Sosial Media Bisa Pengaruhi Peta Politik hingga Turunkan Presiden

Minggu, 30 Desember 2018 | 14:40 WITA

Sosial Media Bisa Pengaruhi Peta Politik hingga Turunkan Presiden

beritabali.com

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Sumber informasi utama saat ini berasal dari sosial media. Sosial media kini bisa memengaruhi berbagai hal dalam kehidupan termasuk dalam dunia politik. Dalam beberapa tahun terakhir, sosial media bahkan sudah bisa membawa pengaruh dalam dunia politik di berbagai belahan dunia.
 

Hal ini disampaiakan Ni Nyoman Dewi Pascarani, SS, M.si, Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, dalam acara pendidikan politik Gerindra Denpasar, di Prime Plaza Hotel Sanur, Denpasar, Sabtu (29/12/2012).
 
"50 persen warga dunia kini sudah menggunakan internet. Oleh karena itu informasi semakin mudah diperoleh termasuk dari sosial media, termasuk informasi palsu atau hoax. Banyak hoax beredar di sosial media,"ujarnya.
 
Sosial media, kata Dewi, bisa membawa dampak baik atau buruk. Seperti pisau bermata dua. Tergantung cara penggunaannya. Karena menjadi sumber informasi utama saat ini, tak heran jika sosial media belakangan ini bisa memengaruhi peta politik di berbagai belahan dunia.
 
"Contohnya di Ukraina tahun 2014, sosial media dalam hal ini facebook, digunakan untuk menurunkan presiden yang berkuasa saat itu. Dengan menggunakan informasi tentang adanya penculikan dan penganiayaan untuk menurunkan presiden yang berkuasa. Kemudian sosial media juga digunakan untuk menggulingkan Presiden Mesir Hosni Mubarak tahun 2011 yang juga tumbang karena mobilisasi medsos,"jelasnya.
 
Sosial media, sambung Dewi, juga digunakan di Jerman untuk tujuan politik dalam mencapai kekuasaan. Di Filipina, Presiden Rodrigo Duterte, juga menggunakan kekuatan sosial media dimana ia mempunyai "pasukan" yang disebut "keyboard army", yang digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan politiknya.
 
"Presiden Putin (di Rusia) juga menggunakan sosial media untuk kepentingan politiknya. Donald Trump (di Amerika Serikat) juga menggunakan sosial media untuk mencapai kemenangannya dalam pemilihan presiden, dimana ia (Trump) menyiapkan materi-materi berita yang disukai warga Amerika dan bisa diakses di google, sehingga perlahan mengubah persepsi warga yang sebelumnya tidak suka menjadi suka terhadap Trump,"jelasnya.
 
Dengan adanya fenomena ini, Dewi berpesan kepada para peserta pendidikan politik Gerindra agar lebih bijak dan berhati-hati dalam menggunakan sosial media.
 
"Saat ini orang cenderung cepat membagikan informasi di sosial media lebih karena perasaan ingin lebih cepat membagikan, tanpa dipikir sebelum membagi informasi tersebut. Banyak yang membagikan informasi atau kabar yang terhubung dengan perasaan. Suka atau tidak suka, informasi yang didapat langsung dibagi tanpa adanya verifikasi sebelumnya terhadap informasi yang didapat,"ujarnya.
 
Sementara itu  Ketua DPC Gerindra Kota Denpasar, Made Muliawan Arya atau De Gadjah, dalam pemaparannya mengajak semua kader Gerindra agar tidak saling menghujat di sosial media dan berpolitik secara santun, cerdas, dan bergembira.
 
"Melalui pendidikan politik dan literasi informasi ini, kader-kader Gerindra kita berikan pengetahuan tentang apa itu hoax dan cara untuk meng-counter isu-isu negatif yang ada," ujarnya.
 
Menurut De Gadjah, hoax yang muncul di sosial media saat ini merupakan bentuk kampanye hitam yang bisa merusak tatanan demokrasi. De Gadjah mengajak para peserta untuk memverifikasi info yang diperoleh sebelum disebar. Karena hoax pada umumnya dibuat untuk menciptakan sensasi dan cenderung merugikan pihak pihak tertentu.
 
"Saya contohkan saja di Bali ada salah satu akun media sosial di facebook yang penuh dengan hujatan bernuansa SARA dan kebencian terhadap pihak-pihak tertentu, kacau sekali. Itu yang perlu kita lawan dengan menggunakan sosial media secara sehat tanpa menghujat, gunakan cara berpolitik yang santun dan cerdas," ingat De Gadjah.
 

Dalam pendidikan politik Gerindra ini, De Gadjah juga meluruskan berbagai tudungan miring terhadap Ketua umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.
 
"Ada yang mengatakan Pak Prabowo mendukung radikalisme dan anti minoritas. Pak Prabowo disudutkan dengan berbagai macam tudingan negatif. Saya tegaskan Pak Prabowo tidak seperti yang dituduhkan dalam hoax itu. Jika nanti seandainya memang terbukti seperti itu, maka saya akan keluar dari Gerindra," tegas Gadjah.  
 
Sementara terkait Pilpres, De Gadjah mengatakan dalam Pilpres 2019 nanti pihaknya tidak memasang target yang muluk-muluk. Pihaknya hanya memasang target sebanyak 51 persen suara kemenangan untuk wilayah Bali. [bbn/psk]


Minggu, 30 Desember 2018 | 14:40 WITA


TAGS: gerindra sosial media bali



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: