Bali Miliki 4 Kearifan Lokal Kurangi Stigma Pada ODGJ

Minggu, 30 Desember 2018 | 06:13 WITA

Bali Miliki 4 Kearifan Lokal Kurangi Stigma Pada ODGJ

bbn/FokusJabar.co.id

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Masyarakat Bali memiliki 4 kearifan lokal yang dapat digunakan dalam mengurangi stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Keempat kearifan lokal tersebut yaitu konsep karma phala, tat twam asi, tri pramana dan tri kaya parisudha. 
 

Hal tersebut terungkap dalam sebuah artikel berjudul “Penerapan Kearifan Lokal Masyarakat Bali yang Dapat Mengurangi Stigma Terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa” yang dipublikasikan dalam Jurnal Psikologi Udayana, Volume 5, nomor 3 tahun 2018.
 
Penulis artikel Ida Bagus Gde Agung Yoga Pramana dan Yohanes Kartika Herdiyanto menuliskan bahwa konsep karma phala sebagai salah satu kearifan lokal masyarakat Bali mampu menekan stigma terhada ODGJ. Merujuk pada konsep karma phala, masyarakat Bali umumnya merefleksikan apa konsekuensi yang akan diterima kepada dirinya jika masyarakat melakukan tindakan yang tidak baik kepada ODGJ sehingga masyarakat Bali cenderung akan berpikir kembali untuk mencemooh ataupun melakukan perilaku negatif terhadap ODGJ.
 
Para penulis yang merupakan peneliti dari Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana juga memaparkan bahwa konsep tat twam asi dapat berperan dalam mendorong hadirnya perilaku positif masyarakat Bali terhadap ODGJ. Merujuk pada konsep tat twam asi, masyarakat Bali umumnya merefleksikan apa yang terjadi pada ODGJ ke dalam dirinya sendiri sehingga masyarakat Bali yang cenderung akan berpikir kembali untuk memberikan label ataupun perilaku buruk terhadap ODGJ. 
 
Konsep tat twam asi dapat digambarkan sebagai rasa empati. Bentuk penerapan konsep tat twam asi yang dilakukan oleh masyarakat Bali tercermin dalam sikap masyarakat yang tidak mencemooh ODGJ.
 
Sedangkan sesuai dengan konsep dasar tri pramana, masyarakat Bali memiliki kepercayaan bahwa setiap manusia termasuk ODGJ memiliki potensi yang sama dalam menjalani kehidupan karena setiap manusia lahir dengan memiliki bayu, sabda dan idep. 
 

Hal ini berpengaruh pada pemahaman masyarakat bahwa setiap manusia adalah sama dan setiap manusia berasal dari Tuhan. Pemahaman masyarakat yang sejalan dengan konsep tri pramana mendorong masyarakat untuk memberikan perhatian dan penghormatan bagi ODGJ.
 
Sementara sesuai dengan dasar konsep tri kaya parisudha yaitu sebagai landasan etika perbuatan dalam agama Hindu, masyarakat Bali diajarkan agar selalu berpikir, berbicara dan berperilaku yang baik. Masyarakat yang memahami konsep tri kaya parisudha mendorong masyarakat untuk berpikir, berbicara dan berperilaku yang baik kepada semua orang termasuk juga dengan ODGJ.[bbn/ Jurnal Psikologi Udayana/mul]


Minggu, 30 Desember 2018 | 06:13 WITA


TAGS: ODGJ Stigma Kearifan Lokal Bali



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: