Seksologi dr Oka Negara, FIAS

Risiko Seks Tukar Pasangan Atau Swinger

Minggu, 21 Oktober 2018 | 10:14 WITA

Risiko Seks Tukar Pasangan Atau Swinger

beritabali.com/ilustrasi

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Tanya: Dok, kasus tukar pasangan intim (swinger) beramai-ramai yang terciduk di sebuah hotel di Surabaya itu ngeri juga ya? Tiga pasangan sekaligus, malah ada yang istrinya hamil 8 bulan juga diajak tukaran. Tetapi sebenarnya saya juga mengalami, Dok. Teman saya ada yang berulang kali mengajak saya dan istri saya buat bertukar pasangan. Dia belum menikah, tetapi punya pacar yang cantik sekali. Mereka berdua tertarik buat bertukar pasangan dengan saya dan istri. Katanya mereka juga suka melakukan ini berama-ramai sebelumnya di beberapa tempat di Bandung dan Jakarta. Tadinya saya jijik mendengarnya, tetapi setelah saya lihat pacarnya yang cantik, kok saya tergoda juga. Ini apa bukan kelainan nanti jadinya dok? Mohon pencerahannya.” (Ridwan, 29).
 
Jawab: Kasus yang terjadi di Surabaya dan pertanyaan ini membuat saya teringat dengan pengalaman teman saya juga yang beberapa kali melakukan seks tukar pasangan atau yang dikenal dengan istilah swinger, dengan tiga pasangan lain di sebuah vila di daerah Canggu, saat itu. Karena tidak bisa dicegah, saya hanya bisa mengingatkannya untuk tetap menggunakan kondom selama beraktivitas seksual bersama. 
 
Dalam kenyataan sesungguhnya, ini hanya sebuah kasus kecil dari sekian banyak perilaku seksual lain yang mungkin bagi banyak orang dianggap nyeleneh. Saat ini komunitas pelaku gaya aktivitas seksual seperti ini semakin tumbuh subur, yang semakin mendapat tempat dengan kehadiran internet dan media sosial sebagai penyambung komunikasi. 
 
Tidak hanya swinger, seks beramai-ramai sebenarnya juga bukan hal baru. Seorang raja atau penguasa di jaman dulu kala sering dikenal melakukan hubungan seksual dalam satu waktu dengan permaisuri dan para selir, bahkan dayangnya. Di era tujuh puluhan juga dikenal istilah “salome” yang menjadi akronim untuk istilah “satu lobang rame-rame’. Untuk saat ini, aktivitas seksual dengan melibatkan orang banyak dalam satu waktu dan tempat disebut dengan orgy.
 
Sebuah aktivitas seksual yang dianggap nyeleneh, tetapi hanya dilakukan sekali dua kali saja dan hanya untuk mencoba sensasi baru, itu jelas hanya merupakan variasi seksual semata dan bukanlah kelainan seksual. Jika aktivitas seksual nyeleneh ini menjadi eksklusif, hanya satu-satunya itu saja, dan tidak menikmati hubungan seksual yang dianggap normal oleh orang kebanyakan, bisa jadi itu diduga sebuah kelainan. 
 
Untuk jenis aktivitas swinger dan orgy yang dilakukan saat ini sebagian besar masih semata-mata sebagai variasi untuk menstimulus aktivitas seksual agar nantinya bisa lebih bergairah kembali dengan pasangan seksual semula yang dimiliki. Memang ada sensasi yang berbeda saat melakukannya, termasuk keterlibatan perasaan dan emosi yang berbeda dengan hubungan seksual biasa yang tidak semata-mata nafsu belaka, dilakukan sebagai variasi dan upaya mencari sensasi dan petualangan baru untuk mengatasi kebosanan dari seks yang monoton selama ini. 
 
Untuk kepentingan variasi seksual, aktivitas swinger ataupun orgy, harusnya disetujui bersama, dinikmati bersama dan bebas dari risiko. Risiko ini yang harus diminimalisasi atau dijauhkan. 
 
Ada bahayanya? Tentu saja. Pelaku swinger dan orgy sangat lekat dengan infeksi menular seksual hingga HIV AIDS selama melakukannya tanpa proteksi kondom. Jadi, kondom adalah syarat mutlak buat aktivitas seksual berganti-ganti pasangan atau multipartner. Dan kenyataannya memang pada beberapa aktivitas "gangbang" seringkali penggunaan kondom membuat ribet dan menjadi penghalang untuk “beraksi beramai-ramai”. 
 
Dan akibatnya bisa ditebak, tidak sedikit pelakunya yang akhirnya tertular gonore, sifilis, herpes, hingga infeksi HIV dari aktivitas ini. Dan satu lagi, tentu saja risiko hukum dan sosial bisa mengancam pelaku swinger dan orgy. Secara hukum andaikan hal ini menjadi diketahui orang lain dan diadukan sebagai delik aduan hukum, maka ancaman pidana tetap bisa terjadi. Jadi, tetaplah berhati-hati. [bbn/dr. oka negara/psk]


Minggu, 21 Oktober 2018 | 10:14 WITA


TAGS: seksologi okanegara bali swinger



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: