Merefleksikan Diri Melalui Kesenian Gambuh

Minggu, 10 Juni 2018 | 11:55 WITA

Merefleksikan Diri Melalui Kesenian Gambuh

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com,Denpasar. Pelaku seni Nyoman Budiarta berharap kedepannya ada banyak generasi muda yang tertarik mempelajari Kesenian Gambuh karena tidak hanya sebatas kesenian, melalui Gambuh kita dapat merefleksi diri. 
 

“Dalam tembang yang menggunakan bahasa kawi, terdapat Cerita Malat Panji. Disanalah kita dapat mempelajari bagaimana menjadi seorang yang wibawa, mempelajari kekuasaan dan romantika.” ungkap Budiartha belum lama ini.
 
Cerita Malat sendiri merupakan sastra kuno yang berkembang di Bali seperti halnya Kitab Sutasoma, Mahabrata, dan yang lainnya. Menariknya juga Gambuh disebut sebagai kesenian total teater, dan juga total untuk penarinya. Ini dikarenakan pelakon Gambuh setidaknya harus bisa ngigel (menari) dan megending (bernyanyi) menggunakan Bahasa Kawi.
 
Budiartha yang juga sosok penari Gambuh itu menjelaskan Gambuh merupakan kesenian Bali yang sudah ada setelah runtuhnya Majapahit, yakni kisaran tahun 700an masehi. Ia juga menyebutkan Gambuh merupakan kesenian puri dan mencapai puncak kejayaannya ketika Dalem Waturenggong memimpin. 
 
“Namun ketika runtuhnya kerajaan di Bali, gambuh mulai tersebar di masyarakat,” tambahnya.
 
Nyoman berterus terang mengenai keberadaan Gambuh di Bali. Ia merasa bahwa Gambuh mengalami masa pasang-surut. Kesenian yang tersebar di Pedungan (Denpasar), Batuan, Kedisan, Bungkulan (Buleleng), Buda Keling (Karangasem) ini kini bergantung pada masyarakat pendukung. 
 
“Gambuh Desa Batuan dan Pedungan masih cukup bagus pelestariannya, namun di tempat lain seperti di Bungkulan, Gambuh sudah semakin terlupakan,” ungkap pemilik Sekaa Gambuh Tri Pusaka Sakti itu.
 
Ia memaparkan Sekaa Gambuh di Desa Batuan terdapat tujuh kelompok, sedangkan di tempat lain, kata dia belum tentu ada lebih dari satu sekaa. Adapun tujuh sekaa tersebut ada Gambuh Desa Pekraman Batuian, Gambuh Pura Dalem Puri, Gambuh Tri Pusaka Sakti, Gambuh Maya Sari, Gambuh Kakul, Gambuh Satria Lelana, dan Gambuh Pasemetonan yang paling baru. Nyoman mengatakan sekaa gambuh Desa Batuan tersebut masih aktif hingga kini. 
 

Sama halnya dengan Nyoman Budiartha, I Dewa Dwi Putrayana juga mengatakan bahwa di Desa Batuan, Gambuh masih lestari keberadaanya. Namun, permasalahanya, kata dia adalah ketika regenerasinya hanya sebatas keluarga, orang di luar keluarga penerus yang belajar gambuh tidak ada. Dewa Dwi yang sudah belajar tari gambuh sejak dini mengatakan bahwa tidak hanya penarinya saja. pemain musiknya pun juga demikian. Penari gambuh muda ini menuturkan seperti pemain suling gambuh, hanya melakukan regenerasi kepada anaknya.
  
Dewa Dwi yang juga Mahasiswa Program Studi Sendratasik, Institut Seni Indonesia Denpasar ini menyayangkan hal tersebut. Menurutnya apabila hanya berkembang sebatas keluarga saja, keberadaan Gambuh tidak akan dikenal oleh masyarakat Bali lainnya. 
 
“Padahal di dunia internasional Gambuh ini sangat terkenal, hingga mendapat penghargaan UNESCO.” ujarnya.
 
Dewa Dwi begitu juga Nyoman Budiartha menyatakan hal senada bahwa hal ini disebabkan kurangnya sosialisasi mengenai Tari Gambuh di lingkungan masyarakat Bali. Menurut mereka sosialisasi diperlukan agar generasi muda mengetahui bahwa Bali ini kaya akan budaya, salah satunya ada Kesenian Gambuh. (bbn/fisipUnud/rob)


Minggu, 10 Juni 2018 | 11:55 WITA


TAGS: Kesenian Gambuh Merefleksikan Diri



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: