Seksologi dr Oka Negara, FIAS

Berhubungan Seks Sambil Menggigit dan Memukul

Minggu, 04 November 2018 | 09:02 WITA

Berhubungan Seks Sambil Menggigit dan Memukul

beritabali.com/ilustrasi

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. “Dok, sudah hampir setahun saya menikah, selama itu juga saya dan istri sudah berhubungan seksual dengan berbagai variasi. Soalnya kalau begitu-begitu saja, saya cepat bosan. Sampai beberapa hari belakangan ini ada yang aneh saya rasakan. Saya pernah meniru adegan seksual yang saya pernah tonton bersama istri dari film porno. Saya mencoba mencumbu istri saya sambil menggigit dan memukul. Anehnya, kami berdua malah menikmatinya dan melakukannya berulang kali lagi berikutnya. Ini bagaimana, Dok? Berbahayakah?” (Wahyu, 28th)
 
Jawaban: Memang terdengar aneh, karena seharusnya bagi kebanyakan orang, digigit dan dipukul pastinya akan menimbulkan rasa nyeri, atau rasa sakit yang tidak nyaman. Dan bisa jadi hampir semua pasangan memiliki pengalaman dengan rasa sakit atau nyeri saat berhubungan seksual. Logikanya rasa sakit atau rasa tidak menyenangkan tentu saja akan mengganggu hubungan seksual dan dihindari. Tidak cuma karena gigitan atau pukulan, sebenarnya rasa sakit atau nyeri saat hubungan seksual bisa juga disebabkan karena tidak siap dalam melakukan hubungan seksual, misalnya karena hilangnya minat atau dorongan seksual, pengalaman seksual sebelumnya yang tidak menyenangkan atau bisa juga dikarenakan hal lain seperti sedang sakit atau ada infeksi di alat kelamin. Tetapi, pada kenyataannya justru cukup banyak juga orang yang justru di saat nyeri itu muncul malah merasakan kenikmatan yang lebih dari biasanya, atau dianggap sebagai sebuah pengalaman seksual baru yang berbeda, dan bisa dinikmati. 
 
Perlu diketahui ada yang disebut dengan pasangan pelaku sadomasokisme (sadism and masochism). Di mana yang satu sangat bergairah secara seksual dengan menyakiti, satunya lagi malah senang dengan disakiti. Pada sadomasokisme, kenikmatan seksual didapatkan dari rasa menguasai pasangan di satu pihak, sedangkan di pihak lain merasakan penyerahan diri, dengan menikmati nyeri yang muncul, tanpa perlu ada hubungan seksual yang penetratif. Jadi, tanpa hubungan seksual sesungguhnya, itu sadomasokisme. 
 
Hubungan antara rasa sakit dan kesenangan dalam seksualitas manusia adalah sangat kompleks. Tidak bisa dipungkiri banyak pasangan saat melakukan hubungan seks bisa dikejutan oleh kenikmatan mendalam yang menyatu dengan rasa sakit. Rasa sakit yang kerap muncul malah bisa ditunggu-tunggu kehadirannya untuk dinikmati. Kalau rasa nyeri ini dinikmati sekali-sekali saja, dan tetap menikmati hubungan seksual yang biasa, maka pasangan ini bukan pelaku sadomasokisme. Karena pada sadomasokisme, kedua pasangan menikmati rasa nyeri tanpa melakukan hubungan seksual yang biasa.
 
Cinta, seks, rasa sakit dan aktivitas kekerasan fisik maupun psikis juga dapat merangsang pelepasan bahan kimia dan hormon yang sama dalam otak dan tubuh manusia. Endorfin dan oksitosin yang menjadi biang rasa senang dan nikmat yang dirasakan tubuh, sesungguhnya dapat dilepaskan dalam pengalaman yang menyakitkan sekaligus rasa menyenangkan. Stres dan sakit juga dapat merangsang produksi serotonin serta melatonin di otak yang mengubah pengalaman menyakitkan menjadi rasa menyenangkan. Pelepasan epinefrin secara mendadak juga dapat menyebabkan kemunculan tiba-tiba rasa menyenangkan saat bersamaan merasakan sensasi nyeri. 
 
Di saat seseorang sedang menuju orgasmenya, di saat tersebut akan mengalami peningkatan toleransi terhadap rasa nyeri. Artinya, akan cenderung tidak mudah merasakan sakit. Setiap orang sejalan dengan pengalaman seksualnya akan memiliki kemampuan untuk mengontrol ereksi, orgasme dan ejakulasinya selama dia sanggup menyingkirkan pengaruh stres psikis dan dalam keadaan sehat fisik. Itu artinya, dia juga akan mampu menarik ulur kontrol rasa nyeri ini, apakah akan diterima sebagai rasa nyeri yang menyakitkan dan akan menjadi pengalaman buruknya dalam hubungan seksual, atau malah sebaliknya menikmati rasa nyeri itu sebagai sensasi yang menyenangkan. Sesungguhnya ini bisa menjadi pilihan dan bisa dikondisikan atau dilatih.
 
Jadi, dalam kasus seperti di atas sesungguhnya, salah satu inti dari menikmati seks adalah dengan mengeksplorasi ekspresi dan variasi seksual. Jangan takut untuk bereksplorasi dan mengontrol diri untuk menikmati rasa nyeri sekalipun, asal tidak melibatkan bahan-bahan dan alat-alat yang berbahaya. Tetapi ingat, bila rasa nyeri itu memunculkan rasa tidak nyaman dan malah menyakitkan, beri tahu pasangan untuk menghentikannya segera. Jangan pernah lanjutkan lagi. [bbn/dr oka negara/psk]


Minggu, 04 November 2018 | 09:02 WITA


TAGS: seksologi okanegara bali



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: