Masih Menunggu Penlok, PT. BIBU dan Desa Adat, Lakukan "Nuasen"

"Mulang Pekelem" Bandara Buleleng Gunakan Kambing, Angsa, Hingga Babi

Minggu, 27 Agustus 2017 | 18:20 WITA

"Mulang Pekelem" Bandara Buleleng Gunakan Kambing, Angsa, Hingga Babi

beritabali.com/file

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Singaraja. Belum turunnya Penentuan Lokasi (Penlok) Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara dari Kementerian Perhubungan RI tidak menyurutkan PT. Bandara Internasional Bali Utara (BIBU) melakukan proses tahapan awal pembangunan bandara di Buleleng. Menggandeng Desa Adat Kubutambahan, PT BIBU akan melakukan proses upacara "nuasen" dan "mulang pekelem".
 
Menunggu datangnya Penlok dari Kemenhub RI, PT. BIBU sebagai salah satu pemrakarsa pembangunan Bandara di Buleleng, juga melakukan langkah-langkah secara "niskala". Dengan menggandeng Desa Adat Kubutambahan, Senin (28/8/2017), akan melakukan rangkaian upacara yang dipusatkan di Pura Penegil Dharma Penyusuan dengan melakukan proses upacara nuasen dan mulang pekelem.
 
Presiden Direktur (Presdir) PT. BIBU, Made Mangku, usai menggelar Jumpa Pers di Kantor Operasional PT.BIBU Panji Sakti menegaskan, lantaran ijin atau penentuan lokasi bandara belum turun dari Kemenhub RI, proses yang dilakukan hanya melakukan upacara nuasen dan mulang pekelem saja. Namun jika Penlok sudah turun sebelum tanggal 28 Agustus, PT. BIBU memang berencana akan melakukan rangkaian upacara peletakan Batu pertama.
 
“Besok itu memang tidak ada peletakan batu pertama karena memang penlok-nya belum turun, tetapi kalau memang penlok-nya turun sesuai dengan kesepakatan kita tempo hari dengan PT. Pembari, itu memang besok sekalian ada peletakan batu pertama. Tapi karena penlok-nya belum turun berarti kita hanya ada kegiatan upacara nuasen dan mulang pekelem di segara Kubutambahan atau persisnya di depan Pura Penegil Dharma Penyusuan,” tegas Mangku.
 
Presidir PT. BIBU, Made Mangku mengatakan, belum mengetahui pasti penyebab masih tertundanya Penlok tersebut. Berbagai persyaratan dan ketentuan yang ada sudah dipenuhi termasuk melakukan presentasi di Kemenhub RI di Jakarta.
 
“Kalau syaratnya sesuai dengan PM 20-2014 hampir kami seluruhnya sudah memenuhi dan kami setor ke pusat ke Kementerian Perhubungan, termasuk juga bulan Februari lalu kami juga diberi kesempatan untuk ekspose. Kami juga sudah melakukan seluruh dari prosesnya. Semestinya sesuai dengan peraturan kementerian 45 hari kerja, itu Penlok sudah bisa turun dan sampai hari ini kami belum pernah menerima saran dari kementerian itu apa yang menjadi kekurangan kami untuk disempurnakan,” ujar Mangku.
 
Ditempat yang sama, Kelian Desa Adat Kubutambahan, Jro Pasek Ketut Warkadea memberikan dukungan secara penuh terhadap rangkaian upacara yang dilakukan PT. BIBU sebagai upaya kontribusi secara niskala untuk mampu menjaga keseimbangan antara sekala dan niskala.
 
“Upacara itu adalah bagaimana meningkatkan sradha bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, paling tidak ada persembahyangan bersama sehingga ada kontribusi secara niskala, kekuatan persembahyangan itu akan meninggatkan sradha bakti dan bagaimana makna upacara itu sebagai pemahayu jagat terlepas dari adanya issue bandara atau tidak,” papar Warkadea.
 
Di sisi lain, Kelian Adat Kubutambahan Jro Pasek Warkadea mengatakan, keberadaan bandara yang bisa diwujudkan di Desa Kubutambahan akan mampu memberikan imbas perkembangan di wilayah Desa Kubutambahan dan Buleleng secara umum sehingga Prajuru Desa Adat mendukung rencana pembangunan Bandar Udara di Bali Utara tersebut.
 
“Kami selaku prajuru Desa adat Kubutambahan mendukung adanya upaya untuk bagaimana menciptakan keseimbangan antara pembangunan Bali utara dengan Bali selatan termasuk pembangunan bandara ini munglin barangkali salah satu alternatif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga membuka seluas-luasnya lapangan kerja dan membuka kesejahteraan sosial bagi seluruh warga masyarakat Kubutambahan,” tegas Jro Warkadea.
 
Sebelumnya dalam Jumpa Pers, I Made Sukerana selaku Konsultan Hukum PT.BIBU meluruskan adanya rencana peletakan batu pertama (Groundbreaking) oleh PT. BIBU bersama Airports Kinesis Consulting (AKC) Kanada. Hal itu terungkap berdasarkan hasil pertemuan dalam Rapat Koordinasi yang dilakukan bersama Wakil Gubernur Bali, Ketut Sudikerta, PT. BIBU dan PT. Pembangunan Bali Mandiri (Pembari) dalam menyikapi percepatan pembangunan Bandara Bali Utara.
 
“Nah, kerena ada keraguan-raguan itu, masyarakat, teman dan sebagainya, kalau sudah ada ijinnya benar nggak membangun, benar punya uang, maka ditanya, kalau keluar ijin sudah pasti benar nggak, siap, jadi akhir tahun ini saya siap akan bangun, nggak-nggak akhir tahun, kalau sudah keluar penlok, tanggal 28 pun saya siap untuk meletakan batu pertama, masak tidak ada ijin penlok kami lakukan peletakan batu pertama,” papar Sukerana.
 
Sementara, dalam proses upacara nuasen dan mulang pekelem di segara Kubutambahan akan dipusatkan di depan Pura Penegil Dharma Penyusuan yang rencanaya dipuput Ida Peranda Siwa Budha dan Pekelem dilakukan dengan menggunakan sarana upacara berupa kambing, anjing, angsa, ayam dan babi. Kegiatan direncanakan mulai tepat pukul 11.00 wita dengan melibatkan Prajuru Desa Adat Kubutambahan dan masyarakat termasuk mengundang sejumlah pejabat diantaranya Gubernur Bali dan Ketua DPRD Bali serta sejumlah pejabat di Kabupaten Buleleng. [bbn/mds/psk]


Minggu, 27 Agustus 2017 | 18:20 WITA


TAGS: bandara buleleng



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya:

 

HASIL SEMENTARA SIMULASI POLLING PEMILIHAN BAKAL CALON GUBERNUR BALI 2018
    • Dr. IGN Arya Wedakarna M Wedasteraputra Suyasa
    • Ni Putu Eka Wiryastuti, S.Sos
    • Dr.Ir. Wayan Koster, M.M.n.
    • I Gede Pasek Suardika, SH
    • Drs. Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga
    • Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, SE, M.Si
    • Drs. I Ketut Sudikerta
    • Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya S.IP
    • Total responden sampai saat ini: 1597