Sambut Hari Guru

Beratnya Perjuangan Masuk Sekolah Guru di Bali Tempo Dulu

Jumat, 25 November 2016 | 09:05 WITA

Beratnya Perjuangan Masuk Sekolah Guru di Bali Tempo Dulu

Nyoman Sirna/beritabali.com (repro)

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM    Males Baca?

Beritabali.com, Denpasar. 25 November diperingati sebagai Hari Guru di Indonesia. Untuk menyambut Hari Guru dan penghormatan terhadap jasa para guru, beritabali.com mengajak pembaca untuk melihat perjuangan menjadi seorang guru di Bali tahun 1940-an.
 
Sejarah perjuangan menjadi seorang guru ini, berdasar kisah seorang pendidik asal Jembrana Bali, yang ditulis dalam buku biografi "Sang Guru, Sebuah Memoar Tentang Perjuangan dan Pengabdian, Drs I Nyoman Sirna MPH", yang ditulis Indrawati Muninjaya
 
Sang Guru, Nyoman Sirna, lahir pada 25 Juni 1925 di Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Jembrana,Bali.
 
Pada tahun 1941 saat berunur 16 tahun, Nyoman tamat Vervolgschool (setara SD saat ini). Nyoman ingin melanjutkan ke sekolah pendidikan guru.
 
Satu-satunya Sekolah Guru di Bali waktu itu ada di Klungkung. Tapi bagi yang ingin masuk di sana harus menjalani tes di Kota Singaraja.
 
Setelah bertanya kepada sejumlah tetangga, Nyoman memutuskan untuk naik bus ke Kota Singaraja. Pada masa itu, seluruh perjalanan antar kota di Bali dilayani satu bus yakni bus SB (Sing Bie). Bus ini lewat setiap hari di Desa Penyaringan.
 
Pagi-pagi sekali, Nyoman sudah berdiri di pinggir jalan menunggu bus SB. Di sampingnya ada sang kepala sekolah, Ketut Putera. Kepala Sekolah Nyoman akan menjelaskan kepada sopir bus tujuan kepergian Nyoman yang baru pertama kali bepergian jauh.
 
Bus yang ditunggu pun datang. Penumpangnya sudah penuh termasuk barang bawaan. Atas bus penuh dengan aneka jenis barang. Pak kepala sekolah bergegas menitipkan Nyoman Sirna kepada sopir bus.
 
Nyoman kemudian menyelinap di antara sesaknya penumpang dan mengambil tempat duduk bagian depan. Sepanjang jalan, Nyoman asyik memperhatikan pemandangan kiri kanan bus yang terus melaju.
 
Di terminal Antosari, Tabanan, Nyoman turun dan naik bus lain yang membawanya ke Singaraja lewat Pupuan.
 
Sore harinya Nyoman tiba di Singaraja. Nyoman kemudian menginap di rumah famili pak Kepala Sekolah Ketut Putera di Banjar Jawa. Keesokan harinya Nyoman Ikut tes masuk sekolah guru. Usai tes, Nyoman langsung balik ke Penyaringan dan menunggu hasil tes.
 
Beberapa hari kemudian, Nyoman mendatangi rumah Pak Ketut Putera kepala sekolahnya di Tegalcangkring untuk menanyakan hasil tes. Nyoman ternyata gagal pada tes kali ini. Namun Nyoman tak terlalu bersedih. Ia sudah tahu hasilnya bakal gagal. Saat tes, banyak soal tak bisa dijawabnya. Sebagian besar materi tes memang belum pernah diajarkan di sekolahnya di Jembrana. Nyoman bertekad akan mencoba lagi pada tes berikutnya.
 
Ikuti Tes ke 2
 
Pada pertengahan tahun 1942, Nyoman dan dua kawannya dari Jembrana bersiap ikut seleksi masuk sekolah guru di Singaraja. Saat itu tahun pertama pendudukan penjajah Jepang.
 
Saat itu tidak mudah bepergian jauh di Bali. Tak ada lagi bus SB di Bali. Banyak jalan kota terputus. Nyoman dan temannya akhirnya memutuskan naik sepeda dari Jembrana ke Buleleng lewat Pupuan.
 
Meski jaraknya jauh, Nyoman dan kawan-kawan menikmati perjalanan dengan riang. Saat jalanan menanjak, terutama pada rute Pekutatan sampai Dapdap Putih, Nyoman turun dari sepeda dan menuntunnya. Saat jalanan menurun seperti rute Pupuan Seririt, sepeda bisa melaju tanpa dikayuh.
 
Kondisi jalan dari Jembrana menuju Singaraja saat itu tidak begitu bagus. Banyak kerikil. Ban sepeda Nyoman sempat pecah di Singaraja. Untung ada tukang sepeda tak jauh dari jalan yang dilalui.
 
Seperti tahun sebelumnya, Nyoman kembali menginap di rumah famili pak Ketut Putera di Banjar Jawa. Keesokannya Nyoman mengikuti ujian dengan mulus dan mampu menjawab soal-soal ujian. Usai ujian, Nyoman kembali ke Penyaringan dengan sepeda dan tiba dengan selamat.
 
Seminggu kemudian, hasil tes diumumkan. Nyoman dan kawan-kawannya dinyatakan lulus masuk sekolah guru di Klungkung. Nyoman akhirnya mengikuti pendidikan Guru di Klungkung. Nyoman senang karena cita-cintanya menjadi guru akhirnya tercapai.  [rst/psk] 


Jumat, 25 November 2016 | 09:05 WITA


TAGS: hari guru bali




Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya:

 

HASIL SEMENTARA SIMULASI POLLING PEMILIHAN BAKAL CALON GUBERNUR BALI 2018
    • Dr. IGN Arya Wedakarna M Wedasteraputra Suyasa
    • Ni Putu Eka Wiryastuti, S.Sos
    • Dr.Ir. Wayan Koster, M.M.n.
    • I Gede Pasek Suardika, SH
    • Drs. Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga
    • Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, SE, M.Si
    • Drs. I Ketut Sudikerta
    • Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya S.IP
    • Total responden sampai saat ini: 1410