Amlapura Secara Spiritual Bermakna Ibukota Jagad Raya

Rabu, 28 Maret 2018 | 09:10 WITA

Amlapura Secara Spiritual Bermakna Ibukota Jagad Raya

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com.Karangasem, Presiden Perdamaian Dunia, Djuyoto Suntani menyebutkan beberapa aspek pertimbangan dipilihnya Karangasem dalam perayaan 'Hari Keluarga Bumi', salah satunya adalah sisi spiritual dimana kota Amlapura dimaknai sebagai ibukota Jagad Raya.
 

Lebih dalam Djuyoto mengulas alasan pihaknya memilih Kabupaten Karangasem sebagai lokasi penetapan "Hari Keluarga Bumi" telah melalui berbagai macam aspek pertimbangan diantaranya, aspek Spiritual. Misalnya, Ibukota Kabupaten Karangasem bernama “Almapura". Nama "Amlapura sendiri berasal dari kata “Alam” dan “Pura”. Dalam bahasa Sensakerta kuno Alam adalah jagad raya, sedangkan Pura adalah Kota jadi “Alampura" artinya Ibukota bagi Alam Semesta atau Ibukota jagad raya. Oleh karena itu di Ibukota Jagad Raya ini ditetapkan ”Hari Keluarga Bumi”. Hari Keluarga bagi Alam Semesta. 
 
Selain itu beberapa aspek lainnya seperti aspek Budaya, Karangasem juga memiliki sejarah yang panjang. Seperti kisah ketika Jawa dan Bali masih nyambung dalam Satu Daratan yang dikenal dengan nama ”Pulau Panjang".
 
Di Pulau Panjang ini, dikatakan sebagai tempat asal mula manusia di muka Bumi jutaan tahun silam. Hal ini terbukti dengan ditemukan Fosil-fosil manusia purba jutaan tahun silam di Trinil Jawa Tengah. Sedangkan untuk di Bali juga ditemukan yakni di Karangasem dimana Orang sering mengatakan dengan sebutan “Ajeg Bali", ”Bali Mula” atau asal manusia-manusia Bali.
 
"Sebenarnya Karangasem bukan hanya sekadar asal mula Manusia Bali, tapi tempat asal usul Umat Manusia Bumi jutaan tahun silam yang kemudian menyebar ke seluruh di Planet Bumi," ujarnya usai Penandatanganan prasasti batu Selasa (27/03) sebagai "Hari Keluarga Bumi" di objek wisata vila Putung, Desa Duda Timur, Selat, Karangasem.
 
Dilihat dari aspek Geografis. Kabupaten yang terletak di ujung timur pulau Bali ini memiliki Gunung Agung sebagai Gunung Vulkanik Besar Great Mountain Inti Bumi yang menjaga keselarasan semesta. Gunung merupakan mahluk Purba di Bumi yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam semesta. Manusia Purba dulu tinggal di gua-gua kaki gunung yang mencari hidup pada dinamika Gunung. Gunung Agung merupakan Gunung Vulkanik yang hidup hingga sekarang. 
 
Aspek Religiusitas, di Kabuapaten Karangasem terdapat Pura Agung Besakih yakni Pura Paling Besar yang setia mengawal Konsep kehidupan sempurna dalam ajaran "Tri Hita Karana" yaitu menjaga hubungan keseimbangan antara manusia dengan manusia, manusia dengan Alam semesta serta manusia dengan Yang Maha Kuasa, Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Kuasa. 
 
Selain beberapa aspek tersebut, juga masih ada aspek lainnya seperti, aspek Demografi, aspek sosial, aspek Mutasi dan Siklus Kehidupan, aspek Filosofis serta aspek Etika dan Tata Krama.
 
Di sisi lain, dipilihnya hari Selasa tanggal 27 sebagai penetapan "Hari Keluarga Bumi" menurut  Mr Djuyoti, hari Selasa disebut juga Sela-selaning Manungso. Hari Yang kosong bagi umat manusia, Hari Ground Zero atau Blank Spot bagi manusia dan seluruh mahluk hidup di alam semesta. Nama ”Selasa” maknanya sela-selasanya kahidupan, waktu istirahat. Pada zaman dulu, tiap hari Selasa semua orang tidak boleh melakukan aktivitas. Secara spiritual tiap hari Selasa semua Mahluk hidup juga istirahat. 
 
Sementara untuk tanggal 27 menurutnya merupakan hitungan Angka Tertinggi, yaitu hitungan 2 + 7 = 9. Angka Sembilan merupakan angka tertinggi. Hari Keluarga Bumi ditetapkan pada hitungan tanggal pada angka tertinggi. Kenapa Memilih pada tanggal 27 dan bukan 18 yang sama-sama berjumlah "9"? Karena Angka 2 adalah angka Keseimbangan, sedangkan angka 7 adalah angka kesuksesan. 
 
Sedangkan, ditetapkan Tahun 2018, jika dihitung sama 2 + 0 + 1 + 8 = 21. Total jumlah Angka 21 yang merupakan dari ”dua arah keseimbangan" menuju "Satu Tujuan Hidup", tujuan hidup kehidupan yang damai sejahtera menuju sesembahan Syang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Kuasa. 
 
Sementara itu, beberapa keuntungan Karangasem terpilih sebagai lokasi  ditetapkan "Hari Keluarga Bumi” (Earthly Family Day) yaitu Kabupaten Karangasem mendapat keuntungan super besar dari seluruh sektor kehidupan. Masyarakat Kabupaten Karangasem mendapat nilai tambah (selling point) yang maha tinggi dalam hal image, citra baik, brain, nama, sosial, ekonomi, wisata, budaya, spirit, gengsi, martabat, kehormatan, harga diri, dan lain-lain sepanjang zaman. 
 

Semua berdampak positif sehingga nama Karangasem dikenal di seluruh dunia dan melegenda sepanjang zaman yang mendatangkan sumber devisa tanpa batas bagi seluruh Masyarakat Karangasem mendapat kesejahteraan yang luar biasa untuk selamanya. Karangasem pada masa depan setelah ditetapkan ”Hari Raya Bumi” kelak benar-benar menjadi Ibukota Alam Semesta. 
 
Bupati Karangasem Mas Sumatri mengatakan, melalui kegiatan ini, Kabupaten Karangasem nantinya dapat semakin berperan aktif dalam menciptakan perdamaian dunia. Seperti yang diketahui bersama bahwa sebelumnya pulau Bali telah ditetapkan sebagai Pulau Perdamaian pada 27 Desember 2011 lalu.
 
"Perdamaian dunia sudah selayaknya diciptakan bersama dan merupakan harapan bersama. Mewujudkan perdamaian dunia  dapat dimulai dengan saling menghargai, dan saling menghormati antar umat beragama," ujarnya.
 
Hal tersebut, menurut Mas Sumatri di Kabupaten Karangasem sudah dapat diwujudkan terlihat dari harmonisnya hubungan antar umat beragama. Kendati demikian masyarakat dihimbau tetap waspada terhadap semua ancaman yang dapat memecah belah persatuan. Komunikasi antar umat beragama harus terus dibangun. Sehingga paham-paham radikal dapat dicegah. (bbn/igs/rob)


Rabu, 28 Maret 2018 | 09:10 WITA


TAGS: Hari Keluarga Bumi Karangasem Amlapura



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: