Edukasi Faktor Penyebar HIV/AIDS, Pemprov Sasar Remaja Usia Sekolah

Kamis, 19 Oktober 2017 | 15:00 WITA

Edukasi Faktor Penyebar HIV/AIDS, Pemprov Sasar Remaja Usia Sekolah

ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Gianyar. Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta mengatakan Pemprov Bali terus berusaha menyasar generasi muda, para remaja usia sekolah yang memiliki resistensi paling cepat terpengaruh pergaulan, untuk diberikan edukasi guna memahami faktor penyebar HIV/AIDS.
 
“Para remaja dan generasi muda adalah aset bangsa yang menentukan kemajuan bangsa kita kedepan, mereka paling cepat dan rentan terpengaruh pergaulan, jadi mereka kita berikan pembelajaran dan pengetahuan tentang faktor-faktor penyebab, pencegahan dan bahaya HIV/AIDS, sehingga nantinya mereka juga bisa membantu peran pemerintah untuk mengedukasi dan memberikan sosialisasi kepada rekan-rekan sejawat maupun lingkungannya agar terhindar dari bahaya HIV/AIDS. Dan alangkah bagusnya apabila upaya ini bisa menjadi salah satu program intrakurikuler sekolah-sekolah di Bali,” cetus Sudikerta, Rabu (18/10/2017).
 
Dalam sambutannya, Wagub Sudikerta juga memaparkan faktor-faktor tingginya penyebaran HIV/AIDS diantaranya seks bebas dengan berganti-ganti pasangan, penyalahgunaan narkoba dengan menggunakan jarum suntik berganti-gantian, penggunaan peralatan yang tidak steril seperti pisau cukur, jarum suntik, transfusi darah maupun pada bayi yang diturunkan dari ibunya. Untuk itu ia pun mengajak para remaja untuk menghindari faktor-faktor tersebut, sehingga bisa menekan penyebaran HIV/AIDS di Bali.
 
Ia pun memberikan peringatan keras bagi sektor-sektor usaha yang ikut mempengaruhi tingginya penyebaran HIV/AIDS diantaranya tempat hiburan malam, salon, spa dan lain sebagainya yang menyediakan layanan prostitusi. Masyarakat dan pemerintah daerah hingga level terbawah yakni tingkat desa pun diharapkan berperan mengawasi lingkungannya apabila ada peredaran narkoba maupun prostitusi. 
 
“Bagi pemerintah daerah mari atur pencegahan penyebaran HIV/AIDS ini dalam bentuk perda, dan ditingkat desa buatkan awig-awig, jangan sampai ada tempat hiburan seperti kafe-kafe yang menyediakan layanan prostitusi, awasi jangan sampai ada warganya yang terlibat penyalahgunaan narkoba, jika ada tindak tegas, tegakkan perda maupun awig-awig itu, hukumannya harus berat, agar bisa memberikan efek jera,” pungkas Sudikerta. [bbn/prov/wrt]


Kamis, 19 Oktober 2017 | 15:00 WITA


TAGS: hiv aids sekolah



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: