I Wayan Pamit, Guru Penekun Sastra: Guru Jalan Menuju Kesederhanaan

Minggu, 02 Desember 2018 | 08:04 WITA

I Wayan Pamit, Guru Penekun Sastra: Guru Jalan Menuju Kesederhanaan

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com,Denpasar. Denpasar boleh berbangga, punya seorang I Wayan Pamit. Di pengujung abad ini, ia termasuk tokoh langka. Di tokoh sastra daerah yang dimiliki kota Bandana Puta ini, Pamit dapat disejajarkan dengan pengawi Ida Cokorda Mantuk Dirana. Karyanya melimpah, dan hanya orang-orang tertentu  yang tahu.
 

Pamit menguasai lebih dari 200 metrum kidung dan macepat, sekaligus menggunakan temuan-temuan para ahli terdahulu. Pamit adalah salah satu dari sedikit orang yang bisa mengusai metrum Jayendria yang termasuk sukar itu, di samping metrum ini memiliki karakter cukup mistis. Percis seperti dengungan suara kumbang.
 
Pamit memang seorang tokoh yang cukup “antagonis”, tidak seperti pengawi lainnya yang dibesarkan dalam tradisi puri (kraton) atau gria (kalangan brahmana). Ia adalah anak seorang petani. Dilahirkan di Banjar Kayu Mas Kelod pada tanggal 3-10-1935. Ayahnya, I Made Sweca (almarhum), adalah seorang petani penyakap (penggarap) di masa itu. Ibunya seorang pengalu (pedagang keliling).
 
Di mana, kanak-kanak, Pamit mengawali pendidikan formalnya di Sekolah Rakyat (SR) tahun 1944-1945. Namun malang, karena kekacauan politik dalam negeri ketika itu, terpaksa ia berhenti sekolah selama setahun. Baru di tahun 1946 ia kembali ke kelas 1. Tamat SMPN 1 Denpasar tahun 1955, SGA Singaraja, tahun 1958. Tahun 1959 ia mengajar di SD 1 Intaran, Sanur. 
 
Di tahun 1977 ia menamatkan  PGSLP angkatan II, jurusan Bahasa Bali. Sebelumnya, pada tahun (1964-1965), ia sempat melanjutkan kuliah di IHD (Institut Hindu Dharma) Denpasar, hanya sampai semester II. Di samping sebagai Kepala Sekolah Dasar, sejak tahun1977 I Wayan Pamit menyempatkan diri sebagai guru honorer bidang studi agama Hindu di SLUA Saraswati Denpasar.
 
Kenapa guru menjadi impian I Wayan Pamit? Menurutnya, guru adalah pembuka jalan kebenaran, dan jika seseorang ingin kaya, sebaiknya jangan mencoba menjadi guru, sebab guru adalah kesederhanaan. Guru merupakan jalan maupun tujuan, yakni kesederhanan itu sendiri.
 
Inilah alasan prinsip sekaligus sikap hidupnya, mengapa ia selalu terpanggil menggeluti dunia sastra. Kisahnya memang sederhana, bermula dari kesukaannya magending (bernyanyi). Kondisi pendidikan di Sekolah Rakyat ketika itu memang sangat membentuk kanal institutifnya. Selepas pelajaran terakhir gutu-guru memang memberi pelajaran selingan, yaitu magending. Ia sangan betul gending-gending (nyanyian) yang diajar oleh gurunya seperti Bibi Rangda, Cai Ketut, Juru Pencar, dan sebagainya.
 
Sementara itu, ayahnya sendiri membentuk Wayan Pamit semakin akrab dengan kidung-kidung pujaan. Sebab, dari ayahnyalah Pamit pertama kali belajar kidung. Dan, hampir seluruh masyarakat Kayu Mas pernah belajar mekidung pada ayah Pamit.
Berangkat dewasa, seputar tahun 1959-1960, Pamit belajar menulis di daun lontar. Pada masa ini pula ia mulai intensif belajar sastra Kawi. 
 
Pamit pernah belajar di Puri Pajang, Mataram. Lalu bertemu dengan tokoh-tokoh satra Kawi, seperti Anak Agung Raka dan I Made Sukada. Selanjutnya , Pamit belajar sendiri, maguru raga; ia mulai mengumpulkan naskah-naskah lontar sendiri dengan meminjam ke sana kemari. Lalu, dengan tekun ia belajar serius tentang prosodi persajakan sastra Jawa Kuna.
 
I Wayan Pamit memang punya kelebihan. Ia menguasai penuh perangkat gambelan Bali, di antaranya gambang. Lewat karas peratutan gambang ia merunut metrum-metrum kidung hingga tepat betu. Pemahamannya dengan mendalam tentang Bahasa Jawa Kuna mengantarkan ia lebih mendalami kaidah-kaidah estetika sastra Kawi.
 

Sejak tahun 1980-an ia mencoba kepekaan estetiknya dengan mengarang, lebih tepatnya mengadaptasi, ke dalam bentuk geguritan beberapa sastra tutur (ajaran kerohanian), di antaranya adalah Nila Candra, Candra Banu, Bwana Mabah, Angsatya Prana, Tutur Wrehasta, Calon Arang, dan banyak karya lagi yang tidak sempat didata. Pamit juga mengadaptasi teks Siwagama ke dalam beberapa prosodi. Pertama kali ia mengadaptasi Siwagama ke dalam benduk Canda Karana, tentang kaidah-kaidah prosodi sastra kakawin, menyerupai Wrttasancaya karya Mpu Tanakung. Ketiga, Wisagama dalam bentuk kakawin, mempergunakan berbagai wirama (metrum) yang ada dalam Canda Karana.
 
Begitulah, I Wayan Pamit menjalani masa pensiun. Suami Ni Numbrig dengan tiga anak ini sekarang sedang menyelesaikan karya besar. Ia sendiri masih merahasiakan. Entah apa yang dibuatnya. Sementara itu, ia juga tetap sebagai Pembina sekaa pasantian wilayah Kodya Denpasar. Atas jasanya itu, Pamit dianugrahi Piagam Upakerti Budaya oleh Walikotamadya Denpasar I Made Suwendha, pada tahun 1994. (bbn/rls/rob)


Minggu, 02 Desember 2018 | 08:04 WITA


TAGS: I Wayan Pamit Seniman Denpasar Penekun Sastra Guru



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: