Pemkot Denpasar Sediakan Tempat Konsultasi Berhenti Merokok

Rabu, 28 November 2018 | 19:45 WITA

Pemkot Denpasar Sediakan Tempat Konsultasi Berhenti Merokok

humas denpasar untuk beritabali.com

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Perilaku merokok dalam ruangan di Kota Denpasar mengalami penurunan. Banyak orang ingin berhenti merokok namun hanya sedikit yang berhasil. Untuk membantu warga yang berniat berhenti merokok, Pemkot Denpasar menyediakan tempat konsultasi berhenti merokok.
 
“Selain membentuk Tim KTR, Pemkot Denpasar juga menyediakan tempat klinik konsultasi berhenti merokok di setiap Puskesmas di Denpasar," kata Kabid Bina Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Kota Denpasar dr. IB Ekaputra saat diwawancarai, Selasa (28/11) di Denpasar. 
 
dr. IB Ekaputra mengaku, perilaku merokok dalam ruangan mengalami penurunan. Bahkan sebanyak 70 % orang ingin berhenti merokok tetapi hanya 5 % yang berhasil tanpa bantuan. 
 
Menurutnya, asap rokok sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Sebagai upaya meminimalisir bahaya tersebut, Pemerintah Kota Denpasar telah mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2013 tentang Kawasan Tanpa Rokok.  
 
Lebih lanjut dr. IB Ekaputra mengatakan, dalam perda itu Pemerintah Kota Denpasar tidak melarang orang merokok melainkan menentukan tempat untuk merokok. Guna menyukseskan Penerapan Perda tersebut, Pemerintah Kota Denpasar melalui Dinas Kesehatan Kota Denpasar membentuk Tim Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang bertugas mensosialisasikan Perda Nomor 7 Tahun 2013 tentang Kawasan Tanpa Rokok dan menyosialisasikan bahaya merokok ke tempat yang telah ditentukan.  Seperti Fasilitas Pelayan Kesehatan, Tempat Proses Belajar Mengajar, Tempat Anak Bermain, Tempat Ibadah, Tempat Kerja Instansi Pemerintah, Tempat Umum, dan tempat lain yang ditetapkan.
 
Pembentukan Tim KTR menurut IB Ekaputra sangat penting mengingat dalam 1 batang rokok, asapnya mengandung 4.000 bahan kimia yang sangat berbahaya. Selain itu juga 40 bahan yang terbukti menyebabkan kanker. 
 
Rokok juga mengandung nikotin (menyebabkan adiksi), tar (bersifat karsinogenik), dan karbon monoksida. Bahkan dapat mengikat sel darah merah 200 kali lebih kuat sehingga kadar oksigen dalam darah menjadi berkurang.
 
Selama pengawasan dan sosialisasi yang dilakukan dr. IB Ekaputra mengaku ditemukan berbagai pelanggaran seperti puntung rokok di fasilitas pelayanan kesehatan sebanyak 33.33%, tempat proses belajar mengajar 10.10%. Tempat ibadah ditemukan ditemukan asbak, 25.00% , orang merokok 25.00%, dan 75.00% tidak ada tanda larangan merokok. Ditempat kerja 66.67% ditemukan orang merokok 66.67% terciup asap rokok, 33.33% ditemukan tempat khusus merokok di dalam ruangan, dan 33.33% tidak ada tanda larangan merokok.
 
Untuk pelanggaran KTR di tempat umum tahun 2018 ditemukan 66.67% tidak ada tanda dilarang merokok dan 66.67% ditemukan puntung rokok. 
 
"Ini merupakan tahap awal, jika sosialisasi berikutnya masih ditemukan pelanggaran maka kami akan menyerahkan ke Satpol PP Kota Denpasar untuk ditindak lanjut," ujarnya. [bbn/humas denpasar/psk]


Rabu, 28 November 2018 | 19:45 WITA


TAGS: asap rokok denpasar



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: