Perda Larangan Plastik Ancam Setoran Pajak

Rabu, 30 Januari 2019 | 13:50 WITA

Perda Larangan Plastik Ancam Setoran Pajak

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Jakarta. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai pemberian insentif fiskal kepada Pemda yang menerbitkan perda pembatasan penggunaan kantong plastik, menggerus penerimaan pajak.
 

Direktur Industri Kimia Hilir Kemenperin, Taufik Bawazier seperti yang dikutip inilah.com mengatakan, pemberian insentif kepada Pemda, bukanlah solusi yang tepat dalam penanganan sampah plastik di tanah air.
 
Menurutnya, kebijakan tersebut kontradiktif dengan kontribusi sektor industri plastik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional serta pajak. "Dengan melarang plastik berarti menghilangkan potensi penerimaan negara," ujar Taufik di Jakarta, Selasa (29/1/2019).
 
Tahun ini, penerimaan cukai plastik dalam APBN 2019 dipatok sebesar Rp 500 miliar. Angka tersebut, sama seperti target penerimaan cukai plastik pada 2018.
 
Taufik menjelaskan, solusi dalam penanganan sampah plastik, sejatinya sudah ada dalam Undang-Undang Nomor 18/2018 tentang Sampah, yang bunyinya ada berbagai kewajiban Pemda dan Kementerian/Lembaga terkait untuk mengelola sampah.
 
"Dengan melakukan pengelolaan yang sampah yang baik, sampah plastik yang jumlahnya 16 persen dari total sampah dapat diolah kembali dan dimanfaatkan sebagai energi listrik, pupuk, dan bahan baku scrap industri recyling plastik," paparnya.
 
Demi pengelolaan sampah plastik dengan baik, kata Taufik, Kementerian melakukan bimbingan dan mengusulkan keringanan pajak untuk industri daur ulang plastik. Namun, keringanan pajak tersebut hingga saat ini belum terealisasi.
 
"Kita memberikan bimbingan teknis bagi industri daur ulang untuk dapat memanfaatkan scrap bahan baku plastik menjadi lebih baik," kata Taufik.
 
Kemenprin berharap agar penyelesaian masalah sampah plastik yang sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi dan menghidupi banyak pihak, tak terkecuali pemulung, dapat dibahas secara hati-hati, dan menyeluruh, sehingga tidak mematikan industri plastik nasional.
 
Dalam sebuah penelitian global, menyebut polutan terbesar di laut bersumber dari filter rokok, bukan sedotan, kantong dan botol plastik.
 

Melansir CNN, Jumat (25/1/2019), sekitar 6 triliun rokok diproduksi setiap tahun dan lebih dari 90 persen filternya mengandung plastik. Ini artinya ada lebih dari 1 juta ton plastik setiap tahun yang diproduksi dari rokok.
 
"Banyak perokok berasumsi penyaring rokok terbuat dari bahan yang bisa terbiodegradasi atau bisa diolah. Padahal, filter rokok terbuat dari selulosa asetat (jenis plastik yang butuh sekitar satu dekade untuk bisa terurai)," jelas Elizabeth Smith yang bekerja di kebijakan pengendalian tembakau di Universitas California San Francisco. (bbn/rls/inilah/com)


Rabu, 30 Januari 2019 | 13:50 WITA


TAGS: Perda Larangan Plastik Ancam Ancam Setoran Pajk



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: