SRA Berbasis Bebas Kekerasan Masih Jarang Diterapkan

Senin, 16 Juli 2018 | 14:00 WITA

SRA Berbasis Bebas Kekerasan Masih Jarang Diterapkan

istimewa

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Kabid Pemenuhan Hak Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kota Denpasar, Tresna Yasa mengatakan konsep Sekolah Ramah Anak (SRA) yang berbasis bebas kekerasan masih jarang diterapkan. Padahal SRA merupakan program untuk mewujudkan kondisi aman, bersih, sehat, peduli dan berbudaya lingkungan hidup bagi anak.

"Tentunya yang juga mampu menjamin pemenuhan hak dan perlindungan anak dari kekerasan, diskiminasi dan perlakuan salah," kata Tresna Yasa pada Senin (16/7) saat melakukan verifikasi di Sekolah Dwijendra Denpasar.

Tresna Yasa menuturkan sebenarnya konsep SRA sudah lama diterapkan di setiap sekolah-sekolah. Namun yang sudah memasyarakat adalah sekolah ramah anak bersih dan sekolah ramah anak adiwiyata yang berbasis lingkungan. Sedangkan sekolah ramah anak berbasis bebas kekerasan masih jarang diterapkan.

Upaya sosialisasi kini terus digencarkan di sekolah-sekolah yang ada di Kota Denpasar. Terlebih lagi sangat tepat saat penerimaan siswa baru. Tentunya diharapkan dapat menghindarkan adanya perpeloncoan dan kekerasan.

“Ada beberapa jenis kasus yang terjadi disekolah, diantaranya kekerasan pada siswa yang dilakukan oleh guru atau kepala sekolah, tindak kekerasan pada kegiatan sekolah seperti ekstrakulikuler dan tawuran antar pelajar termasuk juga bullying,” tutur Tresna Yasa.

Pemerintah Kota Denpasar terus berupaya memberikan perlindungan terhadap hak-hak anak dengan mewujudkan sekolah ramah anak (SRA). Pada prinsipnya SRA sama dengan kota layak anak (KLA) namun lebih menukik pada sekolah dalam memberikan hak-hak anak di bidang pendidikan.

Saat ini di Kota Denpasar telah terbentuk 19 SRA yang tersebar di empat kecamatan. Tim Verifikasi, Endang Sadbudhy Rahayu mengatkan dalam mewujudkan sekolah ramah anak semua pihak harus turut berperan terutama guru di sekolah. Sebagai guru/wali kelas, tidak seharusnya membeda-bedakan perlakuan terhadap anak didik, tidak memberikan stigma negatif, peka terhadap perubahan kondisi anak didik, mendengarkan setiap informasi yang diberikan dan tidak membeda-bedakan informasi yang diberikan anak didik. Hal-hal inilah yang menjadi resep yang dapat dilakukan oleh tenaga pendidik untuk mewujudkan SRA di sekolah masing-masing.

Kepala Sekolah SMP Dwijendra Ni Wayan Nadi Supartini mengakui berbagai inovasi telah dilakukan untuk mewujudkan sekolah ramah anak. Salah satunya memasukan pendidikan moral pada setiap mata pelajaran sehingga diharapkan dapat mewujudkan karakter anak yang tangguh.[bbn/rlsdps/mul]

 


Senin, 16 Juli 2018 | 14:00 WITA


TAGS: Sekolah Ramah Anak Denpasar



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: