Bali Sangat Berpotensi Kembangkan Energi Surya

Jumat, 28 September 2018 | 07:58 WITA

Bali Sangat Berpotensi Kembangkan Energi Surya

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com,Denpasar. Jika dilihat di luar potensi yang telah dipetakan PLN, Bali juga memiliki potensi energi surya yang sangat tinggi untuk bisa mencukupi kebutuhan listrik penduduk di Bali seperti yang terlihat dalam beberapa penelitian. 
 

"Bali termasuk wilayah bagian timur indonesia yang memiliki potensi energi surya tertinggi, dan sangat potensial dijadikan sistem pembangkit energi listrik," ungkap Peneliti iklim dan energi Greenpeace Indonesia, Adila Isfandiari, Kamis, (27/9) di Sanur, Denpasar.
 
Dirinya memaparkan, jika dilihat berdasar penelitian yang dilakukan Rumbayan, M., et al. (2012), Bali memiliki cuaca cerah selama 12 Jam di siang hari dan stabil sepanjang tahun dengan radiasi matahari rata-rata yang tinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya, yaitu sebesar 5,3 kWh/m2 per hari.
 
Kemudian juga berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sah, B.P. dan Wijayatunga, P. (2017) dalam Asian Development Bank Sustainable Environment Working Paper Series, Bali memiliki iradiasi solar berkisar 1,490 hingga 1,776 kWh/m2/tahun, atau melebihi standar yang diberlakukan di Eropa untuk kelayakan proyek energi surya, yaitu 900 kWh/m2/tahun. 
 
Dengan menggunakan sistem permodelan pemetaan, dapat diketahui bahwa total potensi energi surya di Provinsi Bali dapat mencapai 113,436.5 GWh per tahun, di mana jauh melebihi jumlah permintaan energi penduduknya pada tahun 2027, yaitu 10,014 GWh per tahun. Kemudian dengan mennggunakan metode perhitungan guna lahan dan pertimbangan ekonomi lebih rinci yang dilakukan oleh syanalia, A. (2018), terdapat dua skenario pemanfaatan lahan di Provinsi Bali untuk pemasangan energi surya, yaitu dengan skenario minimum dengan pemanfaatan lahan seluas 273 km dan skenario maksimum dengan pemanfaatan lahan seluas 453 km. 
 
Dengan luas lahan tersebut, Bali memiliki potensi energi surya sebesar 32,000 GWh hingga 53,300GWh per tahun. Dengan kata lain, potensi energi surya tersebut telah jauh melebihi kebutuhan listrik di Provinsi Bali pada tahun 2027, yaitu 10,014 GWh per tahun. 
 
"Pengguna energi surya pada masing-masing skenario tersebut untuk mencapai kebutuhan listrik di 2027, akan mengurangi emisi karbon sebesar 6 hingga 8 juta ton CO2," paparnya.
 
Dilanjutkan, jika dilihat dari perbandingan harga listrik energi surya dengan energi konvensional secara global, biaya pembangkitan (levelized cost of electricity: LCOE) energi terbarukan, khususnya energi surya telah mengalami penurunan secara signifikan, yaitu sebesar 73% dari tahun 2010. 
 

"Saat ini biaya pembangkitan energi terbarukan sudah dapat menyaingi biaya pembangkitan batubara. Bahkan, dengan mengabaikan subsidi yang selama ini diberikan pada energi batubara. Dengan menggunakan teknologi yang sudah matang, maka biaya pembangkitan batubara tersebut tidak akan menurun secara signifikan kedepannya. Jika dilihat dari sisilain, teknologi energi terbarukan yang masih berkembang hingga saat ini dapat menekan biaya pembangkitan menjadi lebih rendah di masa yang akan datang," ucapnya.
 
Isfandiari menambahkan dengan melakukan perhitungan biaya amortisasi per kWh energi yang dihasilkan oleh energi yang dihasilkan oleh energi surya selama lebih dari 20 tahun. Maka listrik yang dihasilkan adalah, Rp 800/kWh. Harga ini 45% lebih murah dibandingkan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang diberlakukan PLN saat ini dan diperkirakan akan mengalami kenaikan di kemudian hari. (bbn/aga/rob)


Jumat, 28 September 2018 | 07:58 WITA


TAGS: Energi Surya Green Peace



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: