Tergolong Limbah, Serabut Kelapa Sebagai Produk Olahan Perlu Dikelola Sentra Industri Terpadu

Rabu, 23 Januari 2019 | 16:10 WITA

Tergolong Limbah, Serabut Kelapa Sebagai Produk Olahan Perlu Dikelola Sentra Industri Terpadu

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Serabut kelapa yang tergolong limbah dapat dimanfaatkan sebagai produk olahan yang mempunyai potensi besar jika dikelola dengan konsep sentra industri pengolahan yang terpadu atau komprehensif.
 

Berbicara industri kelapa di Bali, dengan luas lahan 75 ribu lebih hektare, dan produksi 66 juta ton lebih berdasarkan data sensus Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan provinsi Bali pada 2017, selama ini produksi kelapa sebagian besar masih dimanfaatkan untuk kopra. Dominan penggunaan kelapa juga dimanfaatkan sebagai sarana ritual, yakni sebagai daksina.
 
Mengingat 30% dari berat kelapa merupakan bagian serabut kelapa yang dikategorikan limbah, maka jika mampu diolah kembali menjadi produk olahan akan memberi nilai tambah bagi petani dan sektor industri perkebunan kelapa. "Selama ini pemanfaatan kelapa di Bali lebih banyak sebagai sarana upacara dan diolah menjadi kopra, yang juga harus dikembangkan ialah bagaimana memberi nilai tambah dengan menjadikan serabut kelapa menjadi produk olahan dengan dikelola melalui centra industri," ungkap Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan provinsi Bali, Lanang Aryawan saat Focus Group Discussion (FGD) HKTI DPP Bali, bertema Industri Agro dan Sosialisasi KUR Petani, Selasa (22/1) di Denpasar.
 
Selama ini, harga jual kelapa butiran mengalami penurunan beberapa bulan dari Rp4.000 menjadi Rp.1000 per butirnya. Tentunya sebagai konsekuensi bahan baku yang tersedia banyak. Solusinya, kata dia dengan berpikir nilai tambah produk akan mampu meningkatkan pendapatan petani.  
 
Dengan cakupan lahan produksi yang luas dari mulai Karangasem, Klungkung, Tabanan, Jembrana, Buleleng dan Jembrana, Lanang menyebut produk olahan serabut kelapa dapat digunakan sebagai bahan baku dari kasur atau jok. Dari cakupan lahan tersebut, Lanang menyebut 4 wilayah yang ideal sebagai centra pengolahan kelapa, diantaranya; Karangasem, Jembrana, dan Buleleng mengingat lokasinya dekat dengan lokasi bahan baku dan akses jalur tranportasi laut.
 
Penasihat Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Bali, Ir I Made Dana Tangkas Msi. sebagai centra produksi kelapa, Indonesia, Bali khususnya masih kalah dengan Filipina karena mempunyai centra industri yang dikelola baik. Padahal, menurutnya dengan potensi yang luas, jika dikelola dengan baik, Bali akan sanggup mengembangkan centra industri kelapa skala nasional atau internasional.
 
Ia mengusulkan perlunya pengembangan ekosistem yang luas dari mulai kompetensi SDM, penelitian dan pengembangan (research and development), pembibitan, teknologi, sarana produksi, pasca panen, produk olahan, pengemasan hingga dijual ke konsumen. "Pengelolaan industri terpadu dengan spesifikasi kelas dunia diharapkan mampu menjadi tujuan nantinya, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan kelompok petani baik di inti plasma atau plasma-plasma," ujarnya
 

Made Dana Tangkas yang berpengalaman sebagai Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) itu berharap hasil yang dicapai nantinya akan bisa meningkatkan harga jual serta kegiatan ekonomi bisa terdongkrak.
 
Sementara itu, Ketua DPP HKTI Bali, Ir. Putu Arya Sedhana menambahkan melalui kegiatan FGD pihaknya memfasilitasi kebutuhan petani yang terkendala baik dari sisi akses pasar, pengembangan kualitas produk atau produk olahan serta pembiayaan modal. "Kami mengharapkan setelah FGD, outputnya terbangun ekosistem yang mengembangkan industri agro di Bali lebih terkelola secara terpadu dan komprehensif," pungkasnya. (bbn/rob)  


Rabu, 23 Januari 2019 | 16:10 WITA


TAGS: HKTI DPP Bali Serabut Kelapa Produk Olahan Centra Industri Terpadu



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: