Dibangun 28 Tahun, Ide "Gila" Nyoman Nuarta Ini Akhirnya Terwujud

Minggu, 05 Agustus 2018 | 03:45 WITA

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Badung. Setelah menjalani proses pembuatan selama 28 tahun, patung Garuda Wisnu Kencana atau GWK di Ungasan, Kabupaten Badung, Bali akhirnya selesai. Patung GWK diharapkan bisa menjadi "landmark" atau ikon baru bagi pariwisata Bali dan juga Indonesia.
 
Acara syukuran selesainya pembuatan patung GWK yang memakan waktu selama 28 tahun sabtu sore hingga malam (4/8/2018) dirayakan di area GWK Ungasan Badung, Bali. Ribuan orang hadir dalam acara syukuran ini termasuk Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan Pencipta patung GWK I Nyoman Nuarta. Sementara Menteri Pariwisata diwakili Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata, I Gde Pitana.
 
 
Sebelum acara syukuran digelar jumpa pers terkait selesainya pembuatan patung ini. 
 
Gubernur Bali Mangku Pastika mengakui jika proses pembuatan patung GWK menemui banyak rintangan, baik rintangan teknis maupun non teknis termasuk spiritual.
 
"Saya mulai diajak ikut membantu dalam proses patung ini pada tahun 2002. Banyak rintangan, tempat ini (GWK) sempat jadi wilayah tak bertuan. Waktu itu almarhum Joop Ave (mantan Menteri Pariwisata) datang ke saya dan meminta saya untuk ikut urusi patung ini, waktu itu ada tiga orang "besar" yang menemui saya yakni Pak Nuarta, Pak Joop Ave, dan Pak Ari. Saya sempat kaget melihat tempat ini yang begitu besar dan luas,"ujar Mangku Pastika. 
 
Setelah melewati proses panjang akhirnya patung GWK bisa rampung setelah masuknya investor PT Alam Sutra. 
 
"Ini nanti menjadi salah satu ikon dalam sidang IMF di Bali pada Oktober mendatang, bahwa Indonesia bisa membuat proyek besar seperti ini. Kedepan, ada cita-cita besar, GWK akan menjadi headquarternya (pusat) World Culture Forum. Konsepnya sudah ada namun belum bisa dilaksanakan. Jika di Davos jadi tempat World Economic Forum, maka di GWK Bali jadi tempat World Culture Forum," ujar Pastika yang sebentar lagi akan meninggalkan jabatannya sebagai Gubernur.
 
Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata, I Gde Pitana, menjelaskan, Ide pembuatan patung GWK ini dimunculkan Nyoman Nuarta tahun 90 an. 
 
"Waktu itu (Nuarta) muncul dengan ide "gila" untuk membuat patung GWK. Saat itu ada dua proyek besar yang ditentang karena dianggap "gila" yakni GWK dan satu lagi proyek di Tanah Lot. Namun saya bela karena saya melakukan kajian empiris dan akademis. Belajar dari masa lalu, betapa Sukarno dikiritik karena membuat Monas, Suharto juga dikiritik saat buat Taman Mini Indonesia Indah, jadi saya pikir waktu itu wajar ide "gila" Nuarta untuk membuat GWK juga ditentang," kenang Pitana.
 
Bagi dunia pariwisata Bali, kata Pitana, keberadaan patung GWK bermanfaat sebagai salah satu wahana peremajaan pariwisata Bali. Bukan hanya berbasis pada budaya dan alam, juga berbasis karya manusia modern. 
 
"GWK akan menjadi ikon baru bagi Bali dan Indonesia, seperti saat kita bicara Opera House maka kita akan bayangkan Sydney Australia, juga saat bicara Menara Eiffel maka kita akan bayangkan Perancis. GWK akan jadi new landmark, ikon baru pariwisata Bali. Manfaat lainnya, kita ingin bangun community base tourism, pusat pertumbuhan pariwisata di sekitar areal GWK,"ujar Pitana.
 
 
Pencipta atau pemrakarsa patung GWK, Nyoman Nuarta mengatakan, patung GWK bisa terwujud berkat bantuan semua pihak selama 28 tahun dibangun.
 
"Di awal proses saya sempat menghadap Presiden Suharto, lalu Pak Harti perintahkan Menteri Pertambangan dan Energi IB Sujana, Menteri Pariwisata Joop Ave, hingga Pak Tri Sutrisno untuk ikut terlibat membantu. Namun karena rejim Suharto keburu lengser, proses pembangunan sempat tidak jalan karena kami batal mendapat bantuan pemerintah," kenang Nuarta.
 
Swadharma Ning Pertiwi
 
Dalam acara syukuran digelar pagelaran seni kolosal bertajuk "Swadharma Ning Pertiwi" di pelataran festival GWK yang melibatkan ratusan orang seniman. Pagelaran seni ini antara lain menampilkan tari kecak I Ketut Rina, penyanyi Ayu Laksmi, hingga kesenian Okokan dari Tabanan yang sanggup memukau penonton yang hadir. Para seniman ini membawakan repertoar tentang Indonesia yang beragam suku, agama, etnik, bahasa, dan kebudayaan yang dipersatukan oleh semboyan Bhineka Tunggal Ika.
 
Pagelaran Swadharma Ning Pertiwi yang diakhiri dengan video mapping patung GWK ini juga sebagai penghargaan kepada 120 seniman yang selama ini terlibat dalam proses pembangunan patung.
 
 
Patung setinggi 121 meter dari permukaan tanah dan memiliki berat 3.000 ton ini lebih tinggi dari patung Liberty di New York Amerika Serikat yang memiliki ketinggian 93 meter. Kehadiran pembangunan patung GWK mulai digagas tahun 1989 di era Presiden Soeharto. Setelah melalui proses panjang, patung berukuran raksasa ini akhirnya baru bisa diselesaikan tahun ini.
 
Bagian kulit patung GWK ini terbuat dari tembaga dan menghabiskan 25 ribu meter persegi tembaga atau seluas 2,5 hektar tembaga. Proses pengerjaan modul atau bagian bagian patung dikerjakan di studio Nyoman Nuarta di Bandung, sebelum dibawa ke Bali untuk dipasang satu per satu hingga menjadi sebuah patung utuh berukuran raksasa.
 
Patung GWK dengan tingkat kerumitan tinggi ini merupakan perpaduan seni, teknologi, dan ilmu pengetahuan. Untuk menguji kekuatan patung demi menjamin keselamatan pengunjung, telah dilakukan uji coba terowongan angin di Australia dan Kanada.
 
Kedepan, patung GWK tak hanya menjadi patung yang dikunjungi karena nilai simbolnya, namun juga dirancang dengan berbagai fasilitas seperti pusat budaya, taman, museum, balai pertemuan, dan berbagai fasilitas penunjang lainnya. [bbn/psk]


Minggu, 05 Agustus 2018 | 03:45 WITA


TAGS:



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: