 
Namun walaupun demikian, Ia masih tetap optimis inflasi di Bali bisa lebih baik dari tahun 2015 yakni sebesar 2,75%. Lebih lanjut Ia menyampaikan, wilayah penyumbang inflasi terbesar di Bali masih dipegang oleh dua kabupaten yakni Kabupten Buleleng dan Kota Denpasar. 
 
Untuk bulan Oktober 2016, Kabupaten Buleleng mengalami inflasi sebesar -0,32(deflasi) sementara untuk Kota Denpasar sebesar -0,19(deflasi). Kemudian, komoditi bahan pangan masih menjadi penyumbang terbesar inflasi yang terjadi di Bali seperti misalnya daging ayam ras, bawang merah, dan cabai rawit serta cabai merah.
 
Dalam rapat tersebut juga turut hadir Kepala BPS Provinsi Bali Adi Nugroho, Sekretaris Daerah Kota Denpasar yang juga sekaligus sebagai Ketua TPID Kota Denpasar A A Rai Iswara. [wrt]


Rabu, 16 November 2016 | 15:53 WITA


TAGS: inflasi akhirtahun



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: