Seniman Gamelan I Wayan Beratha, Darah Seni Mengalir dari Sang Kakek

Minggu, 29 Juli 2018 | 08:20 WITA

 Seniman Gamelan I Wayan Beratha, Darah Seni Mengalir dari Sang Kakek

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. I Wayan Beratha lahir dari keluarga seniman tahun 1926, di Banjar Belaluan Denpasar. Kini menetap di Banjar Abian Kapas Kaja. Kakeknya, I Ketut Keneng (1841-1926) adalah seniman besar pada zamannya. Sang kakek adalah ahli karawitan dan pagambuhan.
 

Hampir sebagian besar kehidupan pekak (kakek) Keneng ini diabdikan untuk keluarga Puri Denpasar. Ia adalah kesayangan raja I Gusti Agung Ngurah Denpasar. Malah pengabdiannya berlangsung terus hingga puputan Badung meletus tahun 1906. 
 
I Ketut Keneng, sang kakek mempunyai dua orang putra, yakni I Made Regog dan I Nyoman Regig. Dua saudara kakak beradik ini juga adalah seniman. I Made Regog inilah yang nantinya menjadi ayah I Wayan Beratha. Sebagai seniman besar, sang ayah, I Made Regog, memperoleh sejumlah penghargaan, diantaranya piagam Anugrah Seni dari Pemerintah Pusat, diterima 13 Juli 1977. Piagam Kerti Budaya dari Bupati Badung I Made Dana tahun 1974. Piagam Darma Kusuma dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Bali pada 5 April 1986. 
 
Pendidikan formal I Wayan Beratha hanya sempat ditempuh selama 5 tahun di Sekolah Rakyat. Sejak kecil Beratha telah mengenal betul nada gambelan. Maklum, di rumahnya sendiri tersedia beragam gambelan Bali. Ayahnya, I Made Regog memang berharap supaya I Wayan Beratha nantinya bisa meneruskan tradisi keluarganya. Maka tak terelakkan lagi, pada sang ayah sendirilah mula pertama ia berguru. Umur 15 tahun Beratha mendapat tugas berat yakni membina sekaa-sekaa yang tadinya telah dibina ayahnya sendiri.
 
Selain pada ayahnya sendiri, Beratha juga sempat berguru pada sejumlah tokoh seni terkenal, diantaranya Ida Bagus Boda dari Kaliungu, dari guru ini Beratha mendapat pelajaran karawitan dan tari Palegongan. Ini dilakukannya pada tahun 1963. Dan tahun 1969 ia berguru pada I Nyoman Kaler, disini ia memperdalam tari-tarian klasik beserta tabuh gong kebyar. Sementara dari I Made Grebeg ia mendapat pendalaman tari Jauk. 
 
Di tahun 1957 di banjar Belaluan, ia mendirikan sekaa Gong Sad Merta, dan Beratha sendiri sempat mengajar tari dan tabuh. Pada tahun ini pula I Wayan Beratha telah mengajar di sejumlah sekaa gong di Bali, diantaranya di Kerambitan Tabanan, Banjar Delod Peken, Singaraja, Banjar Pikat Klungkung, dst. Tahun 1958 muncul karya monumentalnya dalam bentuk tarian yakni tari Yudha Pati, tari Kupu-Kupu, tari Tani. 
 
Dalam hal seni karawitan, Beratha mempunyai pandangan yang sangat terbuka, membuang fanatisme kedaerahan. Maka tahun 1957-1959, ia mulai menyadap pembauran warna gambelan yang meretas jauh bola pola kedaerahan. Pola-pola ini menurutnya disebabkan oleh adanya kompetensi di jaman Raja-Raja yang berlangsung hingga zaman penjajahan. Maka ia memberanikan diri mempelajari karawitan Bali Utara dan mengajarkan karawitan Bali Selatan di seluruh Bali. Di Buleleng Beratha bertemu dengan tokoh kawakan dalam karawitan, yakni I Gede Manik. Di Jagaraga dan Bubunan dua tokoh Bali Selatan dan Bali Utara ini sering bertemu. Lalu jadilah I Gede Manik dan I Wayan Beratha jembatan gaya Bali Selatan dan Utara.
 
Tahun 1966 Beratha mencoba bereksperimen meneruskan tradisi keluarganya sebagai pelaras gambelan, ia membuat satu tungguh gangsa berlaras pelog lima nada dengan bahan permobil. Hasilnya sangat memuaskan. Maka jadilah I Wayan Beratha pelaras gambelan paling laris di Denpasar. 
 
Sementara itu ia juga bersemangat dalam mengembangkan seni tari. Tahun 1966 bersama guru-guru SMKI Denpasar ia mendirikan kursus tari Bali Krida Laksana dengan ia sendiri menjadi salah satu pengajarnya. Sebelumnya, di tahun 1964, Beratha melawat ke negeri Paman Sam dalam rangka New York Fair. Kehadirannya saat itu sebagai pemimpin teknis pada seksi Bali, guna memperkenalkan revolusi Indonesia di luar negeri. Pada acara itu ia berkesempatan menyajikan eksperimen gambelan Bali lewat tabuh gesuri.
 

Di Bali tahun 1967 didirikanlah lembaga pembinaan kesenian yang bernama Listibya dan Beratha termasuk salah seorang anggota majelis bersangkutan. Pengalaman Beratha dalam misi kesenian memang penuh sesak, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pertama kali tahun 1956 ia ikut misi kesenian Indonesia atau Bali ke RRC, mengadakan pertunjukan di Kota Kanton, Peking, Sanghya, Nanking, Hansan, Sin Nian, Canocun, dan Hong-Can. Pada tahun 1962 bersama-sama 1000 orang penari pendet ia turut serta dalam pembukaan Asian Games di Jakarta. Tahun 1963 ia ikut memeriahkan konferensi antar-KOKAR di Solo. Tahun 1963 ini pula memimpin sekaa Gong Sad Merta ke Surabaya, memeriahkan ulang tahun Universitas Airlangga. Tahun 1965 ia ke Semarang, menyertai para siswa KOKAR Bali menyelenggarakan Bali Night, sebulan kemudian juga diselenggarakan di Badung.
 
Kunjungannya ke luar negeri semakin padat, tahun 1963 ia ikut misi kesenian ke Muangthai, di bawah pimpinan Prof. Dr. Priyono. Di tahun yang sama ia pentas keliling Uni Soviet dengan kedudukan sebagai pemimpin teknis. Tiga tahun berikutnya, 1966 di bawah pimpinan Mentri P.D dan K Priyono ia ke Filiphina dan menari di Manila, Bagib City, Dawai, dan Cebu. Demikianlah berturut-turut di tahun 1966-1981 ia membawa misi kesenian di berbagai kota luar negeri, diantaranya Paris, Perancis dan Istana Ratu Yuliana, Iran, India, Australia, Jerman Barat, Italia, dan Jepang.
 
Sebagai seorang seniman Beratha mempunyai karya yang melimpah baik tari maupun tabuh, dan kurang lebih 40 karya cipta darma dan sendra tari. Dan tahun 1972 berdasarkan keputusan mentri pendidikan dan kebudayaan RI No 0126/U/1972 dari Mentri Mas Huri ia menerima anugrah seni nasional. Sebelumnya, ia juga memperoleh piagam Darma Kusuma dari Gubernur Bali Ida Bagus Mantra dan sejumlah piagam lainnya, namun saying Ia lupa kapan pastinya piagam itu diterima. (bbn/rls/rob)


Minggu, 29 Juli 2018 | 08:20 WITA


TAGS: Seniman Denpasar I Wayan Beratha Gamelan



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: