Penerapan "Urban Farming" di Tukad Bindu Denpasar

Rabu, 17 Januari 2018 | 08:45 WITA

Penerapan "Urban Farming" di Tukad Bindu Denpasar

beritabalicom/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Pemkot Denpasar selalu memberikan ruang penuh bagi semua pihak untuk memberikan inovasi dalam pembangunan Kota. Kali ini, Fakultas Pertanian Universitas Mahasaraswati (Unmas) menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kota Denpasar dan Yayasan Tukad Bindu untuk mendorong adanya urban farming di Kota Denpasar. Pelaksanaan kegiatan tersebut merupakan salah satu inovasi pengembangan Tukad Bindu untuk edukasi selain dimanfaatkan untuk rekreasi dan kegiatan lainya.
 
Kasubag Pengumpulan Informasi dan Publikasi Humas Setda Kota Denpasar, I Wayan Hendaryana saat dikonfirmasi Selasa (16/1) mengaku Pemkot Denpasar sangat mendukung dan mendorong adanya peran pihak swasta dan berbagai steakholder dalam memberikan inovasi di bidang pertanian di Kota Denpasar. Hal ini lantaran lahan pertanian yang berada di Kota Denpasar jumlahnya terbatas. Sehingga diperlukan inovasi dan pemanfaatan teknologi dalam bidang pertanian seperti halnya Urban Farming.
 
“Adanya inovasi dari semua pihak seperti swasta atau steakholder lainya ini tentu sangat membantu Pemkot Denpasar. Sehingga tentunya dapat mendorong masyarakat untuk mandiri dalam pengadaan bahan pangan sehari-hari serta memanfaatkan lahan yang berada di pekarangan secara maksimal,” pungkasnya
 
Sementara, Dosen Fakultas Pertanian Unmas, Dr. Yudariani mengatakan Fakultas Pertanian Unmas telah menjalin kerjasama dengan Yayasan Tukad Bindu dan Pemkot Denpasar. Komitmen tersebut diwujudkan dengan Letter of Acceptance (LoA) antara semua steakholder yang terlibat. 
 
“Kami telah menandatangani LoA bersama semua steakholder terkait dengan pemanfaatan lahan yang ada di Tukad Bindu yang akan digunakan untuk Lab Lapangan Fakultas Pertanian Unmas,” jelas Yudariani.
 
Dijelaskan lebih lanjut, Urban Farming  merupakan konsep pemindahan pertanian konvensional  ke pertanian perkotaan. Adapun menurut Yudariani perbedaannya terdapat pada orientasinya saja. 
 
“Dimana pertanian konvensional berorientasi pada hasil produksi sedangkan urban farming lebih kepada karakter pelakunya yakni masyarakat urban,” ungkapnya
 
Adapun kegiatan yang dilaksanakan setiap hari Minggu di tanah seluas dua are ini diharapkan dapat memberikan tantangan bagi mahasiswa dan masyarakat sekitar untuk memanfaatkan lahan sempit dengan maksimal, khususnya pertanian. Nantinya, program ini dirancang akan dilaksanakan selama atiga tahun. Yakni tahun pertama fokus untuk membagi bantaran sungai untuk tanaman tertentu, tahun kedua pelaksanaan program dan pemantapan, dan tahun ketiga adalah mencapai goal yakni memberdayakan masyarakat disekitar bantaran tukad Bindu.
 
“Sehingga, selain untuk berekreasi Tukad Bindu juga dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya di Bidang Pertanian, jadi fasilitas yang ada di Tukad Bindu menjadi lengkap, mulai dari sarana fitnes, aneka kuliner lokal, pemandangan sungai dan lain sebagainya, dan tentunya kami berharap masyaraat sekitar menjadi lebih peduli dengan lingkungan sekitar,”pungkasnya.
 
Ketua Yayasan Tukad Bindu, IB. Ari Manik sangat mengapresiasi  dan mendukung adanya upaya penerapan urban farming  pertanian di Kota Denpasar. Karenanya, Gus Arik berharap kepada masyarakat untuk turut menjaga lingkungan dan alam yang ada saat ini. “Kami mendorong masyarakat agar melakukan pengenalaan sejak dini tentang pentingnya menjaga lingkungan sehingga budaya membuang sampah di sungai dapat diminimalisir dan sungai menjadi bersih dan bermanfaat bagi manusia,” tandasnya.[bbn/rls/psk] 


Rabu, 17 Januari 2018 | 08:45 WITA


TAGS: urban farming



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: