I Nyoman Rembang, Mpu Tabuh Mengambil Sikap Ilmu untuk Amal

Minggu, 27 Januari 2019 | 10:01 WITA

I Nyoman Rembang, Mpu Tabuh Mengambil Sikap Ilmu untuk Amal

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Berguru itulah kegiatan yang memenuhi masa kecil dan masa muda I Nyoman Rembang. Menjadi guru, itulah yang dilakukan maestro seni tabuh Bali asal Banjar Sesetan Tengah, Denpasar Selatan, ini ketika usianya mulai menginjak dewasa dan menuju usia tua. Hingga kini ia memang sangat suntuk membaktikan dirinya meneruskan semua ilmu tabuh yang ia miliki kepada generasi penerusnya.
 

Semua ilmu yang ia peroleh memang tak hendak ia miliki sendiri. “Ilmu itu untuk amal,” Katanya menyatakan sikap dan visinya. Karena itu pula ia kemudian memilih profesi guru sebagai jalan hidupnya. Inilah profesi yang baginya sangat mulia di dunia, meskipun tak banyak yang mendambakannya. Maklum, “Guru memang pahlawan tanpa tanda jasa,” ujarnya, tersenyum tipis.
 
Lahir di Desa Sesetan Tengah, Kecamatan Denpasar Selatan, pada tanggal 15 Desember 1930, Rembang akhirnya menikah dengan gadis Rabinstiti pada tahun 1957. Dari perkawinannya dengan Ni Ketut Rabinstiti ini lahir lima anak, masing-masing: Ni Luh Putu Diah Purnamawati (1958), I Made Mercumahadi (1962), Ni Nyoman Ernadewi (1965), Ni Ketut Tilem Santilatri (1968), dan I Gede Putra Widyutmala (1971).
 
Lahir dan besar di masa penjajahan mengakibatkan I Nyoman Rembang hanya sempat mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat (SR) lima tahun (1937-1942). Tapi baginya semua itu tidak pernah merupakan halangan untuk menjadikan dirinya seorang yang memiliki arti dalam masyarakat. Maka, ketika usianya mulai meginjak tujuh tahun ia sudah berguru kepada dua orang penabuh gender wayang kawakan yang ada di desanya, yakni I Wayan Jiwa dan I Wayan Naba. 
 
Kecintaannya pada seni, khususnya seni tabuh, rupanya melekat demikian dalam hatinya. Rasa cinta itu terasa semakin menggebu-gebu ketika ia mendengar di sekitar desanya ada tokoh-tokoh karawitan yang sedang top dan popular di masyarakat. Maka bocah Nyoman Rembang yang waktu itu berumur delapan tahun pun mulai melangkahkan kakinya ke luar desanya untuk belajar menabuh palegongan. 
 
Ia pun kemudian berguru kepada Bagus Putu di Desa Kepaon, I Nyoman Nyebleng dan I Wayan Kale dari Desa Geladeg, I Wayan Regog di Banjar Belaluan, I Wayan Lotering di Kuta, I Nyoman Kaler di Desa Paga, I Gusti Putu Made Geria di Desa Buagan, bahkan sampai ke desa tohpati. Di Tohpati ia berguru kepada I Ketut Gelebig.
 
Bagi orang-orang seumur Nyoman Rembang, jarak desa-desa tersebut cukup jauh. Apalagi transportasi waktu itu tidak seenak sekarang. Semua desa dilaluinya dengan jalan kaki pergi-pulang (pp), saban hari. Belum ada mobil sepeda motor, bemo, apalagi mobil sedan berseliweran di jalanan, kala itu. Namun bagi Nyoman Rembang, jarak yang jauh tidak menjadi masalah baginya. “Jalan kaki justru membikin sehat.” Katanya. Prinsipnya : Ilmu itu harus dikejar dan dicari ke mana pun atau betapapun jauhnya.
 
Dan, Rembang tak berlebihan bila dikatakan pemburu ilmu sejati. Bertambah tua usia bukan berarti langkahnya semakin surut mengejar dan memperdalam ilmu. Sebaliknya, gelora semangatnya untuk memperdalam ilmu justru kian menggelegak.
Begitulah, ketika usianya baru menginjak angka 10 tahun (tahun 1940), ia mulai menekuni tabuh Pegambuhan sebagai pengiring tari Gambuh yang hingga kini diyakini sebagai dasar tari Bali. Tabuh ini ia pelajari pada guru-guru yang ada disekitar desany, antara lain Wayan Sianta  (Desa Sesetan), Made Ceteg (Sesetan), I Ketut Mertu (Pedungan), dan I Made Lemping (Pedungan).
 
Kemampuan I Nyoman Rembang menyerap banyak tabuh Pengambuhan ini, ternyata kemudian membawa banyak hikmah bagi generasi penerusnya. Sebab, ternyata pula, tari Gambuh sebagai dasar tari Bali merupakan bentuk kesenian yang nyaris punah di jagat dewata ini. Sehingga, ketika Majelis Pertimbangan Kebudayaan (Listibya) Bali mengadakan seminar dan workshop mengenai tari Gambuh, maka tak ayal lagi Nyoman Rembang yang menginjak usia remaja (15 tahun) masih sempat pula belajar angklung kebyar kepada I Nyoman Kaler di Desa Pagan dan I Ketut Gelebig di Desa Tohpati. Bahkan ketika kelima anaknya sudah lahir ia masih pula menyempatkan diri untuk belajar tabuh Gambang (tahun 1972) pada I Made Adi di Desa Sempidi.
 

Belajar dan hasilnya bukan untuk dimonopoli bagi kepentingan diri sendiri memang merupakan tekad yang membara di hati Nyoman Rembang. Karena itu, ketika ia telah banyak mendapat ilmu dari mpu-mpu tabuh yang menjadi gurunya, ilmu itu pun ia teruskan kepada yang membutuhkan. Ia pun mulai berpetualang menjelajahi jagat ini untuk mewariskan ilmu yang telah ia peroleh selama ini. Semua ilmu yang ia peroleh ia amalkan tanpa memandang dari mana muridnya berasal. Begitulah tidak hanya untuk orang Bali. Tidak pula hanya untuk orang Indonesia. Kepada orang Amerika sekalipun ia rela memberikan ilmunya, demi kelestarian seni itu sendiri. Maka pada tahun 1948 ia mulai menjelajahi seluruh kabupaten di Bali untuk mengajar tabuh palengongan ataupun gender wayang.
 
Tahun 1952 ia menjadi guru tetap dalam bidang seni tabuh Bali pada Konservatori Karawtan Indonesia (Kokar) di Surakarta. Maka mulailah ia menjadikan profesi guru secara formal bagi kehidupan dirinya. Ketika kehadiran Kokar di Bali, ia pun pindah tugas sebagai guru di Kokar (sekarang SMKI) di Denpasar Bali (tahun 1963). Tahun 1967, ketika ASTI (Akademi Seni Tari) Bali yang ikut dibidani pendiriannya mulai mengembangkan diri, Nyoman Remabang tidak absen menyumbangkan keahliannya sebagai dosen tamu di Akademi tersebut. Tahun 1974, Nyoman Rembang mendapat kehormatan diundang selama lima bulan untuk memberikan pelajaran tabuh Bali pada Summer di Berkeley, California, Amerika Serikat. Dharma baktinya tidak hanya dengan memilih guru sebagai profesi. (bbn/rls/rob)


Minggu, 27 Januari 2019 | 10:01 WITA


TAGS: Seniman Denpasar I Nyoman Rembang Mpu Tabuh Ilmu untuk Amal



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: