ACT Upayakan Pemda Relokasi Warga Terdampak Potensi Likuifaksi Bali Selatan

Kamis, 06 Desember 2018 | 17:40 WITA

ACT Upayakan Pemda Relokasi Warga Terdampak Potensi Likuifaksi Bali Selatan

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com,Denpasar. Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) meminta pemerintah mewaspadai potensi likuifaksi di wilayah Bali selatan dengan melakukan penilaian, pemetaan dan melakukan edukasi sekaligus relokasi masyarakat secara bertahap.
 

Wakil Presiden ACT, Ibnu Khajar mengatakan untuk mengantisipasi bencana likuifaksi di Bali, pemerintah daerah dihimbau untuk membuat kebijakan terkait kebencanaan berkoordinasi dengan pihak terkait seperti ahli geologi untuk memastikan wilayah potensi likuifaksi, Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD). 
 
"Solusinya adalah dengan mengevakuasi atau relokasi wilayah yang terkena dampak likuifaksi dan mengedukasi masyarakat agar siap menghadapi bencana," ungkapnya, Kamis (6/12) saat peluncuran Rencana Keberlanjutan Usaha untuk UMKM Tangguh Bencana di Sanur, Denpasar.
 
Disamping likuifaksi, ACT mengindentikasi adanya potensi bencana erupsi gunung Agung dan bencana gempa bumi karena wilayah Bali yang berdekatan dengan pusat gempa yakni cesar Bali Flores. Dikhawatirkan akan terjadinya pergerseran pusat gempa yang selama ini di Lombok NTB beralih ke wilayah Bali.
 
Berikutnya, kata dia adalah kelalaian manusia seperti terjadinya kebakaran. Ia menekankan pentingnya kesiapan masyarakat menghadapi bencana karena adanya korban jiwa sebagian besar bukan disebabkan bencana melainkan tidak siap menghadapinya.
 
Maka dari itu, Presiden Direktur PT Indonesian Paradise Property Tbk Agoes Soelistyo Santoso memprioritaskan faktor manusia dalam menghadapi bencana untuk program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsiblility/CSR). Lebih spesifik, sasaran yang ingin dituju adalah para UMKM, dimana dampak kebencaan kerap tidak menjadi perhitungan pengusaha kecil.
 

"Edukasi ini sifatnya jangka panjang, karena lebih efektif mempersiapkan mental dan meminimalisir kerugian besar para UMKM jika terjadi bencana," ungkapnya.
 
Sementara Dinas Koperasi dan UKM Kota Denpasar, Made Erwin Suryadarma menuturkan sebagaimana diketahui, UMKM merupakan sektor penggerak perekonomian kota Denpasar, seperti pasar Badung yang setiap harinya bermiliaran rupiah mengalir. Bisa dibayangkan jika sewaktu-waktu terjadi bencana seperti erupsi Gunung Agung dan kebakaran. Dampaknya sangat dirasakan para pedagang. Untuk itu, ia mengapresiasi upaya tanggung jawab perusahaan untuk mengedukasi para UMKM untul lebih tanggap bencana. (bbn/rob)


Kamis, 06 Desember 2018 | 17:40 WITA


TAGS: ACT Edukasi Bencana Likuifaksi Bali Selatan



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: