Seksologi dr. Oka Negara, FIAS

Banyak Mitos Seks Beredar Ternyata Tidak Benar

Minggu, 05 Agustus 2018 | 11:14 WITA

Banyak Mitos Seks Beredar Ternyata Tidak Benar

beritabalicom/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Tanya: “Dok, saya seorang ibu, sedang memiliki anak yang mulai remaja. Saya sekarang mulai khawatir dengan keadaan sekarang, katanya remaja sekarang sudah pada aktif melakukan hubungan seksual. Banyak sekali informasi salah yang mudah didapatkan remaja jaman sekarang. Saya sendiri sering bingung karena ada juga yang saya percaya. Dokter, saya minta tolong buat membahas mitos-mitos seksual yang banyak dibicarakan orang saat ini apa saja, Dok? Terima kasih.” (Bu Agung, 48)
 
Jawab: Mitos adalah suatu ungkapan yang belum tentu benar, tetapi sudah dianggap atau diyakini benar oleh masyarakat. Kita mendapatkan mitos ini dari generasi sebelumnya secara turun menurun, baik itu secara langsung maupun lewat cerita, buku, dan lain-lain. Kita menerima pandangan atau pendapat yang turun temurun ini sebagai sesuatu yang diyakini sebagai kebenaran, termasuk dalam hal informasi kesehatan reproduksi dan seksual. Nah, berikut ini adalah sebagian mitos-mitos seksualitas yang banyak beredar, termasuk di sekitar remaja kita. Coba diperhatikan baik-baik: 
 
Berhubungan seks dengan pacar merupakan bukti cinta Faktanya, berhubungan seks bukan cara untuk menunjukan kasih sayang pada saat masih pacaran, terutama di usia yang masih sangat muda. Hubungan seks di usia muda sering kali disebabkan adanya dorongan seksual yang tidak terkontrol dan keinginan untuk mencoba-coba. Padahal, rasa sayang dengan pacar harusnya bisa ditunjukkan dengan cara lain, dengan memberikan perhatian untuk jaga kesehatan dan saling mengingatkan untuk tetap rajin belajar, misalnya. 
 
Hubungan seks pertama kali selalu ditandai dengan keluarnya darah dari vagina. Faktanya, tidak selalu hubungan seks yang pertama kali itu kelihatan berdarah. Apabila komunikasi seksual terjalin dengan baik dan hubungan seksual dilakukan dalam keadaan siap dan disertai foreplay yang cukup bisa tidak memunculkan adanya perdarahan, karena terjadi lubrikasi atau perlendiran yang cukup.
 
Perempuan yang berpayudara besar dorongan seksualnya besar. Faktanya tidak seperti itu. Secara medis, tidak ada hubungan langsung antara ukuran payudara dengan dorongan seksual seseorang. Dorongan seksual itu ditentukan oleh kepribadian, pola sosialisasi, dan pengalaman seksual (melihat, mendengar, atau merasakan suatu rangsangan seksual). 
 
Masturbasi bisa menyebabkan lutut kopong Faktanya, masturbasi tidak menyebabkan lutut menjadi kopong. Sperma tidak diproduksi dan tidak disimpan di dalam lutut, melainkan di testis. Mungkin setelah masturbasi, biasanya timbul rasa lelah, karena masturbasi mengeluarkan banyak energi. Itulah yang membuat menjadi lemas, jadi bukan karena lututnya jadi kosong.
 
Sering masturbasi bisa membuat mandul Faktanya, secara medis masturbasi tidak menggangu kesehatan fisik selama dilakukan secara aman (tidak sampai menimbulkan luka atau lecet). Resiko fisik biasanya berupa kelelahan. Pengaruh masturbasi biasanya bersifat psikologis, seperti perasaan bersalah, berdosa dan kadarnya berbeda-beda bagi setiap orang. Kemandulan justru biasanya akibat dari IMS (infeksi menular seksual) atau penyakit lainnya seperti kanker atau karena sebab fisik lainnya misalnya kualitas sperma yang kurang baik. 
 
Itu adalah sebagian mitos seks yang populer. Pengaruh mitos-mitos tersebut masih sangat kuat, bahkan juga di antara para remaja yang justru lagi giat-giatnya mencari informasi tentang seks dan kesehatan reproduksi. Banyak yang mempercayainya sehingga tidak jarang kita temui kasus-kasus yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi bermula dari keyakinan dari mitos-mitos tersebut. 
 
Hal itu terjadi karena tidak lengkapnya informasi tentang kesehatan reproduksi yang bisa diakses oleh remaja, baik melalui lembaga formal seperti sekolah, keluarga atau masyarakat pada umumnya. Sekarang tergantung kepada diri remajanya masing-masing, karena mereka yang akan menjalaninya nanti. Apakah akan menelan mentah-mentah mitos tersebut ataukah akan mencermatinya lebih lanjut guna memastikan kebenarannya. Kalau kita masih terpengaruhi dengan mitos-mitos diatas, yang rugi ya diri kita sendiri. 
 
Dan bagi orang tua, orang dewasa, atau yang sudah mengetahui fakta yang sebenarnya, silakanlah tetap yakin dengan kebenarannya, jangan goyah. Bahkan cobalah ikut serta untuk menginformasikan fakta-fakta ini ke remaja sehingga semakin banyak remaja yang mengerti dan makin bertanggung jawab dengan segala perilaku dan pilihannya. [bbn/dr oka negara/psk]


Minggu, 05 Agustus 2018 | 11:14 WITA


TAGS: seksologi oka negara beritabali



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: