Puisi Sarana Penyampaian Kritik dengan Gaya Berbeda

Senin, 05 November 2018 | 05:32 WITA

Puisi Sarana Penyampaian Kritik dengan Gaya Berbeda

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com,Jakarta. Puisi juga bukan sekadar ekspresi kesenian, melainkan bisa merefleksikan kondisi kekinian hingga menjadi sarana menyampaikan kritik dengan gaya berbeda. Dengan puisi, yang dikritik bisa saja merasakan pesan itu bukan kritik. Namun tetap bisa menangkap makna dan tersadar akan isi pesan yang tersirat di balik diksi puisi.
 

Hal itu diungkapkan Putri SUastini Koster setelah membawakan sebuah puisi berjudul ‘Sumpah Kumbakarna’ dalam penampilan Duta Kabupaten Jembrana pada ajang Pesona Budaya di Anjungan Bali TMII Jakarta, Sabtu (3/11/2018) malam. 
 
Berkesenian bukan hal baru bagi istri Gubernur Bali Wayan Koster ini. Selain menekuni dunia puisi, ia juga sempat terjun dalam dunia seni tari dan seni peran. Baginya, Puisi adalah bahasa hati, mata air kehidupan. “Melalui puisi, kita dapat mengasah rasa, kepekaan dan budi pakerti. Mari kita jadikan seni berpuisi untuk menyentuh hati,” ujarnya dalam sebuah kesempatan.
 

Pada penampilannya saat itu, dengan iringan gamelan Jegog, Putri Koster mampu memberikan warna baru pada seni membaca puisi. Ritme gamelan Jegog begitu harmonis mengiringi pembacaan puisi oleh Putri Koster yang membuat penonton ikut larut dalam daya tarik magis Puisi Sumpah Kumbakarna. 
 
Puisi Sumpah Kumbakarna menceritakan perjuangan Sang Kumbakarna yang merupakan adik dari Rahwana dalam melawan Sri Rama. Perjuangan Kumbakarna bukan untuk membela sang kakak yang telah menculik Dewi Shita, melainkan untuk  mempertahankan tanah kelahirannya yakni Alengka. Dalam wiracarita Ramayana, Kumbakarna digambarkan memiliki sifat perwira dan sering menyadarkan perbuatan kakaknya yang salah. (bbn/rlspemprov/rob)


Senin, 05 November 2018 | 05:32 WITA


TAGS: Puisi Putri Suastini Koster Kritik



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: