Kafe "Remang-Remang", Seks Bebas, dan Kasus HIV/AIDS di Bali

Rabu, 28 November 2018 | 07:45 WITA

Kafe "Remang-Remang", Seks Bebas, dan Kasus HIV/AIDS di Bali

beritabali.com/ilustrasi

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Menjelang Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2018, Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace), mengungkapkan keprihatinannya terkait masih cukup tingginya angka kasus HIV/AIDS di Pulau Bali. Menurutnya, keberadaan kafe "remang-remang" yang saat ini sudah merambah ke desa-desa, menjadi salah satu faktor pemicu masih ditemukannya kasus baru HIV/AIDS di Bali. 
 
Selaku Ketua Harian Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali, Cok Ace berharap ada gebrakan untuk memutus mata rantai penyebaran HIV/AIDS. Cok Ace minta KPA Provinsi Bali lebih gencar melakukan sosialisasi terkait bahaya penyakit HIV/AIDS dan cara penularannya. Dengan mengetahui bahaya dan pola penularannya, ia berharap masyarakat akan menjauhi perilaku berisiko penularan HIV/AIDS.
 
Data Dinas Kesehatan Propinsi Bali menyebutkan, kasus HIV/AIDS di Bali saat ini tercatat sebanyak 19.600 kasus. Setiap bulannya ada penambahan 25 hingga 150 kasus. Hasil pantauan Dinas Kesehatan Propinsi Bali, masyarakat yang berada di wilayah perkotaan lebih berhati-hati karena sudah cukup paham akan ancaman penyakit HIV/AIDS. Tapi tidak demikian dengan masyarakat yang ada di desa-desa, yang sangat rentan sekali tertular HIV/AIDS ketika sudah mengenal dunia kafe remang-remang. Ini yang perlu menjadi perhatian kita bersama. 
 
Selain program pencegahan secara umum, Dinas Kesehatan Propinsi Bali juga memberi perhatian khusus pada ibu hamil. Dengan menggandeng lembaga layanan kesehatan mulai jenjang puskesmas, seluruh ibu hamil diwajibkan mengikuti tes HIV/AIDS pada awal kehamilan. Jika kemudian seorang ibu diketahui mengidap HIV/AIDS, penularannya ke anak dapat dicegah dengan obat ARV. Kedepannya upaya pencegahan dapat lebih diintensifkan agar siklus penularan dapat dipotong. 
 
Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Badung, I Ketut Suiasa, menyebutkan berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak (KPA) Badung, kasus HIV/AIDS di Kabupaten Badung mencapai 3.152 kasus. Dari jumlah tersebut 78 persen berusia 15 sampai 39 tahun. Penyebab HIV/AIDS sebanyak 82 persen melalui seks bebas. Masyarakat diminta agar berani memeriksakan diri. Apabila diketahui terjangkit HIV bisa segera mendapat penanggulangan.  
 
Harus diakui, keberadaan kafe "remang-remang" di Bali kini memang masih marak, terutama di daerah-daerah pelosok desa. Selain menyediakan hiburan musik disko hingga dangdut, kafe remang-remang juga menyediakan hal lainnya seperti minuman keras dan tentu juga wanita pelayan kafe yang menemani para pengunjung. Kafe "remang-remang" ini juga rentan peredaran narkoba seperti ekstasi dan jenis narkoba lainnya.
 
Selain bertugas menemani para pengunjung yang datang ke kafe, wanita pelayan kafe yang juga dikenal dengan cewek kafe ini juga bisa "melayani" hal lainnya, yakni hubungan seksual dengan pengunjung yang berminat. Biasanya "eksekusi" terhadap cewek kafe ini dilakukan oleh pelanggan di luar kafe, baik di penginapan sederhana, kamar kos, maupun hotel sesuai dengan kesepakatan.
 
Hal ini tentu sangat berisiko, karena hubungan seksual seperti ini sangat sukar untuk dikontrol, terutama dalam hal penggunaan kondom untuk mencegah penularan  penyakit seks menular hingga penyakit mematikan seperti HIV/AIDS. Apalagi transaksi seksual dengan cewek kafe ini seringkali dilakukan saat dalam kondisi mabuk akibat pengaruh minuman keras.
 
Keberadaan kafe "remang-remang" dengan layanan cewek kafe ini lebih banyak berada di wilayah pinggiran. Pihak otoritas setempat, mulai pihak aparatur desa, kecamatan, hingga pihak kepolisian setempat, seolah-olah permisif dengan keberadaan kafe tersebut. Apalagi ada oknum-oknum yang diduga ikut bermain mulai preman, oknum politisi, hingga oknum aparat keamanan, yang ikut menjaga agar keberadaan atau bisnis kafe remang-remang itu bisa tetap eksis.
 
Melihat kondisi seperti ini, sudah saatnya aparat berwenang dalam hal ini pihak pemerintah daerah setempat atau pemerintah propinsi membuat regulasi yang mengatur keberadaan kafe-kafe tersebut. Seperti mengatur zonasi dimana saja kafe atau tempat hiburan malam bisa didirikan, bagaimana aturan untuk para pengunjungnya, bagaimana menjaga agar kafe ini bebas dari bahaya narkoba dan prostitusi terselubung yang berpotensi menularkan HIV/AIDS, dan berbagai proteksi lainnya. Regulasi ini juga perlu didukung pengawasan yang ketat dari pihak kepolisian setempat dan aparat keamanan lainnya.
 
Dengan melakukan hal ini, warga Bali terutama para generasi muda Bali kedepannya akan bisa diselamatkan dari bahaya seks bebas berisiko dan narkoba yang biasanya terdapat di kafe remang-remang tersebut. Sehingga potensi penularan penyakit mematikan ini bisa dikendalikan atau dihentikan.
 
Keberadaan kafe atau tempat hiburan malam, bagi sebagian orang mungkin menjadi solusi untuk melepas penat usai melakukan aktivitas sehari-hari. Namun keberadaan kafe "remang-remang" yang berpotensi dalam penyebaran penyakit HIV/AIDS di Bali, sudah saatnya dikendalikan dengan aturan-aturan yang lebih tegas dan ketat. Agar generasi muda Bali kedepannya tidak menjadi generasi kafe "remang-remang" yang rawan terjangkit penyakit HIV/AIDS yang mematikan. [beritabali.com] 


Rabu, 28 November 2018 | 07:45 WITA


TAGS: aids bali



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: