Mimpi Membangun Pariwisata Berkelanjutan di Nusa Penida

Selasa, 23 Januari 2018 | 16:00 WITA

Mimpi Membangun Pariwisata Berkelanjutan di Nusa Penida

Beritabali.com/CTC

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Klungkung. Kepulauan Nusa Penida menjadi salah satu obyek wisata pilihan bagi wisatawan yang berlibur di Bali. Dalam 10 tahun terakhir Nusa Penida berkembang menjadi obyek wisata pilihan selain Kuta, Ubud dan Jimbaran. Dalam sekejap pariwisata memberi berkah kepada warga Nusa Penida  yang sebelumnya bergantung pada pekerjaan sebagai petani rumput laut dan nelayan. Melihat potensi tersebut , Pemerintah Kabupaten Klungkung Kemudian mencanangkan pariwisata berkelanjutan di Nusa Penida.

Pulau Nusa Lembongan, Pulau Nusa Penida dan Nusa Ceningan merupakan bagian dari kawasan Nusa Penida atau yang lebih dikenal dengan sebutan three sisters island. Ketiga pulau tersebut juga bagian dari kawasan segitiga karang dunia yang paling mudah diakses karena letaknya berada di Bali. Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Nusa Penida dapat menyebrang menggunakan speedboat dari pelabuhan Sanur atau Kusamba dan menggunakan Kapal Ferry dari Pelabuhan Padangbai.

Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Kabupaten Klungkung, Ketut Gunawan saat ditemui di Denpasar (20/01/2018) mengakui perkembangan pariwisata yang sangat pesat di Nusa Penida tidak dibarengi dengan kesiapan dari masyarakat. Buktinya kelompok-kelompok sadar wisata sangat minim. Begitu juga pengembangan pariwisata terganjal masalah ketersediaan sumber daya manusia (SDM). “sumber SDM kurang, kurang disini bukan masalah karena tidak siap” ujar Gunawan.

Tantangan pariwisata di Nusa Penida menjadi semakin berat ketika tingkat kunjungan wisatawan terus meningkat. Satu sisi berharap kunjungan setiap tahun terus meningkat, sedangkan pada sisi lain harus mampu mewujudkan pariwisata yang berkesinambungan. Secara akumulatif jumlah wisatawan yang datang ke Nusa Penida dalam sehari diperkirakan mencapai 1000-5000 orang. “kalau estimasi bisa mencapai 5000 orang perhari, tapi tidak semua menginap, rata-rata mereka hanya berkunjung dan balik sore harinya” papar Gunawan.

Menurut Gunawan, secara daya tampung dalam sehari Nusa Penida mampu menampung wisatawan hingga 10.000 orang. Permasalahannya kemudian adalah masalah daya dukung dan infrastruktur belum memadai. Masalah yang paling klasik adalah ketersediaan air bersih yang tidak selalu tersedia dan masalah pengelolaan sampah. “hingga saat ini infrastruktur penyediaan air belum teratasi, ini harus ada terobosan dari pemerintah jika ingin mewujudkan pariwisata berkelanjutan, belum lagi masalah listrik yang selalu hidup-mati” jelas Gunawan.

Gunawan menambahkan kecanggihan teknologi melalui media sosial juga sangat membantu promosi Nusa Penida sebagai obyek wisata yang sedang berkembang. Sayangnya perkembangan pariwisata di Nusa Penida belum diimbangi dengan upaya untuk menjaga kelestarian ekosistem. “wisatawan terus meningkat jumlahnya yang datang, pada 2016 tingkat hunian hotel dan penginapan rata-rata perhari mencapai 75%. Pada 2017 tingkat hunia mencapai 80%, sedangkan kualitas dilupakan karena mengejar kuantitas” tegas Gunawan.

Merujuk pada profil wisata bahari Nusa Penida yang disusun oleh Pemerintah Kabupaten Klungkung dan Coral Triangle Center (CTC) pada tahun 2011 menyebutkan terdapat beberapa macam tipe penginapan, mulai dari homestay hingga hotel bintang tiga, fasilitas yang ditawarkan pun beragam. Penginapan di daerah Nusa Penida dibagi 4 jenis penginapan yaitu homestay, bungalow, resort dan villa. Fasilitas penginapan di daerah Nusa Penida pun tidak kalah dengan fasilitas hotel yang disediakan di Bali daratan, karena di Nusa Penida juga menyediakan fasilitas yang cukup baik dan nyaman.

Rata-rata harga homestay di kawasan Nusa Penida berkisar Rp. 150,000,00 hingga Rp. 500,000,00 untuk high season sedangkan pada low season harga menurun hingga mencapai kisaran Rp 50,000,00 – Rp 400,000,00. Khusus harga bungalow di Nusa Penida berkisar antara Rp. 200,000,00 – Rp. 602,000,00 untuk high seasons dan untuk low season menurun hingga Rp 100,000,00- Rp 602,000,00. Jumlah wisatawan yang menginap di bungalow sekitar 50 -1200 orang pada saat high season dan pada saat low season berjumlah 10 - 800 orang tiap bulannya. Tarif atau harga penginapan jenis villa saat high season berkisar antara Rp. 250.000 – Rp. 3.000.000 dan saat low season berkisar antara Rp. 150.000 – Rp. 3.000.000. Jumlah tamu yang datang dan menginap di villa Nusa Lembongan adalah 50 -1000 orang per bulannya dan pada saat low season sekitar 10 - 300 orang.

Salah satu pemilik penginapan, I Gede Tanjung mengakui tantangan untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan sangat berat. Berat tidak saja karena harus menjaga kelestarian alam, tetapi juga karena infrastruktur belum memadai. Sebagai contoh masalah ketersediaan listrik yang masih sangat tergantung pada listrik PLN. “listrik bisa tiap malam mati selama satu sampai dua jam, sehingga perlu biaya tambahan untuk menghidupkan jenset, listrik yang hidup mati juga rawan menyebabkan kerusakan peralatan elektronik” papar Tanjung.

Tanjung berharap pusat pembangkit listrik tenaga angin yang ada dan kini mangkrak dapat beroperasional untuk mengatasi permasalahan listrik di Nusa Penida. Pada sisi lain para pengelola penginapan juga berkeinginan untuk menggunakan panel surya untuk memenuhi kebutuhan listrik. Permasalahanya untuk mendapatkan panel surya dan peralatanya sangat terbatas. Padahal pemakaian panel surya akan sangat membantu dalam mewujudkan pembangunan pariwisata berkelanjutan di Nusa Penida, khususnya dari segi penyediaan energi listrik.

Nusa Penida menyajikan wisata relegi khususnya bagi wisatawan domestik dan wisata alam khususnya wisata alam bawah laut. Pada kawasan Nusa Penida terdapat 230,07 hektar mangrove yang mayoritas berada di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Berdasarkan hasil survei dan identifikasi mangrove kerjasama antara TNC Indonesia Marine Program dan Balai Pengelolaan Hutan Mangrove wilayah I pada bulan Februari 2010 di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, terdapat 13 jenis mangrove dan 7 jenis tumbuhan asosiasi. Selain itu juga dijumpai 5 jenis burung air dan 25 jenis burung darat yang dijumpai di sekitar mangrove.

Berdasarkan kajian cepat kelautan (Marine Rapid Ecological Assessment/REA) 2008 menunjukkan kawasan Nusa Penida memiliki 296 spesies karang keras dan 576 spesies ikan karang termasuk 5 jenis baru. Kawasan ini juga memiliki biota unik, seperti ikan molamola,pari manta, penyu, ikan napoleon, lumbalumba, paus, hiu paus hingga dugong. Kawasan Pulau Nusa Penida memiliki tebing-tebing karst yang eksotik dan pantai-pantai pasir putih yang elok. Mempunyai luas kawasan terumbu karang 1.419 hektar dan padang lamun seluas 108 hektar. Kawasan Nusa penida menjadi salah satu destinasi utama wisatawan lokal dan mancanegara, dengan kunjungan rata-rata mencapai 200.000 wisatawan pertahun.

Salah satu alasan kedatangan para wisatawan terutama para penyelam dan peneliti internasional mengunjungi Kepulauan Nusa penida adalah untuk bertemu raja matahari kawasan laut Nusa Penida. Raja matahari yang dimaksud adalah ikan Mola-mola (sunfish). Bagi masyarakat Nusa Penida ikan Mola-mola tersebut lebih dikenal dengan nama “be bodag”.

Sebutan ikan matahari diberikan karena Mola-mola sering ditemukan muncul kepermukaan laut untuk berjemur memulihkan suhu tubuhnya, karena terlalu lama berada di perairan laut dalam. Selain itu, bentuk tubuhnya yang bulat juga identik dengan bulatnya sinar matahari. Pada musim tertentu ikan Mola-mola naik ke perairan dangkal untuk membersihkan dirinya dari parasit dengan bantuan ikan bendera (banner fish) dan ikan bidadari (angle fish). 

Hasil survey CTC tahun 2011 menunjukkan wisatawan yang datang ke Nusa Penida lebih banyak melakukan fun-dive di Crystal Bay dan Manta Point daripada ke dive site lain. Wisatawan juga melakukan dive-course selain fun-dive. Tarif menyelam di Nusa Penida dengan menggunakan guide berkisar antara Rp. 437.500 hingga Rp. 700.000 untuk satu kali penyelaman. Tiap dive operator menerima jumlah wisatawan pada saat high season sangat beragam mulai dari 50 orang per bulannya hingga 1200 orang. Pada saat low season jumlah wisatawan yang datang menurun, tiap dive operator menerima jumlah tamu yang sangat beragam mulai dari 15 orang per bulannya hingga 450 orang.  Dimana total jumlah wisatawan selam yang datang pada saat high season adalah 2700 orang tiap bulannya.

Learning Site ManagerCTC, Marthen Welly mengungkapkan tingginya jumlah penyelam sering berdampak pada kerusakan ekosistem yang ada, sehingga perlu dilakukan studi mengenai daya dukung lingkungan ( carrying capacity study) masing-masing lokasi penyelaman mola. Mengingat  pada musim Mola sekitar 600-800 orang menyelam per hari di Nusa Penida. “jumlah diver yang menyelam dengan dive operator dari Sanur, Padang Bay, Serangan dan Tanjung Benoa ke Nusa Penida juga meningkat,  jika kita coba cari kamar hotel akan sangat susah sekali, semua kamar full dan kita mesti booking jauh-jauh hari” ujar Marthen.

Ketua Bidang Lingkungan, Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita) Bali, Ketut Tunggu mengungkapkan perlu komitmen dan langkah bersama untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan di Nusa Penida. Apalagi selama ini citra pariwisata sangat identik dengan perusakan lingkungan. Guna mewujudkan pariwisata berkelanjutan maka pemerintah perlu membuat kebijakan pengembangan pariwisata yang berbasis ekowisata. “pemerintah buat aturan pengelolaan yang berbasis ekowisata, sehingga jelas apa yang harus dilakukan oleh investor, seperti harus membangun taman” tegas Tunggu.

Menurut Tunggu, penataan pariwisata di Nusa Penida harus diakui masih jauh dari harapan. Buktinya masih ada beberapa destinasi yang tidak dilengkapi dengan toilet. Permasalahan lain adalah masalah kemacetan karena banyaknya kendaraan, sedangkan jalan cukup sempit. “pariwisata akan eksis apabila di dukung oleh daya dukung yang memadai dan peran masyarakat untuk menjaga destinasi” kata Tunggu.

Sebelumnya Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta telah menargetkan untuk mengembangkan Nusa Penida sebagai daerah pariwisata berkelanjutan. Walaupun diakui Perkembangan pariwisata Nusa Penida dalam dua tahun terakhir lebih cepat dari perencanaan. Pemerintah Kabupaten Klungkung menargetkan untuk memperbaiki dan menyediakan infrastruktur seperti air, jalan dan listrik secara bertahap. Komitmen untuk mengembangkan pariwisata berkelanjutan di Nusa Penida sejalan dengan trend pariwisata dunia.

Pada 9 Juni 2014, Kementerian Kelautan dan Perikanan meresmikan Nusa penida sebagai kawasan konservasi perairan (KKP). Dengan peresmian tersebut diharapkan kawasan Nusa Penida dapat dikelola dengan efektif dan memberikan manfaat sosial-ekonomi bagi masyarakat.(muliarta)

 

 


Selasa, 23 Januari 2018 | 16:00 WITA


TAGS: Nusa Penida Pariwisata Berkelanjutan



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: