Pengabenan Kinembulan IWB Singaraja, Tidak Hanya Libatkan Warga Bugbug Perantauan

Jumat, 01 September 2017 | 09:03 WITA

Pengabenan Kinembulan IWB Singaraja, Tidak Hanya Libatkan Warga Bugbug Perantauan

beritabali.com

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Buleleng. Ikatan Warga Bugbug (IWB) Singaraja mengelar puncak pengabenan kinembulan ke-2 yang tidak saja melibatkan warga bugbug di perantauan yang berada di Singaraja, namun Upacara Pitrayadnya itu juga melibatkan beberapa warga di luar warga bugbug.
 
Sedikitnya ada tujuh keluarga diluar warga bugbug perantauan yang terlibat secara langsung dalam proses Pengabenan Kinembulan ke-2 yang digelar Ikatan Warga Bugbug (IWB) Singaraja, Kamis (31/8) yang diawali dari Gedung Serbaguna Arena Kelurahan Kampung Anyar Kecamatan Buleleng dan melakukan perjalanan menuju Setra atau Kuburan Kayubuntil dengan menempuh route Jalan Pattimura, Jalan Ahmad Yani hingga sepanjang Jalan Dewi Sartika Utara.
 
Secara keseluruhan pada puncak Pengabenan Kinembulan melibatkan 93 ngaben, 166 nyekah, 16 ngelungah dan 81 ngerapuh dengan melakukan prosesi Atma Wedana, Ngajum Sekah, Ngeseng Sekah dan Nganyut Abu Sekah.
 
Ketua Panitia Pengabenan Kinembulan Ke-2 IWB Singaraja, Ida Bawati Rai mengatakan, dalam kegiatan kedua kali pengabenan bersama itu dilakukan, IWB Singaraja membuka diri untuk mengajak masyarakat diluar warga desa bugbug diperantauan untuk terlibat secara langsung dalam pengabenan tersebut.
 
“Dari desa bugbug sendiri datang sendiri, dari kaliuntu, dari kampung anyar, dari blahbatuh, dari banjar jawa dari kelurahan banyuasri, banyak, bukan orang bugbug saja yang mengikuti acara ini, sehingga seluruh masyarakat, Cuma IWB yang menyelenggarakan, hanya IWB komunitas yang kecil tapi ingin berperan dan berpartisipasi sesuai dengan arahan bagaimana umat hindu beryadnya secara kecil tetap tidak mengurangi, arti, makna dan tujuan dari pengabenan,” papar Ida Bawati Rai.
 
Ketua IWB Singaraja, Gde Wisnaya Wisna mengakui, kegiatan pengabenan kinembulan telah menjadi agenda tetap setiap empat tahun, di mana kegiatan yang dilakukan secara bersama ini mampu mendorong warga untuk melakukan pengabenan secara murah, sehingga tidak menjadi beban secara turun-temurun dalam satu keluarga.
 
“Nah ini adalah harapan kita supaya bisa membantu mereka yang tidak bisa melakukan ngaben sendiri, apalagi diwarga kami karena kemampuan ekonomi yang terbatas menyebabkan mereka selama berpuluh-puluh tahun belum bisa ngaben, sehingga seringkali dalam satu keluarga itu dibebankan kepada cucu dan kumpinya itu, nah ini yang kita bantu supaya tidak terus menerus begitu,” ungkap Wisnaya Wisna yang juga Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Buleleng.
 
Wisnaya Wisna mengatakan, dalam pelaksanaan pengabenan kinembulan tahun ini, keluarga yang terlibat didalamnya hanya dikenakan biaya sebesar dua juta rupiah. 
 
“Dengan biaya yang kita tekan semurah mungkin mereka bisa kemudian mengangkat leluhurnya untuk diproses dalam pengabenan itu, nah tentunya juga dari sisi wewidangan tidak lagi banyak bebatang yang ada dibawah, tertanam puluhan tahun,” ujarnya.
 
Ida Bawati Hermawan Tangkas selaku penasehat pelaksanaan Pengabenan Kinembulan IWB Singaraja menegaskan, dalam proses yang dilakukan secara bertahap telah sesuai dengan sastra agama yang juga dikisahkan dalam Epos Mahabharata.
 
“Kalau kita cari di tatwanya jelas itu ada, karena itu terkandung dalam epos Mahabharata, ketika para pandawa sudah menang dalam peperangan di kurusetra, maka yudistira mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang ikut berperang pada waktu itu dalam proses upacara seperti ini, artinya diambil sekalian, jadi proses Pengabenan Kinembulan ini secara sastra tidak salah,” papar Ida Bawati Hermawan Tangkas.
 
Disisi lain dari pandangan sebagai tokoh agama, Ida Bawati Hermawan Tangkas mengakui kegiatan yang dilakukan secara bersama itu mampu meringankan beban masyarakat. 
 
“Kalau kita meninjau dari sudut ekonomi, tentu ini jelas sekali meringankan beban masyarakat, karena kalau dulu sebelum kita mengenal adanya proses ngaben kinembulan ini seluruh biaya yang ditanggung oleh keluarga yang melaksanakan upacara ini sangat besar, sehingga dengan pola bersama-sama itu bisa ditanggung bersama-sama,” ujarnya.
 
Gede Sarya Tuntun dan Wayan Merta, dua diantara pengarep yang terlibat dalam Pengabenan Kinembulan yang dilakukan IWB Singaraja merasa terbantu dan tidak menjadikan beban ekonomi sehingga mampu mengantarkan leluhurnya mencapai kesempurnaan.
 
“Memang ini sangat membantu kami dalam pengabenan ini, sehingga kami sekeluarga bisa melakukan proses pitrayadnya sesuai dengan tatanan yang ada tanpa biaya yang tinggi,” ujar mereka.
 
Selain memudahkan masyarakat di Kampung Anyar dalam pembiayaan, Pengabenan Kinembulan yang dilakukan setiap empat tahun sekali itu juga mampu meningkatkan semangat gotong royong yang tentunya lebih menguatkan rasa kebersamaan, persatuan dan kesatuan ditengah-tengah warga bugbug di perantauan. [mds/wrt]


Jumat, 01 September 2017 | 09:03 WITA


TAGS: ngaben bugbug buleleng



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya:

 

HASIL SEMENTARA SIMULASI POLLING PEMILIHAN BAKAL CALON GUBERNUR BALI 2018
    • Dr. IGN Arya Wedakarna M Wedasteraputra Suyasa
    • Ni Putu Eka Wiryastuti, S.Sos
    • Dr.Ir. Wayan Koster, M.M.n.
    • I Gede Pasek Suardika, SH
    • Drs. Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga
    • Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, SE, M.Si
    • Drs. I Ketut Sudikerta
    • Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya S.IP
    • Total responden sampai saat ini: 1597