Penggunaan Tebu Dalam Upacara Potong Gigi Sebagai Simbul Rasa

Minggu, 04 November 2018 | 06:00 WITA

Penggunaan Tebu Dalam Upacara Potong Gigi Sebagai Simbul Rasa

beritabali.com

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Tebu seringkali digunakan dalam setiap upacara oleh masyarakat Hindu di Bali, salah satunya dalam upacara potong gigi atau yang dikenal dengan istilah mepandes. Penggunaan tebu dalam upacara potong gigi merupakan sebagai bentuk simbul rasa. Demikian terungkap dalam sebuah artikel ilmiah berjudul “Pemanfaatan Tebu dalam Upacara Adat di Kabupaten Tabanan, Bali” yang ditulis oleh I Nyoman Peneng dan I Wayan Sumantera serta dipublikasikan dalam Jurnal Biodiversitas, Volume 6, nomor 2 tahun 2005.

I Nyoman Peneng dan I Wayan Sumantera menuliskan pada upacara potong gigi,, tebu digunakan sebagai sarana sesajen/banten dan sebagai singgang gigi/pedangal agar mulut tetap terbuka, sehingga mudah dilakukan pengikiran/pemotongan. Upacara ini bertujuan untuk mengurangi/ mengendalikan hawa nafsu yaitu sifat manusia yang dianggap kurang baik, bahkan sering dianggap sebagai musuh di dalam diri sendiri.

Tebu dipandang memiliki makna sebagai simbul rasa untuk merasakan dan membedakan “sad rasa” (enam rasa) yang hanya dapat dirasakan di dalam mulut. Keenam rasa tersebut yaitu manis, pahit, asin (pakeh), pedas (lalah), asam (masem) dan kecut (sepet).

Varietas tebu yang digunakan dalam upacara potong gigi adalah tebu ratu, tebu kuning, tebu hitan, tebu malem, tebu tiying, dan tebu swat. Terdapat 8 varietas tebu yang dimanfaatkan dalam upacara adat yakni: tebu ratu/raja, tebu tiying, tebu kuning, tebu selem (hitam/cemeng/ireng), tebu malem, tebu tawar, tebu salah dan tebu swat. Varietas yang paling banyak digunakan adalah tebu ratu, tebu tiying, tebu kuning, tebu malem, tebu hitam dan tebu swat, sehingga lumrah adanya. [bbn/Biodiversitas/mul]


Minggu, 04 November 2018 | 06:00 WITA


TAGS: Tebu Upacara Potong Gigi Simbul Rasa



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: