Bagaimana Wajah Transportasi Bali 10 Tahun Mendatang?

Selasa, 22 November 2016 | 15:57 WITA

Bagaimana Wajah Transportasi Bali 10 Tahun Mendatang?

Seharusnya Bali fokus pada tatanan kotanya, salah satu nya pada sektor transportasi. [source: istimewa]

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com - Denpasar. Bali dikenal sebagai pulau dewata yang sering disebut-sebut dengan pulau seribu pura. Tidak asing lagi mengapa Bali sering dikunjungi wisatawan baik asing maupun domestik. Dengan nilai jual yang dimiliki seperti nilai Panorama, budaya, adat dan agamanya Bali mampu membuat wisatawan tidak hanya berlibur saja, melainkan bertempat tinggal bahkan sampai berinvestasi. Pengaruh wisatawan tentu saja sangat signifikan berpengaruh terhadap perkembangan sektor ekonomi di Bali.

Memiliki luas wilayah 5.636,66 Km² hanya 0,29 % dari luas kepulauan Indonesia, seharusnya Bali fokus pada tatanan kotanya, salah satu nya pada sektor transportasi. Masalah yang pada umumnya terjadi adalah kemacetan dan kecelakaan. 
 
Dilihat dari jumlah kendaraan bermotor saat ini Bali memiliki jumlah kendaraan sebanyak 3.505.984 di Tahun 2015. Dari tahun 2012-2014 rata-rata kenaikan kepemilikan kendaraan bermotor sebesar 7.5 % per tahun.
 
Bila di prediksi jumlah pada tahun 2026 jumlah kendaraan di Bali akan sebanyak 6.135.472 bilamana tidak ada penanganan yang optimal. 
 
“Bagaimana menurut anda wajah Bali 10 tahun mendatang?”
 
Bisa kita bayangkan sendiri, pastinya dalam menuju tempat tujuan akan membutuhkan waktu tempuh yang cukup lama. Belum lagi diimbangi dengan kegiatan upacara adat yang salah satu proses nya turut  menggunakan akses jalan kendaraan bermotor. Bisa jadi kemacetan di Bali melebihi Kota-kota besar di Indonesia, salah satunya seperti Jakarta.
 
Seluruh Pemerintah Bali seharusnya tanggap, bahwasanya keberhasilan satu kabupaten dan kota saja tidak akan cukup untuk dapat menghadapi permasalahan transportasi di Bali. Saat ini Pemerintah Bali mulai mencoba memecahkan permasalahan kemacetan yang terjadi yaitu menggunakan sistem bus transit (BRT) yang dikenal dengan Trans Sarbagita. Mengapa hingga saat ini Trans Sarbagita belum dapat menuntaskan kemacetan yang ada?  
 
Kenyataannya, bagaimana bisa menuntaskan bilamana hanya dua koridor yang beroperasi, tidak serta merta dapat menyalahkan pihak pelaksana saat ini. Melainkan pihak pelaksana perlu dukungan serta rangkulan oleh semua Kabupaten dan Kota  untuk perkembangan rute yang akan dilalui, agar optimal dalam menuntaskan kemacetan di Bali. 
 
Saya selaku generasi muda Bali sekaligus sebagai pengamat Transportasi Bali menginginkan sistem transportasi Sarbagita menjadi sistem transportasi yang “TAMAN” (Terpadu, Aman, dan Nyaman). Sebagai transportasi yang tidak hanya melayani masyarakat bertempat tinggal di Bali saja melainkan untuk wisatawan yang berkunjung ke Bali. 
 
Mengingat semakin bertambahnya jumlah kendaraan setiap tahunnya di Bali dan akan berdampak kemacetan yang luar biasa 10 tahun kedepan.
 
Catatan : 
Masyarakat Bali seharusnya cemas dengan zona nyaman yang dirasakan saat ini. Dilihat dari kondisi sekarang memang benar Bali masih memiliki status. ”Mengantisipasi” belum “mengatasi” dalam tingkat permasalahan transportasi. Namun harus ada upaya yang optimal baik dari pemerintah serta masyarakatnya.
 
Ditulis Oleh I Putu Putra Jaya Wardana.SE.MsTr
Alumni Magister Transportasi Institut Teknologi Bandung
 


Selasa, 22 November 2016 | 15:57 WITA


TAGS: transportasi bali



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: