Musik Gambelan Sebagai Bagian Hidup Seniman Ketut Gde Asnawa

Minggu, 01 Juli 2018 | 08:20 WITA

Musik Gambelan Sebagai Bagian Hidup Seniman Ketut Gde Asnawa

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com,Denpasar. Nama Ketut Gde Asnawa tidak bisa dipisahkan dengan gambelan di Bali. Kepiawaiannya bermain kendang dan seperangkat gambelan lain telah menjadikan musik tradisional Bali sebagai bagian hidupnya. Banyak kalangan menyebut Tut De (panggilan akrab Ketut Gde Asnawa) merupakan salah seorang seniman muda karawitan Bali berbakat yang layak memperoleh pujian.
 

Penguasaan seni karawitan Tut De tidak bisa dipisahkan dengan kehidupannya sejak kecil, ketika masih anak-anak Asnawa amat suka membantu orangtuanya bekerja di sawah dan memelihara hewan. Kendatipun seorang anak petani, namun ia tidak selalu hanyut dengan kehidupan tradisional bertani. Ia malah  makin tetap menunjukan bahwa dirinya sebagai anak Bali yang suka dan mencintai kesenian. Satu bukti, saat liburan Minggu atau tanggal merah, Asnawa kecil suka bermain di balai banjar Kaliungu Kaja, Denpasar. Di sana ia memperhatikan dan mendengarkan tetabuhan gambelan yang dimainkan oleh warga banjar Kaliungu Kaja, tanah kelahirannya.
 
Jauh sebelum kemunculan cintanya pada gambelan di balai banjar itu, Asnawa kecil sebenarnya sudah suka bernyanyi-nyanyi kecil di mulutnya menyenandungkan irama gambelan Bali. Sekali – sekali mulutnya menyanyikan tembang gegendingan gambelan Bali, kala itu tangannya juga bergerak seakan-akan menabuh gambelan.
 
Bakat Asnawa awal-awalnya boleh dibilang tidak begitu kentara untuk ukuran anak yang menyukai tetabuhan Bali. Namun, sang kakek yang bernama Pekak Gabyuh dan pamannya, Ketut Geria telah menangkap sinyal halus yang berdenyar pada jiwa Asnawa. Menurut sang kakek, Asnawa potensial diajarkan menabuh gamelan jenis gong. Maka, begitu mulai sekolah SD, bocah Asnawa pun dibimbing secara sungguh-sungguh oleh sang kakek dan pamannya yang memang sudah dikenal sebagai seniman tabuh andal di seantero Badung.
 
Menariknya, Asnawa dan Pekak Gebyuh tak ubahnya memiliki daya pikat yang tak terpisahkan. Sang kakek punya harapan besar agar Asnawa nantinya bisa tumbuh menjadi seniman tabuh. Di sisi lain, Asnawa sendiri merasa telah menemukan guru seni yang sangat layak membimbing dirinya menekuni seni. Begitulah, berangkat dari kesukaan membuntuti pekak-nya mengajar tetabuhan di balai Banjar Kaliungu Kaja, Asnawa kian hari semakin tertarik Belajar menabuh. Ia pun memberanikan diri langsung memainkan gangsa, terutama saat para penabuh senior sedang istirahat. Tidak jarang waktu senggangnya justru diisi dengan datang sendiri ke balai banjar untuk belajar menabuh gambelan dengan gegendingan (irama) yang dia dengar kemarin malamnya.
 
Melihat polah Asnawa yang makin “berani”, sang kakek dan pamannya pun makin memberikan kesempatan leluasa untuk belajar menabuh. Alat music apa pun yang diambil Tut De tak pernah dilarang. Kapan pun dia minta latihan menabuh, sang kakek dan sang paman senantiasa siap meladeni.
 
Proses pembelajaran seni tetabuhan pada diri Asnawa boleh dibilang unik. Bisa dibayangkan betapa sulitnya anak kecil semacam Asnawa yang masih duduk di bangku SD ingin belajar menabuh terompong yang panjangnya mencapai dua meter. Maka, setiap kali belajar menabuh terompong bocah Tut De, selalu membawa kursi yang dibuat khusus, diisi roda, sehingga bisa digerakkan ke kanan dan ke kiri sesuai tuntunan irama gambelan. 
 
Dalam proses pembelajaran dua tahun saja Asnawa sudah menjadi anggota sekaa gong atau penabuh muda di tingkat banjar. Ia malah dipercaya mempertunjukkan kebolehannya menabuh pertama kali di Pasar Satria untuk memeriahkan sebuah piodalan. Ketika itu, karena merasa terlalu kecil di kancah seni tabuh Asnawa mengaku tidak merasakan kenikmatan seni seperti yang dirasakan oleh penabuh dewasa. Ia hanya merasakan sedikit bangga  ketika mulus memainkan salah satu alat musik gambelan. 
 
Memasuki SMP di Denpasar, Asnawa dipercaya mengiringi pementasan sebuah group drama gong keliling desa. Ketika itu ia dikenal sebagai tukang gupek (penabuh kendang) yang cukup piawai. Tut De mengaku banyak memperoleh ilmu menabuh dari penabuh terkenal, antara lain I Wayan Konolan dari Kayumas, I Wayan Siki dari Sumerta, hingga pendidikan seni di lembaga formal di bawah bimbingan guru Wayan Berata, I Nyombang Rembang, I Gusti Nyoman Panji, dan lain-lainnya.
 

Tak juga ada hambatan berarti bagi Tut De dalam menekuni seni tabuh. Sarana gambelan dan tempat latihan telah tersedia dengan baik di balai banjar Kaliungu Kaja. Selain itu sejumlah guru seni tabuh juga dengan tulus sanggup mengajarinya menabuh. Dari proses itu dia pun berhasil menemukan satu rumus penguasaan menabuh antara lain jenis kendang yang terpadu dengan tarian topeng. 
 
Bagi Tut De, tari topeng, terutama topeng keras, memerlukan iringan gambelan yang diperkuat dengan kecermatan pukulan. Agem dan ritme tarian topeng tidak memiliki pakem yang jelas. Sang penari bisa saja berhenti mendadak dan nguncab dengan bebas.
 
Dengan menguasai tetabuhan itu Asnawa makin yakin hidupnya akan punya arti. Namun, saat itu ia pun masih tetap seperti anak petani lainnya sehari-hari makan nasi cacah (gaplek), hidup dalam keluarga dengan rumah sederhana. Di balik keserbasederhanaan itu, ia tetap merasa bersyukur karenya orang tuanya ternyata masih sanggup membiayai sekolahnya hingga tamat Kokar (kini SMKI) Denpasar, setelah tamat SMP tahun 1978.
 
Di Kokar itulah Asnawa mengaku bakat seninya lebih terasah. Ia pun lebih banyak mengutamakan insting seni dibandingkan mengenali pakem seni tabuh yang sebenarnya. Di sekolah ini juga ia belajar bagaimana menjiwai seni (ekspresi), komposisi, dan sejumlah pakem seni tabuh yang belum tergambar dalam ingatannya. Namun di luar itu semua, ia tetap saja dikenal sebagai penabuh kendang muda yang handal di samping juga sebagai juara kelas dan Ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) Kokar. Baginya penguasaan kendang sangat penting karena dalam seni tabuh gong kebyar, kendang tetap merupakan pusat kendali irama. Sejak di Kokar ini pula Asnawa mulai unjuk kebolehan menabuh ke luar Denpasar hingga ke tanah Jawa.
 
Keinginannya berkesenian yang terus menggelegak menjadikan Tut De setelah tamat dari Kokar melanjutkan kuliah ke ASTI (kini STSI, Denpasar). Di perguruan tinggi seni satu-satunya di Bali ini ia mendalami musik pengambuhan dengan geding Semar Pagulingan. Ia pun terbilang rajin merekonstruksi gending-gending Gambuh kuno yang nyaris lenyap digerus kesenian modern. Tak hanya terhenti sampai di situ, Asnawa juga berhasil menciptakan komposisi musikal Bali yang diberi jdul Ketug Lindu. Sebagaimana judulnya, komposisi karya Tut De ini terinspirasi oleh peristiwa alam gempa bumi. Lindu dalam bahasa Bali memang berarti gempa bumi.
 
Garapan kreasi komposisi itu mengantarkan Asnawa belajar etnomusikologi di sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat. Di universitas itu ia belajar pengetahuan music bangsa-bangsa yang berbau etnis antarbangsa. Tahun 1991 ia akhirnya berhasil menyabet gelar magister of art (MA) di bidang etnomusikologi. (bbn/rls/rob)
 


Minggu, 01 Juli 2018 | 08:20 WITA


TAGS: Musik Gambelan Bali Ketut Gde Asnawa Seniman Denpasar



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: