Suryani: Penyebab Gangguan Kejiwaan Karena Pernah Aborsi Atau Keguguran

Minggu, 13 Mei 2018 | 16:00 WITA

Suryani: Penyebab Gangguan Kejiwaan Karena Pernah Aborsi Atau Keguguran

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com.Denpasar, Dari sebagian besar kasus yang ditangani, penyebab gangguan jiwa menurut Pakar Psikiatri Prof DR Dr Luh Ketut Suryani SpKj, dikarenakan keluarga atau ibunya yang pernah mengalami aborsi atau keguguran.   
 

"Tidak hanya cukup dengan upacara secara ritual, penanganan pasca aborsi atau keguguran selanjutnya sebaiknya dengan memohon maaf dan mendoakan agar rohnya menyatu dengan Tuhan, sehingga kemudian tidak mengganggu kehidupan karena merasa iri tidak dilahirkan," tandas ibu yang melahirkan 6 anak laki-laki ini.
 
Oleh karena itu, perempuan yang lahir di Singaraja pada 24 Agustus 1944 ini tidak setuju dengan program keluarga berencana (KB) yang membatasi dua anak dalam keluarga. Menurutnya faktor program KB yang mempengaruhi masyarakat untuk melakukan praktek aborsi. 
 
Dari penelitiannya, terungkap untuk penyebab kasus bunuh diri di Bali dikarenakan pertama gangguan jiwa berat atau depresi, hubungan yang tidak baik dengan keluarga atau kerabat, kesehatan yang tidak kunjung sembuh dan terakhir faktor ekonomi. 
 
Metodenya dalam ilmu psikiatri yang menggabungkan meditasi dan budaya (mind, body, spirit) dan berdasarkan komunitas (community based) tergolong nyeleneh, membawa Prof DR Dr Luh Ketut Suryani SpKj, mendirikan Suryani Institute for Mental Health (SIMH) pada tahun 2005 lalu.
 
Didasari keyakinan bahwa penanganan Orang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ) tidak hanya ditangani dengan obat, tetapi juga memperbaiki mental dan kejiwaan ODGJ melalui praktek meditasi yang tujuannya untuk menyembuhkan trauma masa lampau hingga mencapai penyembuhan sendiri (self healing).
 
Praktik holistik Suryani yang terbilang mendukung metode 'Balian' (dukun Bali) tersebut memang tidak hanya mencakup medis, tetapi juga mencermati aspek budaya yang melingkupi kehidupan seorang pasien.  
 

Terbukti dari penanganan selama ini terhadap 695 pasien yang sempat ditangani dari pendanaan bantuan Gubernur, 31% mengalami kesembuhan tanpa obat, 3% sembuh tanpa perbaikan dan sisanya sembuh dengan perbaikan. Waktu yang diperlukan untuk penanganan paling pendek dari mulai 5 tahun hingga 40 tahun.
 
Hingga saat ini dengan segala keterbatasan pendanaan, SIMH yang telah berusia 13 tahun telah berjuang untuk bertekad menepati janji bagi relawan serta komitmen terhadap masyarakat yang memerlukan bantuan dalam penanganan ODGJ.
 
"Fokus kami ke depan adalah bagaimana perempuan mempunyai peran yang besar dalam menciptakan generasi yang bahagia dan hebat di masa depan," ungkapnya belum lama ini dalam perayaan sederhana memperingati 13 tahun SIMH di Denpasar.
 
Disamping itu, melalui cara pencegahan (preventif), Suryani menyadari lebih efektif daripada hanya menangani setelah terjadi gangguan kejiwaan. Begitupun juga dengan penanganan kasus bunuh diri selama ini diupayakan karena tingkatnya semakin mengkhawatirkan di Bali. (bbn/rob) 


Minggu, 13 Mei 2018 | 16:00 WITA


TAGS: Prof DR Dr Luh Ketut Suryani SpKj, ODGJ Bunuh Diri Aborsi Keguguran



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: