Jero Made Puspawati Mengalirkan Darah Seni di Puri

Minggu, 06 Januari 2019 | 06:00 WITA

Jero Made Puspawati Mengalirkan Darah Seni di Puri

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Bali selain di kenal karena penduduknya yang ramah, juga dikenal dengan banyak penarinya yang hebat. Kepiawaian dan kepintaranya di dunia tari ternyata membawa dirinya sering manggung di Istana Negara Jakarta dan Istana Tampak Siring Gianyar yang disaksikan tamu-tamu kehormatan Negara. 
 

Merekapun tak menyangka berkesempatan dapat tampil di luar negeri membawa misi kebudayaan Negara. Banyak pengalaman yang berkesan yang didapatkan di sana. Sungguh merupakan suatu kebanggaan bagi para penari Bali pada waktu itu. 
 
Salah satu dari sekian banyak penari Bali wanita yang sempat keliling dunia adalah Jero made Puspawati (80). Baginya, dengan menari hidupnya terasa bergairah dan sehat. Secara rutin walau di usia senjanya, Beliau tetap mengajari anak-anak menari dikediamanya di Puri Satria Denpasar. Dan terkadang, Jero Puspawati mengajarkan menari Bali kepada murid-murid asing. Walau sudah berusia senja kegemaran di dunia seni tak menyurutkan niatnya untuk aktif di dunia seni tari. Selalu aktif tampil setiap ajang Pesta Kesenian Bali bersama seniman tua lainnya semakin membangkitkan semangat dirinya sebagai bukti kecintaannya di dunia seni tari.
 
Jero Made Puspawati terlahir dari pasangan Nyoman Runtung dengan Desak Kerenteng. Dia terlahir dengan nama Ni Made Rupawati anak ke dua dari 5 bersaudara. Ayahnya guru SD, sedangkan ibunya penari janger. Jero Made puspawati mengenal dunia tari. Di usia 10 tahun, tepatnya di Banjar tegeh Kori Tonja Denpasar. Walaupun ibu dan kakeknya seorang penari, bukan berarti dirinya dididik olehnya. Tapi sosok Jero Made Puspawati justru diajarkan menari oleh sosok seniman besar yang bernama Wayan Rindi. 
 
Sosok seniman pencipta tari pendet asal Banjar Lebah Denpasar ini saban hari mengayuh sepedanya ke Banjar tegeh Kori untuk memberi latihan kepada empat orang anak didikanya termasuk Jero Puspa di dalamnya. Tari pengaksama (Penyambutan) merupakan tari yang digunakan sebagai dasar, di susul tari Panji Semirang, Tari Klasik seperti Condong dan Legong Keraton. 
 
Program latihan diatur sedemikian rupa dari yang mudah hingga yang paling sulit. Jero Puspa mengenang betapa beratnya latihan menari pada waktu lampau. Untuk belajar nyeledet (melirik) saja memerlukan waktu hingga sebulan lamanya. Sementara melemaskan tubuh, penari harus mengikuti latihan fisik seperti tiaraf dan mendongak di pasir.Latihan-latihan biasanya dilakukan di balai masyarakat. 
 
"Untuk latihan fisik kami di ajak ke sungai yang ada pasirnya,”demikian dikatakan Jero Puspa kepada Bali Dwipa dikediamanya Puri Satria Denpasar. Proses latihan berlangsung lama,sekitar 7 tahun. Jero Puspa baru di usia 17 tahun bisa pentas perdana (nyisiang). Ada mistos/kepercayaan yang mesti dipatuhi menjelang pentas perdana. Selama 24 hari sebelum pentas perdana di gelar tidak dibenarkan keluar jalan-jalan melewati perempatan, yang juga merupakan pembatas desa kala itu. 
 
Melewati perempatan jalan berarti sudah pergi jauh. Jika ini dilanggar ada bahayanya. Bisa kesurupan atau kodok rame-rame masuk pekarangan atau terjadi keributan-keributan waktu latihan. Jero Puspa hampir saja melanggar mitos ini, ketika dia bersama kawan-kawannya ketika hendak ke Tangun Titi untuk menonton latihan menari, ketika itu pukul 4 sore. Untung saja orang tuanya melarangnya.
 
Jero Puspa cepat meraih popularitas terutama setelah bergabung dengan grup kesenian, Cri Buddhaya Bali pimpinan I Gusti Bagus Sugriwa dan Tjokorda Bagus Sayoga. Kelompok seni tari ini adalah kelompok seni tari professional yang selalu di undang pentas di tampak siring setiap Presiden Soekarno datang ke Bali. Selain itu Jero Puspa juga pernah tampil di Surabaya bersama penari wanita Bali tersohor lainnya Ni Reneng dan Ni Cawan. 
 
Jero Puspa melenggang ke Jakarta tahun 1950-an pensta di Istana Negara Jakarta atau Bogor. Terkadang ia naik mobil, terkadang naik kapal layar lewat Tanjung Priok atau naik pesawat terbang. "Pesawat terbang tidaklah seperti sekarang, dulu itu seperti bemo yang bergoyang keras,” kenangnya. 
 
Tahun 1951 Jero Puspa mendapat hadiah kain dari Ibu Fatmawati istri Presiden Soekarno. Tur pertama penari Cri Buddaya Bali ke luar negeri tahun 1952 yaitu ke India, Sri Langka dan Singapura selama 3 minggu. Jero Puspa membawakan tari demang miring, Legong Kerathon, kupu-kupu tarum dan janger. Beliau tampil bersama Ni Mendriyani, Ni Gusti Ayu Rabeg dan Ni Tirtawati. 
 
Tahun 1954 kembali tur ke Pakistan bersama seniman kenamaan lainnya Made Darmi, Luh Wayan Gadung Si Luh Kenanga, Wayan Rendi, Nyoman Ridet, Ida Bagus Oka Wirjana serta Badra. Tahun 2001 kembali ke Eropa dengan membawakan tari Margapati. Jero Puspa yang penuh syukur bahwa hidup di atur Sang Hyang Widhi, karena beliau tidak menyangka akan mendapat kesempatan menari ke luar negeri unuk memperkenalkan seni tari Bali. (bbn/rls/rob)


Minggu, 06 Januari 2019 | 06:00 WITA


TAGS: Jero Made Puspawati Seniman Denpasar Penari di Puri



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: