Legong Keraton Lasem, Ibu Dari Tari Yang Sepi Peminat

Minggu, 09 Desember 2018 | 06:00 WITA

Legong Keraton Lasem, Ibu Dari Tari Yang Sepi Peminat

Dr. Anak Agung Ngurah Agung Wira Bima Wikrama

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Tari Legong Keraton Lasem merupakan ibu dari seluruh tari yang ada (khususnya tari perempuan), namun sayang sepi peminat. Sepi peminat karena memiliki tingkat kesulitan tinggi dan perlu waktu panjang untuk mempelajarinya. Hal tersebut diakui salah seorang pelestari Tari Legong Keraton Lasem Dr. Anak Agung Ngurah Agung Wira Bima Wikrama saat dikonfirmasi pada Sabtu (8/12).

Menurut Ngurah Bima, Tari Legong Keraton Lasem disebut sebagai ibu dari seluruh tari karena memiliki seluruh gerak tari dasar. Hal ini menjadi alasan mendasar bagi penari pemula, terutama kalangan anak-anak wajib mempelajari tari legong sebelum mempelajari tari lepas yang lain.

Apalagi gerak tari seperti agem, tandang, tangkep dan tangkis pada tari pelegongan sangat berbeda dengan tari lainnya serta memiliki penjiwaan yang khas. Sebaiknya anak-anak mempelajari tarian ini mulai sejak kelas 1 SD mengingat badannya masih lentur.

"Karena memiliki seluruh gerak tari dasar maka Tari Legong memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi dan seluruh gerak tari dasar itu harus mampu dilakukan dengan sempurna. Ini menjadi tantangan bagi penari sehingga sepi peminat" kata Ngurah Bima yang merupakan Putra Mahkota Raja Denpasar IX, Puri Agung Denpasar.

Bila dibandingkan dengan tari yang ada pada umumnya, Tari Legong Keraton Lasem merupakan tari dengan durasi waktu yang paling panjang. Durasinya mencapai 28 menit, sehingga perlu fisik yang prima untuk menarikannya. Sedangkan tari yang ada pada umumnya hanya memiliki durasi waktu sekitar 7-15 menit.

"Bila tari lepas biasa memiliki durasi sekitar 7-15 menit, tetapi Legong Keraton Lasem bisa 28 menit" ujar pria yang merupakan Mantan Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar tersebut.

Pada sisi lain, para penari memerlukan waktu minimal satu tahun untuk dapat menguasai seluruh gerakan Tari Legong Keraton Lasem. Berbeda dengan tarian umum lainnya yang hanya memerlukan waktu latihan hanya 3-6 bulan.

Ngurah Bima menyampaikan Legong Keraton Lasem menjadi kurang diminati karena jarang dipentaskan dan kurang komersial. Maka perlu upaya untuk membangkitkan dan menarik minat para generasi milenial melalui kegiatan festival.

"Tarian ini dulu kan tarian keraton, hanya dipentaskan untuk kalangan terbatas. Jika sekarang orang menjadi tidak tertarik karena jarang mendapat kesempatan pentas. Kalau pun ada yang melestarikan juga hanya untuk mengikuti festival dan Puri Agung Denpasar pada bulan Pebruari 2019 akan menyelenggarakan Festival Legong keraton Lasem ke- 5" ungkap Ngurah Bima.

Pria yang sering dipanggil dengan sebutan Turah Bima tersebut menyampaikan bahwa menurut informasi yang ada, Tari Legong Keraton Lasem dulu pertama kali berkembang di wilayah Sukawati, Ubud hingga Peliatan. Tapi sekarang sudah berkembang pula di selurah Bali, termasuk di Kota Denpasar. Hingga kini tidak diketahui pencipta dari tarian tersebut.

"Konon asalnya dari Sukawati, tetapi ketika dikonfirmasi ke sana tidak ada yang berani mengklaim sebagai pencipta tarian ini. Tarian ini diperkirakan sudah ada sejak jaman raja-raja di Bali. Justru tari ini sekarang berkembang pesat di Denpasar" papar Ngurah Bima.[bbn/mul]


Minggu, 09 Desember 2018 | 06:00 WITA


TAGS: Tari Legong Keraton Lasem



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: