Gede Buka Peluang Aquascaping di Bumi Lahar

Rabu, 13 Juni 2018 | 08:45 WITA

Gede Buka Peluang Aquascaping di Bumi Lahar

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com,Karangasem. Seni Aquasceping atau seni menciptakan sebuah lanskap di dalam akuarium nampaknya belum begitu populer. Padahal jika ditekuni selain indah dipandang peluang ekonomi Aquascaping juga cukup menjanjikan.
 

Gede Blori, salah satu penghobi Aquascaping asal Karangasem mencoba memperkenalkan hobi uniknya tersebut di bumi lahar, Karangasem dengan cara ikut serta pada pameran PKB Karangasem. Dalam stand tersebut, ia mengungkapkan cara membuat dan memeliharanya.
 
"Untuk di Karangasem sebenarnya sudah ada peminatnya, hanya saja sedikit dan belum ada komunitasnya," kata Blori.
 
Menurutnya, hobi Aquascaping ini hampir mirip dengan hobi bonsai, perawatan dan segala sesuatunya hampir sama hanya saja Aquascaping menggunakan media aquarium sebagai tempatnya bukan di pot.
 
Selain itu, Aquascaping ini berbeda dengan aquarium yang menonjolkan ikan hiasnya sebagai pemandangan utama. Aquascaping justru lebih menonjolkan  sisi lanskap keindahan desain pemandangan bawah air dengan perpaduan tanaman air seperti lumut, anubias serta tanaman hias air lainnya sehingga ika- ikan yang dipergunakan kebanyakan mempergunakan ikan yang berukuran kecil.
 
Bagi para pemula yang ingin membuat sendiri aquascaping ini, perlu memperhatikan beberapa faktor seperti, jenis tanaman air yang dipilih, bahan yang ingin dipergunakan seperti untuk bebatuan, pasir hingga jenis kayu yang akan dipergunakan. Setelah semua itu dipersiapkan rangkai sesuai dengan yang diinginkan.  
 
Setelah semuanya selesai selanjutnya untuk pemeliharaan dan kelangsungan hidup tumbuhan air yang mulai ditanam tersebut perlu juga diperhatikan sistem pencahayaanya karena cahaya salah satu unsur penting yang berfungsi sebagai pengganti sinar matahari yang diperlukan oleh tumbuhan untuk berfotosintesis. Selain itu, asupan Karbondioksida (Co2) juga harus diperhatikan karena menjadi makanan bagi tanaman.
 
Hal tersebutlah yang menjadi penentu aquascaping itu berhasil atau tidaknya. Setelah tanaman air mulai tumbuh, harus diberi pupuk secara teratur. Temperatur air di dalam aquascaping ini juga sangat penting untuk menjaga kelangsungan tanaman di dalamnya sehingga dalam jangka waktu beberapa hari sekali harus dilakukan penggantian air. Jika semua itu sudah dilakukan maka dalam waktu dua mingguan tanaman baru mulai terlihat tumbuh.
 
"Kalo lihat kondisi dan temperatur air yang ada, untuk aquascaping cocok di Karangasem," ujarnya.
 

Sementara itu, di Karangasem sendiri ada beberapa jenis lumut air tawar yang ditemukan, seperti di Tirta Gangga, dirinya mengatakan ada 4 jenis lumut yang ditemukan diantaranya Ricardia, Java mose, Spiki dan Wiping. Hanya saja untuk batang pohon miniatur yang dipergunakan cukup sulit ditemukan. 
 
Kebanyakan pohon yang ada di Karangasem meski memiliki karakter keras namun setelah di dalam air jadi cepat hancur, untuk itu para peminat aquascaping disarankan menggunakan pohon import jenis Rasa mala. Pohon ini menurut Blori cukup tahan didalam air meski tak sebagus kayu Sentigi namun bisa bertahan sekitar 5 tahunan.
 
"Untuk satu aquascaping jadi berukuran 45x40x40 cm, dihargai sekitar Rp. 1,5 juta," akunya. (bbn/igs/rob)


Rabu, 13 Juni 2018 | 08:45 WITA


TAGS: Aquascaping Karangasem



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: