Seksologi dr. Oka Negara, FIAS

Remaja Sering ke Lokalisasi: "Belum Kencing Nanah, Belum Laki"

Minggu, 01 Juli 2018 | 07:05 WITA

Remaja Sering ke Lokalisasi: "Belum Kencing Nanah, Belum Laki"

beritabalicom

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Ada yang unik dan membuat miris di suatu siang, saat di hadapan saya ada dua orang remaja laki-laki usia belasan dan satu orang dewasa yang mengantarkan keduanya. Tebakan saya, kedua remaja ini masih pelajar SMP, mungkin berusia sekitar empat belas tahun.  Dan tebakan saya benar, yang satu, sebut saja namanya Kadek, usianya memang empat belas tahun, satu lagi Ketut, sahabatnya, juga berusia empat belas tahun. 
 
Keduanya adalah sahabat bermain di rumah yang kebetulan juga satu sekolah. Keduanya kelas dua SMP. Satu lagi, adalah paman dari Kadek, yang mengantar mereka berdua datang jauh-jauh dari Singaraja untuk bertemu dengan saya. 
 
Terlihat Kadek masih terlihat malu-malu dan agak sungkan saat bertemu saya, sementara Ketut terlihat lebih santai. Saya menebak lagi, bahwa yang sedang bermasalah adalah Kadek, dan memang benar. Lalu apanya yang unik? Dan apa yang membuat miris? 
 
“Keponakan saya ini bandel, Dok” adalah kalimat pertama yang diucapkan Si Paman saat semuanya dipersilakan duduk. “Kecil-kecil sudah kena sifilis” lanjut Si Paman. Kadek terlihat tersipu malu tetapi sambil memalingkan mukanya. Saat itu juga, saya dibuat terkejut, tetapi tetap saya tahan diri untuk tetap terlihat tenang. 
 
Mendampingi remaja dan berbagai permasalahannya memang sudah menjadi panggilan hati saya. Dan kasus seperti ini bukanlah kasus yang langka, tetapi tetap unik dan menarik untuk dihadapi, walau bikin miris hati. Setelah saya balas semua kalimat pembuka, menyapa Kadek dan Ketut dengan terbuka agar mereka nantinya mau cerita dengan lepas, saya lanjutkan dengan menuliskan beberapa data diri dan keterangan yang saya perlukan di lembar catatan pasien. 
 
“Coba Kadek ceritakan, apa keluhannya?” sebuah pertanyaan pembuka yang saya tanyakan. Kadek tadinya masih malu menjawab, sampai akhirnya mau bicara setelah Ketut setengah memaksanya. 
 
“Awake jeg cerita nae ajak Om Dokter, jujur gen, care ake pidan ne,” ucap Ketut. Itu ucapan Ketut artinya adalah meminta Kadek untuk bercerita apa adanya kepada saya, jujur saja, seperti saat dulu dia pernah mengalami hal yang sama. Berarti Ketut juga pernah mengalami hal yang sama sebelumnya, ini malah menambah keterkejutan saya, sementara Si Paman saya lirik terlihat tersenyum-senyum. 
 
“Iya, diceritakan saja, jangan ada yang ditutupi, itu akan lebih baik,” saya mengangguk ringan sambil memberi senyuman. 
 
Selanjutnya memang diceritakan semuanya oleh Kadek, dengan ditambahkan oleh Ketut, dan sesekali juga dibenarkan oleh Si Paman. Rupanya Si Paman sangat dekat dengan keduanya. 
 
Kadek menyampaikan keluhan, kencingnya sakit dan keluar nanah. Dia menyebut dirinya terkena penyakit sifilis. Ternyata walau masih duduk di bangku SMP, sudah sering melakukan hubungan seksual. Ini malah dilakukannya sejak kelas satu SMP. Tetapi dia tidak pernah melakukannya dengan teman sekolah atau teman seusianya, melainkan dengan pekerja seks. Pengaruh dari orang dewasa dan sebayanya yang membuatnya menjadi lebih dini aktif secara seksual. 
 
Awalnya Kadek dengan beberapa teman seusianya diajak oleh orang yang lebih dewasa, waktu itu adalah kakak kandung dari salah satu temannya, ke "komplek" atau sebuah tempat prostitusi di daerah Bungkulan, sebagai pengalaman pertama. Selanjutnya lebih sering Kadek datang dengan teman-teman sebayanya saja. Dan ini dilakukan cukup sering, bisa sebulan satu hingga dua kali, tentu saja tanpa sepengetahuan orang tua. 
 
Membohongi orang tua dengan meminta uang lebih untuk beli buku pelajaran, menyisihkan uang jajan, hingga meminta uang dari temannya yang lebih mampu adalah cara Kadek untuk mengumpulkan uang untuk mencari pekerja seks. Kadek menyebutkan satu kali berhubungan seks dengan pekerja seks, dia membayar lima puluh ribu rupiah. Dan sekali lagi, Kadek tidak sendirian, tetapi ada beberapa teman sebayanya lagi yang juga sering melakukan hal yang sama, rupanya termasuk juga Ketut.
 
“Yen tonden kena kencing nanah, tonden muani adane, Dok” begitu kalimat yang terlontar dari Kadek saat saya tanya kenapa berani berhubungan seksual di usia sangat muda dan apa sudah tahu risikonya bakal terkena infeksi menular seksual atau penyakit kelamin. Kalimat tadi maksudnya adalah “kalau belum kena kencing nanah, belum bisa disebut laki-laki”. 
 
Mengejutkan. Rupanya prinsip dan persepsi ini memang dijalani oleh Kadek dan teman-teman sebayanya, bahkan para kakak-kakak mereka yang lebih dulu mengalami hal serupa. Buktinya Ketut juga sempat terkena kencing nanah sebelumnya, tetapi disebutkan sudah sembuh. Saat saya tanyakan juga ke Si Paman, dijawabnya dengan membenarkan adanya persepsi dan perilaku seksual aktif seperti itu di lingkungannya sejak lama. Semua yang melakukannya sudah paham akan risiko bisa tertular infeksi, tetapi tetap dijalankan. 
 
Jika nantinya benar terkena infeksi, misalnya dengan gejala kencing nanah, seringkali dibanggakan dan diceritakan ke sebaya yang lain, dianggap sebagai sebuah pencapaian yang keren, untuk selanjutnya dicoba diobati, biasanya diobati sendiri sendiri dulu dengan minum sembarang obat antibiotik, jika tidak sembuh baru datang ke dokter. 
 
Sayapun geleng-geleng kepala mendengar semua penjelasan ini, terlebih saat tahu mereka melakukan ini tanpa sama sekali mau menggunakan kondom, walau terkadang sudah ditawarkan oleh pekerja seks yang diajak berhubungan seks. 
 
Kadek memang tertular infeksi menular seksual, jenisnya adalah “gonore”. Itu yang saya diagnosis. Jadi bukan sifilis. Banyak orang salah kaprah, menyebutkan kencing nanah sebagai sifilis, padahal sangat berbeda antara sifilis dengan gonore. Gonore gejala utamanya memang kencing nanah, dengan rasa nyeri saat buang air kecil, sementara sifilis sebenarnya gejala utamanya adalah luka di kelamin, lukanya cekung, bersih, sering kali tidak terlalu terasa nyeri. 
 
Sebenarnya membedakan dan memastikan keduanya ini adalah sangat penting, karena di samping kedua jenis infeksi ini kasusnya sering dan banyak, juga karena pengobatannya berbeda. Mengobati sendiri dengan minum obat sembarangan, terutama antibotik, tanpa konsultasi ke dokter, sangat tidak diharapkan. Malah bisa berbahaya, disamping tidak mendapatkan kesembuhan yang akhirnya infeksi menyebar ke saluran reproduksi yang lebih dalam, juga bisa memunculkan resistensi obat. Yang harusnya bisa disembuhkan, malah suatu saat tidak bisa disembuhkan lagi karena kuman sudah menjadi resisten atau kebal terhadap obat. 
 
Terus, jika infeksi menyebar ke saluran reproduksi yang lebih dalam akan dapat merusak testis dan perlengketan di saluran reproduksi, akibatnya terjadi gangguan kesuburan di masa depan.
 
Hal unik lain yang juga terungkap saat saya tanyakan, kenapa pekerja seksnya tetap mau berhubungan seks dengan mereka yang masih belum cukup dewasa, tanpa kondom pula, jawaban yang mengejutkan adalah buat awet muda, juga bisa lebih cepat mengobati secara alamiah keputihan yang muncul. Tentu saja ini mitos belaka, dan sangat keliru. 
 
Justru sesungguhnya, di samping terkena gonore, juga ada bahaya infeksi lain yang lebih serius mengancam, yaitu penularan HIV, yang juga dapat ditularkan dari hubungan seksual yang berisiko seperti ini. Berhubungan seksual dengan pekerja seks atau gonta-ganti pasangan seksual tanpa menggunakan kondom. Dan sudah semakin banyak saat ini remaja usia sekolah yang tertular HIV dari hubungan seksual yang berisiko.
 
Akhirnya, semua saya coba jelaskan kembali kepada Kadek, juga Ketut, dan Si Paman. Ini adalah kasus serius yang tidak bisa dihadapi dengan senyum-senyum dan sekedar mengobati gonorenya saja. Saya merekomendasikan kepada Kadek, juga Ketut, termasuk meminta mereka mengajak teman-teman mereka yang sudah pernah terinfeksi gonore, sifilis, atau yang sedang aktif secara seksual untuk tes HIV, di Klinik VCT terdekat yang saya rujuk atau yayasan yang melayani. 
 
Lebih cepat tes semakin baik, untuk diketahui sejak awal untuk mendapatkan dukungan sejak awal jika ternfeksi, termasuk untuk mencegah penularan ke orang lain. 
 
Dari kasus ini, banyak hal yang dapat dipelajari dan diusulkan. Betapa pendidikan seks yang tepat dan komprehensif harusnya sudah dapat diberikan sejak dini di sekolah, tentunya disesuaikan dengan usia dan kebutuhan. 
 
Memberikan pemahaman kepada anak tentang merawat organ kelamin dan berperilaku seksual yang sehat, paham kapan sudah boleh melakukan hubungan seksual, tahu risikonya jika dlakukan di usia dini. Sekaligus perlunya mendidik orang tua agar paham melakukan edukasi seksual dan komunikasi seksual di rumah, buat anak-anaknya. 
 
Juga membentuk masyarakat yang lebih peka dan peduli, serta mendukung remaja untuk dapat menjadikan remaja yang mandiri, kreatif dan bertanggung jawab, terutama untuk kesehatan diri dan kesehatan reproduksinya. 
 
Bagaimanapun juga pergaulan remaja jaman sekarang akan lebih baik mendapatkan dukungan dan pendampingan yang lebih baik, sejak di rumah, dengan meningkatkan komunikasi, support, sekaligus pengawasan terbaik. Demikian pula di sekolah, jadikanlah kembali sekolah menjadi tempat remaja pelajar mendapatkan bimbingan dan pendidikan terbaik untuk membuat mereka menjadi mandiri dan bertanggung jawab, untuk menghindari pacaran remaja yang tidak sehat, yang berisiko infeksi menular seksual dan kehamilan usia dini. 
 
Karena sesungguhnya justru “laki itu adalah jika sanggup mengisi masa remaja dengan kegatan dan hobi bermanfaat, tanpa pernah terkena kencing nanah.” Semoga bisa diambil manfaat dan hikmahnya. [bbn/dr. Oka Negara/psk]


Minggu, 01 Juli 2018 | 07:05 WITA


TAGS: seksologi oka negara beritabali



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: