Masyarakat Bali Akan Nikmati Internet Gratis Hingga ke Tingkat Desa Mulai 2019

Minggu, 11 November 2018 | 06:00 WITA

Masyarakat Bali Akan Nikmati Internet Gratis Hingga ke Tingkat Desa Mulai 2019

Beritabali.com/Muliarta

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Mulai tahun 2019 mendatang, masyarakat Bali, baik yang berada di daerah perkotaan hingga yang di desa akan menikmati fasilitas internet secara gratis. Hal ini menyusul rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali untuk memasang jaringan wifi yang bisa diakses secara gratis oleh masyarakat di 4.013 titik. Pada tahun 2018 ini, tercatat jaringan wifi yang telah terpasang mencapai  300 titik, sehingga pada 2019 mendatang jumlah wifi yang terpasang keseluruhan mencapai 4.313 titik.


Kepala Seksi Sumberdaya Komunikasi Publik, Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Diskominfos) Provinsi Bali, Ida Bagus Ketut Agung Ludra saat dikonfirmasi pada Sabtu (10/11) di Denpasar mengungkapkan bahwa pemasangan internet gratis hingga ke tingkat desa merupakan bagian program Bali Smart Island. Guna mewujudkan target tersebut, pemerintah provinsi Bali menyiapkan anggaran mencapai Rp. 9,79 miliar.

Menurut Ludra, program ini masih dalam proses pematangan dan juga koordinasi dengan kabupaten/kota agar program yang dijalankan tidak berbenturan dengan program pemerintah kabupaten/kota. Sehingga yang menjadi kewenangan pemerintah kabupaten kota akan diserahkan pada kabupaten/kota, tetapi akan didukung oleh pemerintah provinsi melalui bantuan keuangan khusus (BKK).

“Untuk kewenangan yang ada di kabupaten kota akan di BKK oleh Pemprov, bagian yang akan diserahkan ke kabupaten kota yang di desa pakraman, puskesmas dan obyek wisata, tetapi ini masih di detailkan lagi dengan Bappeda” papar Ludra.

Sekretaris Komisi III DPRD Bali Ketut Kariyasa Adnyana menyampaikan bahwa program wifi gratis pada dasarnya merupakan program gubernur Bali terpilih. Program ini melihat kebutuhan masyarakat di era-globalisasi yang membutuhkan kemudahan dalam mengakses informasi dan untuk menggerakkan perekonomian di pedesaan.

“Bukan hanya untuk kebutuhan informasi tetapi juga perdagangan masyarakat desa yang dapat dilakukan secara online, di pedesaan sekarang juga banyak terdaqpat produk-produk lokal, UMKM dan hasil pertanian yang perlu informasi harga, pemasaran dan pengetahuan pemesaran. Termasuk juga dapat mengakses regulasi terkait aturan , bagaimana menyusun aturan dan transparansi apbd desa. Intinya dalam pengembangan masyarakat” papar pria yang kini juga menjabat sebagai Sekretaris Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Bali.

Kariyasa mengakui penyediaan wifi gratis hingga ke tingkat desa tentu juga ada tantangannya, terutama terkait dampak negatif yang harus diwaspadai. Seperti kemungkinan akan adanya penipuan secara online, penyebaran konten pornografi, termasuk penyebaran hoaks. “ini memang tantangan, bukan tantangan di tingkat desa saja, tetapi ini tantangan secara nasional. Kedepen juga perlu ada literasi media” ujar Kariyasa.

Program internet gratis melalui penyediaan jaringan wifi ini sejalan dengan program internet masuk desa yang dikelola Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Namun pengembangan yang dilakukan Pemerintah Provinsi Bali diharapkan lebih baik dari program yang ada sebelumnya. Apalagi program dikembangkan dengan tujuan untuk memberikan pelayanan komunikasi agar masyarakat mudah mengakses informasi yang dibutuhkan.

“Ini akan lebih mempermudah komunikasi antara pemerintah desa, provinsi dan pusat. Informasi sekarang sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat, apalagi masyarakat yang memiliki produksi kerajinan, begitu juga UMKM akan mempermudah dalam mengakses pasar. Memang programnya adalah berdasarkan asas manfaat” jelas Kariyasa.

Pada sisi lain, penyediaan internet gratis juga dapat mendukung pembangunan pariwisata Bali. Mengingat tidak sedikit masyarakat di desa yang mengelola home stay. Melalui penyediaan akses internet diharapkan pengelola akomodasi wisata di tingkat desa dapat memasarkan akomodasi wisata yang dikelola secara online. Tujuan akhirnya adalah mampu meningkatkan pendapatan dan perekonomian masyarakat desa.

Dosen Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik, Universitas Udayana Ni Made Ras Amanda Gelgel, S.Sos., M.Si menyampaikan keberadaan wifi yang dapat diakses secara gratis oleh masyarakat akan mendukung dan membuka keran informasi yang luar biasa. Namun tidak semua informasi yang tersedia tersebut baik, benar dan cocok untuk masyarakat, sehingga perlu adanya kontrol diri yang dipersiapkan oleh masyarakat.


“Wifi itu hanya alat, seperti halnya alat-alat yang lain yang perlu guidance atau petunjuk pemakaian. Maka wifi tidak hanya terpasang tetapi perlu petunjuk pemakaian dalam hal ini literasi digital. Baik yang substansi alias literasi internet maupun dampak sosial daripada penggunaan gadget itu sendiri,” tegas perempuan yang merupakan mantan wartawan tersebut.

Amanda berharap pemerintah tidak hanya menyediakan wifi gratis tetapi juga melakukan pencatatan dan evaluasi terhadap penggunaan wifi. Hal ini diperlukan untuk mengetahui apa saja yang diakses oleh masyarakat.  Pemerintah juga harus melakukan pengaturan terhadap alamat domain yang dapat diakses dan tidak dapat diakses, sebagai upaya perlindungan terhadap pengguna internet.

Hal lain yang perlu diperhatikan menurut Amanda yaitu ketersediaan kuota, jangan sampai pemerintah hanya menyediakan jaringan wifi gratis tetapi tidak dapat digunakan. “Sama kayak lampu penerangan jalan, ya harus dibayarin listriknya. Harus lengkaplah, jangan hanya kebijakannya setengah-setengah” ungkap Amanda.

Ketua Yayasan Bali Sruti, Dr. Luh Riniti Rahayu menyatakan upaya penyediaan akses internet hingga ketingkat desa merupakan langkat yang bagus, sehingga informasi dari desa ke pusat dapat terhubung dengan cepat. Dengan keterhubungan desa dan pusat maka solusi terhadap permasalahan juga dapat dengan cepat di dapatkan. “Bila ini terwujud maka wilayah-wilayah yang tertinggal bisa segera tertangani. Namun alatnya jangan hanya dipasang saja, lalu perawatannya dan biaya lainnya ditanggung desa" harap Riniti 

Riniti yang juga merupakan seorang akademisi di Universitas Ngurah Rai Denpasar menjelaskan yang terpenting saat ini adalah kesiapan masyarakat yang dituntun siap menerima perubahan digital yang begitu cepat. Bagi generasi tua ini adalah masa transisi. Namun bagi generasi milinial ini merupakan sebuah kebutuhan.

Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2017 menyebutkan terdapat 143,26 juta jiwa pengguna internet di Indonesia atau 54,68% dari total populasi penduduk Indonesia 262 juta orang. Jumlah pengguna internet ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun sebelumnya yang mencapai 132,7 juta jiwa pada tahun 2016. Jika dilihat dari pengguna internet berdasarkan wilayah, maka secara nasional pengguna internet di Bali dan Nusa hanya 5,63%, sedangkan pengguna internet terbanyak berada di Pulau Jawa mencapai 58,08%.

Berdasarkan survei APJII 2017, jika dilihat penetrasi pengguna internet berdasarkan usia di dominasi oleh umur 13-18 tahun dengan jumlah 75,50%. Sedangkan komposisi pengguna internet berdasarkan usia di dominasi usia 19-34 tahun mencapai 49,52%. Jika dilihat dari komposisi pengguna internet berdasarkan jenis kelamin terlihat pengguna internet laki-laki sebanyak 51,43% dan perempuan 48,57%.

Dalam sebuah artikel berjudul “Hubungan Antara Intensitas Konsumsi Media Dan Kepercayaan Terhadap Media di Bali” yang ditulis oleh Ni Made Ras Amanda Gelgel dan dimuat dalam prosiding hasil penelitian media cetak dan media online, terbitan Serikat Perusahaan Pers pada Oktober 2017 terungkap bahwa media sosial Facebook adalah media yang sering diakses setiap hari oleh  17,5 persen masyarakat di Bali. Dalam artikel yang merupakan hasil penelitian dengan menyebarkan 940 kuesioner tersebut juga terungkap bahwa 4,1 persen masyarakat di Bali mengakses twitter setiap hari. [bbn/muliarta]


Minggu, 11 November 2018 | 06:00 WITA


TAGS: Internet Gratis Masyarakat Bali



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: