Jaga Kedamaian Bali, Masyarakat Dihimbau Kedepankan Konsep “Mulat Sarira”

Minggu, 27 November 2016 | 23:00 WITA

Jaga Kedamaian Bali, Masyarakat Dihimbau  Kedepankan Konsep “Mulat Sarira”

Sudikerta ajak masyarakat kedepankan konsepsi "mulat sarira". [source: istimewa]

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM    Males Baca?

Beritabali.com - Denpasar. Bali merupakan daerah pariwisata internasional dengan berbagai kemajemukan masyarakat yang telah tumbuh dan berkembang didalamnya. Untuk menjaga stabilitas pulau dewata masyarakat diminta secara bersama-sama bertanggung jawab dengan mengedepankan konsep mulat sarira atau sikap mawas diri sehingga kerukunan bermasyarakat bisa terjaga. 
 
Demikian himbauan Wakil Gubernur Bali dalam orasinya di Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS) di Lapangan Puputan Margarana, Niti Mandala, Denpasar pada Minggu (27/11) pagi.
 
Lebih lanjut, Sudikerta mengingatkan bahwa mulat sarira bukan sekedar konsep, dogma, atau doktrin agama tertentu, tapi sebuah ajakan bagi seluruh umat manusia, terlepas dari perbedaan latar belakang agama, status sosial, ras, ideologi politik dan ekonomi untuk kembali ke akarnya dan menemukan dirinya sendiri.
 
“Banyak orang lebih mudah melihat kesalahan orang lain dibandingkan melihat lebih dalam dirinya sendiri. Ketika hal ini kita sadari, banyak sekali rasanya kita melewatkan setiap detik yang berharga untuk sebuah introspeksi diri”, ujarnya.
 
Untuk itu, Ia menghimbau seluruh masyarakat ditengah kegaduhan situasi politik yang terjadi di luar Bali saat ini, masyarakat diminta tidak ikut campur kedalam hal tersebut, melainkan masyarakat diharapkan fokus terhadap situasi keamanan bali khususnya dalam membangun stabilitas ekonomi masyarakat Bali.
 
Di bagian lain Sudikerta juga menyampaikan segera rampungnya proyek penataan kawasan Civic Center, yang berada di sisi timur Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala, Denpasar. 
 
“Jika nanti sudah selesai penataan taman, tempat olah raga ini dapat dimanfaatkan oleh warga, dan tentu saja tidak hanya memanfaatkan namun warga harus menjaganya dengan baik. Jadi, masyarakat tidak hanya berfokus di lapangan utama (Lapangan Renon, red) semata, sehingga memberikan banyak pilihan bagi warga. Dengan adanya ini, masyarakat tidak perlu keluar negeri untuk liburan, sekarang di sini (Renon-red) bisa menjadi tujuan baru. gratis lagi,” ucapnya.
 
Orasi lain datang dari Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali Ida Penglisir Agung Putra Sukahat mengungkapkan keprihatinanya dengan situasi yang terjadi di Jakarta. Menurutnya, kerukunan bangsa saat ini sedang mengalami cobaan di mana keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sedang mendapat tantangan. 
 
Ia berharap, masyarakat tidak mudah terprovokasi dengan situasi yang terjadi saat ini, terlebih ikut-ikutan dalam aksi demo yang dilakukan tanpa memahami akar permasalahan yang ada. 
 
“Sistem demokrasi di Indonesia memang harus dijalankan, namun dalam menjalankan tersebut ada batasan-batasan yang harus kita patuhi. Oleh karena itu, saya harap masyarakat tetap menjaga sikap demokrasi yang baik dan bijak dalam melakukan orasinya tanpa mengedepankan sikap anarkis apalagi menyakiti orang lain”, tegasnya.
 
Ia juga mengajak seluruh tokoh-tokoh agama serta tokoh politik yang ada di Bali agar menjadi garda terdepan untuk merawat dan membina kurukunan umat terlebih dalam menjaga keutuhan dan kesatuan Pancasila, sehingga masyarajat dalam hidup berdampingan, rukun, dan damai. 
 
Selain itu, PB3AS kali ini juga diwarnai dari berbagai orasi  dari Wenten Ariawan yang menyampaikan bahwa Pulau Bali sudah mendeklarasikan untuk menjaga perdamaian, hal tersebut terlihat dengan dibangunnya Gong Permaiaan yang ada di Kertalangu-Denpasar.  
 
Untuk itu, Ia berharap, apapun masalah yang sedang dihadapi hendaknya dapat diselesaikan secara damai dengan mengedepankan sikap bermusyawarah.
 
Menurutnya, dalam sejarahnya bangsa Indonesia telah membuat suatu perjanjian yang luhur atau disebut Empat Pilar Kebangsaan yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945, keempat pilar tersebut merupakan harga mati dan harus dipertahankan dan dijaga dengan baik ditengah apapun masalah yang dihadapi bangsa Indonesia.
 
Selanjutnya, Orasi juga muncul dari Perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNUD, Buda yang menginformasikan masalah kesehatan kepada masyarakat. Ia menghimbau masyarakat agar mengkonsumsi buah 20-30 menit sebelum makan, karena buah-buahan mengandung gula, sehingga butuh banyak waktu untuk mencernanya. 
 
Jika kita makan buah-buahan segera sebelum atau setelah makan, maka akan membutuhkan waktu lama untuk dicerna, sehingga banyak nutrisi penting dari buah yang akan terbuang percuma. Oleh karena itu disarankan bahwa buah-buahan sebaiknya dimakan beberapa menit sebelum makan besar, maka buah akan memberikan semua jenis nutrisi yang didalamnya.
 
Ia berharap informasi kesehatan tersebut dapat diterima oleh masyarakat, karena masih banyak masyarakat yang keliru dengan metode makan buah sebelum atau sesudah makan besar. [rls/wrt]


Minggu, 27 November 2016 | 23:00 WITA


TAGS: mulatsarira orasi




Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya:

 

HASIL SEMENTARA SIMULASI POLLING PEMILIHAN BAKAL CALON GUBERNUR BALI 2018
    • Dr. IGN Arya Wedakarna M Wedasteraputra Suyasa
    • Ni Putu Eka Wiryastuti, S.Sos
    • Dr.Ir. Wayan Koster, M.M.n.
    • I Gede Pasek Suardika, SH
    • Drs. Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga
    • Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, SE, M.Si
    • Drs. I Ketut Sudikerta
    • Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya S.IP
    • Total responden sampai saat ini: 1409