Kasus Tanah Balangan Pecatu, Dirkrimsus Polda Bali: Sudikerta Otak Pelaku Penipuan

Selasa, 04 Desember 2018 | 05:32 WITA

Kasus Tanah Balangan Pecatu, Dirkrimsus Polda Bali: Sudikerta Otak Pelaku Penipuan

Beritabali.com

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Kasus dugaan penipuan, penggelapan dan pemalsuan sertifikat tanah Balangan Pecatu Kuta Selatan yang menyeret mantan Wakil Gubernur Bali I Ketut Sudikerta sebagai tersangka menuai titik terang. 
 
Direktur Ditreskrimsus Polda Bali Kombespol Yuliar Kus Nugroho mengungkapkan, dari hasil gelar perkara Jumat (30/11) lalu, penyidik menemukan keterlibatan tersangka Sudikerta sebagai otak pelaku penipuan tersebut. Dari mulai pembelian tanah, memalsukan sertifikat hingga membagi-bagikan hasil penjualan tanah sebesar Rp 150 miliar kepada 10 rekannya. 
 
Kombes Yuliar menerangkan, kasus ini bermula tahun 2013 ketika Boss PT Maspion Alim Markus bertemu dengan Sudikerta (saat itu menjabat Wakil Bupati Badung) ingin membeli tanah di Bali. 
 
“Ada dua objek tanah yang ditawarkan Sudikerta ke Maspion, yakni pertama nomor SHM 5048 seluas 38.650 m2 berlokasi di Desa Balangan Pecatu Kuta Selatan. Kedua dengan nomor SHM 16249 seluas 3.300 m2 di Desa Balangan juga,” ujar Kombes Yuliar, Senin (3/12). 
 
Kebetulan, kata mantan Kapolres Bone Sulawesi Selatan ini, untuk SHM 5048 adalah milik pura, dan SHM 16249 sebelumnya sudah dijual ke PT Dua Kelinci sebesar Rp 16 miliar. “Sehingga disinilah terlihat satu keadaan palsunya. Inilah alat gerak yang digunakan Sudikerta untuk menipu Maspion,” bebernya.
 
Ditegaskannya, secara kewajiban dalam proses kerjasama itu, perusahaan Maspion yang berkantor di Surabaya sudah memberikan Rp 150 miliar kepada Sudikerta dkk. Selain itu, Sudikerta juga yang mengendalikan seluruh proses transaksi dari mulai pembayaran cek dan Bilyet Giro (BG). “Jadi, Sudikerta yang drop ke beberapa temannya, 150 miliar itu dibagi-bagi. Sementara dokumen sertifikat yang salah satunya palsu sudah dijual ke PT Dua Kelinci,” terangnya.   
 
Dari salah proses didirikannya perusahaan PT Pecatu Gemilang yang samasekali tidak punya modal. Setelah dana sebesar Rp 150 miliar ditransfer PT Maspion ke Sudikerta, akhirnya dibukalah PT Pecatu Gemilang. 
 
Saat membuka rekening PT Pecatu Gemilang di Bank BCA, tersangka Sudikerta yang saat ini masih menjabat Ketua DPD Golkar Bali dan menjadi caleg tetap DPR RI, hadir di Bank dan beberapa saksi lainnya. “Selain Sudikerta, disana ada beberapa saksi yakni Direktur dan pihak Bank dan beberapa saksi lainnya. Cek dan BG Sudikerta yang mengendalikan,” ungkap perwira melati tiga dipundak itu. 
 
Kombes Yuliar kembali menambahkan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Keuangan (PPATK) untuk mendalami siapa saja yang menerima aliran dana Rp 150 miliar tersebut. 
 
Dari hasil penelusuran ada 10 orang yang diduga kuat menerima aliran dana dari Sudikerta, salah satunya ke oknum pejabat BPN Badung. “Kami sudah telusuri ada 10 orang yang menerima aliran dana dari Sudikerta, salah satunya ke oknum pejabat BPN Badung,” tegas Kombes Yuliar.
 
Kuasa hukum Sudikerta, Togar Situmorang yang dikonfirmasi sebelumnya mengaku heran dengan penetapan tersangka Sudikerta. Ia mengatakan banyak kejanggalan dalam penyelidikan, bahkan Sudikerta tidak pernah terlibat langsung dalam transaksi jual beli tanah tersebut.
 
"Nama Sudikerta tidak ada dalam PT Pecatu Bangun Gemilang yang disebut-sebut ikut dalam transaksi ini. Kami akan pikirkan untuk menempuh jalur Praperadilan,” tegasnya.  [bbn/spy/psk]


Selasa, 04 Desember 2018 | 05:32 WITA


TAGS: sudikerta tersangka



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: