Prostitusi di Bali Utara [4], Dari Goyang "Dakocan" Hingga Pijat Plus Panggilan

Sabtu, 29 Juli 2017 | 06:15 WITA

Prostitusi di Bali Utara [4], Dari Goyang "Dakocan" Hingga Pijat Plus Panggilan

bbn/ilustrasi

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Buleleng. "Dakocan" atau Dagang Kopi Cantik, memang sangat dikenal di Buleleng. Namun tidak semua Dakocan bisa diajak untuk "esek-esek". Biasanya Dakocan akan terlihat ‘liar’ ketika ada yang mengujungi warungnya. Bahkan eksekusi bisa dilakukan di belakang warung. Namun saat ini, biasanya kalau sudah deal, untuk "eksekusi" langsung dibawa ke penginapan.
 
“Dulu ya sih, kalau sudah okey bisa langsung di tempat, kalau sekarang takut, warganya galak-galak, nanti dibawa ke kantor desa, karena saya bukan warga dari sini,” ujar Dakocan dari Kawasan Buleleng bagian timur.
 
Tarif yang dikenakan pada warung Dakocan itu juga sangat bervariasi, termasuk harga makanan dan minuman yang dijual bisa dua kali lipat. Apalagi kalau ditambah dengan layanan plus-plusnya tentu tarif yang dikenakan juga berbeda.
 
Dalam perkembangan saat ini, Dakocan yang dulunya sebuah warung sederhana, juga mulai berubah hampir mengikuti layaknya seperti sebuah café. Itu terlihat di beberapa lokasi. Bahkan bila ada yang menginginkan perempuan di sana untuk diajak berkencan di luar atau dibawa ke penginapan, harus membayar dulu kepada ‘Sang Mami’ dengan waktu yang telah ditentukan.
 
“Kalau mau ngajak saya ke hotel harus ijin dulu sama mami, nanti mami yang mengaturnya, terus sebelum keluar juga harus menyerahkan uang dua ratus ribu untuk mami, nanti itu dibagi dua, mami dapat seratus,” cerita AN, salah satu dakocan di sebuah warung di selatan Kota Singaraja.
 
Sebagian besar warung dakocan saat ini justru memperkejakan perempuan-perempuan yang berasal dari luar buleleng. Sangat jarang ditemukan perempuan-perempuan yang asli dari buleleng, bahkan kemasan warung dakocan juga lebih ke bisnis 'esek-esek'.
 
Menjelajah dunia malam di Buleleng, ada beberapa café yang dengan cara-cara terselubung masih ‘menjajakan’ layanan plus-plus.
 
GB bersama KM, dua pemuda yang berasal dari Singaraja mengaku sering menjelejahi berbagai lokasi hiburan malam untuk berburu perempuan-perempuan muda yang bisa diajak kencan. Bahkan sekali kencan saja GB mengakui telah menyiapkan biaya secara khusus. 
 
“Ini dah, namanya mencari kesenangan ya biar sekalian tidak tanggung-tanggung keluar modal lumayanlah, untuk minum dan makan di café dan bermalam di hotel kalau nanti ada yang nyantol,” ujarnya kepada tim investigasi Klik Singaraja (Beritabali Network).
 
Berbeda dengan KM yang memiliki modal pas-pasan dan suka dengan perempuan pekerja café, biasanya KM akan nomgkrong di depan sebuah café cewek yang bisa dibooking. Sehingga usai bekerja langsung dibawa ke salah satu penginapan terdekat.
 
“Nggak banyak modal kok, lagian sudah ada yang beberapa dikenal, gampang saja, ngga perlu masuk ke café tunggu di luar. Habis itu pas pulang kerja tinggal ajak saja ke penginapan atau traktir makan dulu,” ungkap KM.
 
Berburu seperti KM memang ada untung ruginya. Ruginya bila si cewek telah mendapat bookingan tentunya tidak akan mendapat bagian. Dan untungnya bila tidak ada pengunjung ke café, bisa lebih awal menjemputnya. 
 
“Ya, ada untung dan rugi dong, tapi ndak apa-apa yang namanya usaha,” ujarnya singkat.
 
Dalam setiap transaksi terhadap perempuan yang dibookingnya, KM maupun GB biasanya melakukan transaksi terlebih dahulu sehingga ada kesepakatan. Biasanya GB maupun KM memberikan uang antara Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu dalam sekali transaksi. Dan lain lagi uang yang harus dikeluarkan bila untuk menginap.
 
“Tergantung deal saja, kalau memang mau paling mahal itu 500 ribu saja dan itu sudah pelayanan yang luar biasa diberikan, biasanya mereka itu sudah mematok harga antara 300 sampai 500 ribu untuk short time saja dan kalau bermalam, sampai pagi itu kadang bisa sejuta,” ujar GB.
 
Perkembangan komunikasi juga memudahkan orang untuk saling berhubung. Hal ini juga digunakan untuk memberikan layanan pijat plus-plus yang saat ini di Buleleng hanya dilakukan secara persorangan. Sehingga konsumen yang memerlukan kebugaran luar dan dalam, tinggal menelpon saja.
 
Promosi bisnis esek-esek dengan pijat plus-plus ini juga kerap muncul pada sejumlah pesan singkat yang dikirim dari nomor handphone +628191650xxxx dan +628786121xxxx, termasuk BBM dan media sosial lainnya.
 
“Khusus untuk Bapak-Bapak dan Om-Om Menawarkan layanan kebugaran panggilan yang siap melayani,  sebelum jam 21.00 wita, di mana saja dan kapan saja tinggal call saja dengan harga bervariasi dan layanan memuaskan,” demikian isi promo via SMS maupun BBM.
 
DW (25), salah satu perempuan yang bisa memberikan layanan pijat plus-plus itu mengaku dengan cara tersebut bisa memenuhi kebutuhannya selama ini dan tidak terikat dengan germo atau mami yang mengasuhnya lantaran kerja sendiri. 
 
“Modalnya juga tidak besar-besar amat, hanya dari pelanggan yang sudah merasakan pijet plus,” ujarnya tanpa malu.
 
Menurut DW, sensasi berbeda dirasakan sejumlah konsumennya saat diberikan pelayanan pijet plus-plus itu, bahkan dengan bekal yang didapatkan dari tempatnya bekerja di sebuah Spa di Denpasar, DW mampu memberikan pijatan yang sangat dirasakan pelangannya, termasuk memancing pelanggan dengan pijatan tangan hingga membuat ingin merasakan yang lebih dasyat.
 
“Ya, memang kalau sudah mulai panas kita harus deal dulu untuk bayarannya, setelah oke dan disanggupi, ya sudah saya berikan pelayanan plus-plusnya yang berbeda dengan pelayanan sebelumnya,” ujar DW sembari menyebutkan dari transaksi yang dilakukan hanya mematok harga 300 ribu rupiah.
 
Lain lagi cerita KD dan MH yang mengaku tinggal di Kawasan Wisata Lovina, keduanya mengaku memberikan layanan esek-esek dengan pijet plus-plus dari pengalaman yang dilakukan saat melakukan komunikasi melalui seks phone. Hingga kemudian keduanya langsung mempraktekannya.
 
“Seks phone saja laris, kenapa kita tidak langsung saja dan tinggalkan nomor HP untuk menghubungi kita, lumayan juga pelanggan yang ada, seminggu, biasanya saya dapat pesanan pijet plus dua atau tiga kali,” ungkap KD.
 
Tekhnik tersendiri juga dijalankan MH dalam melakukan transaksi melalui telephone, biasanya orang yang ingin dipijat menanyakan tarif yang harus dibayar. 
 
“Bila tamu yang menelepon, mereka biasanya akan menanyakan dulu berapa tarif untuk pijat dan saya bilang tarifnya hanya 100 ribu rupiah untuk pijat saja, sehingga transaksi bisa deal, namun transaksi selanjutnya kalau mau pelayanan plus-plus harus dong ada tambahan,” ujar MH.
 
Biaya yang dipatok bagi KD dan MH juga berkisar 300 ribu rupiah saja dan biasanya dalam praktek pijet plus-plus ini hanya dilakukan di tempat penginapan maupun hotel dan sangat jarang mau dilakukan ke rumah-rumah.[bbn/ksc/psk]


Sabtu, 29 Juli 2017 | 06:15 WITA


TAGS: prostitusi buleleng



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya:

 

HASIL SEMENTARA SIMULASI POLLING PEMILIHAN BAKAL CALON GUBERNUR BALI 2018
    • Dr. IGN Arya Wedakarna M Wedasteraputra Suyasa
    • Ni Putu Eka Wiryastuti, S.Sos
    • Dr.Ir. Wayan Koster, M.M.n.
    • I Gede Pasek Suardika, SH
    • Drs. Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga
    • Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, SE, M.Si
    • Drs. I Ketut Sudikerta
    • Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya S.IP
    • Total responden sampai saat ini: 1594