Astita: Eksistensi Seniman Terbebas dari Eksploitasi Bisnis

Minggu, 08 Juli 2018 | 09:40 WITA

Astita: Eksistensi Seniman Terbebas dari Eksploitasi Bisnis

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com,Denpasar. Dalam format lebih konkret, seniman sekaligus cendekiawan, I Nyoman Astita  MA mengisyaratkan agar seniman Bali diberikan kesempatan tampil lebih eksis. Eksistensi ini tidak hanya berupa pembebasan berkarya melainkan juga dalam wujud pemberian penghargaan guna kepuasan batin maupun psikologis. Karena itu, ia menyarankan agar seniman dibebaskan dari eksploitasi bisnis sekaligus bisa menikmati hasil karya berkesenian masing-masing secara nyata.
 

Ia mengakui, dalam konteks eksploitasi bisnis, seniman-seniman Bali di Bali masih punya kaidah berkesenian demen ajum (suka dipuji), tanpa memperhitungkan untung rugi apalagi imbalan yang wajar. Padahal kekokohan jiwa seniman di Bali, menurut Astita, seharusnya juga dilandasi konsep desa (tempat), kala (waktu), patra (audiensnya). Dengan konsep ini, seorang seniman bisa menyadari dimana, kapan, dan kepada siapa saatnya ia menuntut imbalan.
 
Dunia karawitan Bali tidak pernah lepas dalam kehidupan I Nyoman Astita. Kondisi itu tiada lain karena laki-laki bertumbuh ‘ramping’ ini sangat gemar dan tekun dalam berkesenian. Tak mengherankan bila nama pria kelahiran Banjar Kaliungu, Denpasar, ini disebut-sebut sebagai salah seorang tokoh seniman muda karawitan Bali.
 
Astita yang akrab disapa Komang ini termasuk beruntung lahir dari lingkungan seniman. Ketika dia berumur 9 tahun di era 1960-an, tidak terlalu gampang bagi anak-anak untuk sempat belajar karawitan secara suntuk. Maklum, ekonomi Negara yang morat marit saat itu menjadikan kebanyakan orang lebih mengutamakan tuntutan isi perut dibanding belajar megambel yang pada masa itu diyakini belum memberi hasil materi secara memadai. Toh begitu, Astita muda malah kian suntuk menekuni bilah bilah gender dan plawah gong.
 
Kendatipun usianya belia, namun naluri seninya dinilai tak kalah tajam dibanding kalangan remaja di desanya yang juga menekuni seni karawitan Bali. Di sela-sela membantu ibunya sebagai dagang gantal di Pasar Satria dan membantu sang ayah di sawah, Astita kecil tetap menyisihkan waktunya untuk belajar megambel, memainkan alat-alat music tradisi Bali.
 
Begitulah, pada usia 10 tahun bakat Astita kecil tampak kian mengkelebat-kelebat. Ia banyak mendapat tuntunan dari pamannya, I Ketut Geria, yang dikenal sebagai jagoan gong kebyar dan gender. Selain dari Geria, ia juga banyak dapat bimbingan seniman legendaris bidang tabuh dan tari yang juga pamannya, I Wayan Gebyuh. Tak terkecuali pula ayahnya, I Ketut Degur, yang dikenal sebagai seorang penabuh. Dan, selang empat tahun kemudian ia sudah memberanikan diri bergabung dengan Sekaa (kelompok) Gong Kalingga Jaya di Banjar Kaliungu Kaja, Denpasar.
 
Astita memang tidak bias menghindar dari hati nuraninya yang terpaut dengan kesenian. Setelah lulus SR (Sekolah Rakyat) Nomor 11 Denpasar tahun 1965 dan ST (Sekolah Teknik) Negeri Jurusan Bangunan Denpasar tahun 1968, ia sempat melanjutkan ke STM (Sekolah Teknik Menengah) jurusan serupa. Tapi, panggilan hati nuraninya pada kesenian menjadikan ia tak betah lama-lama menekuni bidang teknik. Di STM dia hanya betah bertahan satu kwartal, lalu meloncat ke Kokar (Konservatori Karawitan) di Jalan Ratna, Denpasar (kini SMKI, Sekolah Menengah Karawitan Indonesia). 
 
Penyeberangannya ke Kokar selain karena dorongan seni yang menggebu-gebu juga karena ia yakin biaya sekolah disini jauh lebih rendah. Dan, lewat proses pembelajaran yang tekun, ia pun akhirnya bisa memainkan semua alat gambelan Bali, termasuk yang butuh kemampuan spesifik, seperti mengupek atau menabuh kendang. Bahkan, sebagai tukang gupek muda, gupekan Astita sering memukau penonton, tak terkecuali teman-teman dan kalangan guru-gurunya di Kokar. 
 
Kelebihan inilah, antara lain, yang kemudian mengantarkan ia dipercaya sebagai anggota Tim Kesenian Bali ke Jerman tahun 1970 bersama seniman senior Raka Saba, I Gusti Ngurah Panji dkk. Tim Kesenian Bali yang dikoordinasikan Ida Bagus Mantra, mantan Dirjen Kebudayaan RI dan mantan Gubernur Bali (kini sudah almarhum) ini sempat mementaskan tari Barong dan Keris.
 
Sepulang dari Jerman tak terkira girang hati Astiti muda. Pikiran dan wawasannya pun kian terbuka luas. Selain puas bisa mengenal Negara luar dengan ekspresi seninya, ia juga dapat uang. Dari sini ia bertambah yakin bahwa seniman sebenarnyalah juga bisa hidup mapan sepanjang mampu tampil professional.
 
Maka, setelah tamat dari Kokar tahun 1968, kecintaan Astita di bidang kerawitan makin tak terbendung. Ia lantas mematangkan bakatnya dengan melanjutkan studi ke Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar (belakangan berganti nama menjadi Sekolat Tinggi Seni Indonesia, STSI). Di sinilah ia mengaku banyak mereguk pengalaman. Selain belajar kerawitan, ia juga rajin berorganisasi. Ia pun sempat memegang jabatan Ketua Senat Mahasiswa ASTI periode 1973-1975.
 
Tak hanya itu, Ia juga memperluas wawasan seninya dengan melibatkan dari pada bidang penelitian seni bersama para dosen, antara lain mantan Ketua ASTI Dr. I Made Bandem, di samping juga dengan dosen dan mahasiswa senior di kampusnya. Lewat aktivitas itulah ia terus menambah visi dan kecintaannya pada jagat karawitan Bali. Dan, belakangan suami Ni Putu Lastini ini pun sering memperoleh kesempatan berkesenian ke luar negeri.
 
Satu hal yang menarik perhatian kalangan seniman kampus saat itu adalah bahwa dalam waktu satu setengah tahun sebagai mahasiswa Astita yang anak petani ini mampu melahirkan karya monumental yang diberinya judul Gema Eka Dasa Ludra, tahun 1979. Komposisi gambelan ini merupakan salah satu bentuk seni karawitan kontemporer yang berpijak pada nilai-nilai tradisi karawitan Bali namun diramu secara artistic dalam format baru. Karya Astita ini memikat perhatian karena diolah dengan penataan tetabuhan yang disikapi dengan teknik penyajian, bukan terikat pada ensambel tertentu. Selain itu, dalam karyanya ini ia memanfaatkan instrument lepas, seperti sapu lidi, kulkul, gong dekoratif yang artistic sesuai kondisi dan situasi panggung pementasan. Karya ini lahir berkat pembelajaran menuju proses penuangan analisis antara kesenian di Tanah Air dengan luar negeri.
 
Begitulah, selama pendidikan ia seakan tidak pernah melepaskan diri dari barungan gong. Pikirannya selalu tercabik-cabik oleh hasrat untuk menghibur diri dan mengimpelentasikan hasil tangkapan imajinasi seni  pada lingkungan yang dibulatkan dengan bakat dan teori. Toh, Astita tetap menghormati tradisi kesenian lisan (lingkungan banjar) yang berpijak pada sentuhan budaya daerah, khususnya bidang karawitan.
 
Astita memang beruntung terjun di bidang kesenian tradisi dibandingkan pilihannya semula di bidang teknik. Di tengah-tengah kesuntukannya menempa ilmu di ASTI Denpasar, pertumbuhan kesenian Bali malah makin memperoleh tempat di hati masyarakat. Rangsangan kegiatan kesenian tahunan yang dirancang dalam wadah Pesta Kesenian Bali oleh Gubernur Bali Prof Dr Ida Bagus Mantra sejak 1978 menjadikan masyarakat Bali kian bangga pada kesenian sendiri. Sekaa-sekaa kesenian, termasuk tabuh, pun bertumbuh di seantero Bali. ASTI sebagai lembaga formal yang secara spesifik bergerak di jagat kesenian pun kian dikenal masyarakat Bali. Dalam kondisi eksternal seperti itulah Astita merasakan ada kekuatan tersendiri dalam dirinya. Ia pun berani memproklamasikan pilihannya untuk hidup dan mati di dunia seni.
 
Sehari-hari selain berkesenian, Astita mengajar di almamaternya. Sejak meraih gelar sarjana muda tahun 1976, ia memang bergabung sebagai dosen di almamaternya. ASTI Denpasar hingga kini. Di sini ia menapak kariernya hingga pernah menduduki jabatan structural sebagai Pembantu Ketua III STSI. Yang menarik, kendatipun sibuk berkecimpung di dunia akademis, ia senantiasa bisa meluangkan waktunya membina dan melatih sekaa gong di banjar-banjar, termasuk ngayah di pura-pura. Pada sisi lain dia juga sering ditunjuk pihak STSI Denpasar maupun Pemda Bali unjuk kebolehan di bidang karawitan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
 
Sekalipun tergolong memiliki ‘jam terbang’ cukup banyak di bidang musik tradisi maupun akademis, namun Astita selalu tampil rendah hati baik di tanah kelahirannya maupun di tempatnya mengajar. Di kalangan teman-teman sejawatnya di kampus, seniman berbadan jangkung ini bahkan dijuluki si plawah hidup, karena kemampuannya mengingat puluhan judul gambelan ciptaan seniman tradisi maupun ciptaannya sendiri di luar kepala. Tanpa melihat catatan lagi, dia langsung hafal nama-nama gending tabuh sekaligus penciptanya, sehingga tak jarang Astita menjadi ‘buku berjalan’ bagi teman-temannya. Soalnya, dia tak Cuma hafal menyebut di mulut, tapi cekatan dan rapi jail memainkan gending-gending tersebut di atas bilah-bilah alat-alat gambelan dengan tangannya sendiri.
 
Penguasaan demikian dimilikinya berkat kemampuannya merumuskan secara cepat gending-gending tabuh yang di dengarnya. Ia memiliki rumusan tersendiri tentang padalingsa, ketekan, durasi, dan sebagainya. Rumusan ini biasanya sering digunakan seniman Bali tempo dulu. Namun demikian, ia tidak melecehkan adanya penguasaan pola hafalan gambelan yang disertai penulisan notasi atau pencatatan, meskipun ia sendiri mengaku lebih doyan dan mengutamakan ingatan daripada pencatatan, tak terkecuali untuk kepentingan pengajaran. Astita sering menyarankan agar seniman muda tidak terpaku dengan catatan teoretis karena bisa memanjakan sekaligus memperlemah daya ingat.
 

Astita mengaku bisa mencapai kapasitas keseniman di bidang music tradisi Bali seperti sekarang ini berkat system nyantrik. Maksudnya, untuk belajar gender, misalnya, ia memilih harus melihat atau bertemu langsung dengan guru gender tanpa mengenal waktu. Dengan demikian, dia memiliki kesempatan mendalami gender sedemikian leluasa, bahkan nyaris tanpa batas waktu. Sayangnya, dia menilai, soal waktu ini lah yang justru menjadi benturan utama di lembaga pendidikan formal akibat jam belajar yang amat sangat terbatas. Ujung-ujungnya, materi yang bisa dipelajari di bangku pendidikan formal pun sangat sedikit.
 
Meskipun menyandang predikat sebagai seniman sekaligus cendekiawan, namun Astita mengaku tidak terlena dengan  predikat-predikat tersebut. Di benaknya hanya terlintas pencarian keberhasilan yang bisa memuaskan diri sendiri dan orang lain. Ia baru mau dibilang seniman berhasil apabila karya-karyanya diterima bahkan bisa dimainkan seniman lain. Selain itu, baginya seorang seniman juga harus mampu memberikan kontribusi terutama dalam bentuk inovasi.
 
Begitulah, Astita tak pernah berhenti mencari inovasi-inovasi dalam berkesenian. Ia tak ingin kesenimanannya justru membuahkan kemubasiran. Karena itu, dia berusaha terus membentuk energy guna mengangkat citra dan martabat seni karawitan Bali agar mampu mengimbangi seni modern dan siap menerima gamparan globalisasi. Ia berkeyakinan, bahwa seni yang digeluti punya hak untuk eksis seirama dengan perkembangan kesenian lainnya. (bbn/rls/rob)
 


Minggu, 08 Juli 2018 | 09:40 WITA


TAGS: Nyoman Astita Seniman Denpasar



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: