Pembangunan Bandara Bali Utara 'Mengawang-awang'

Selasa, 12 Februari 2019 | 14:00 WITA

Pembangunan Bandara Bali Utara 'Mengawang-awang'

beritabali.com/ilustrasi/net

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Tarik-ulur pembangunan bandara Bali Utara terus berlangsung dan belum ada kejelasan apapun. Lokasi pembangunan bandara hingga kini belum ditentukan dengan pasti, kendati sempat ramai bahwa pembangunan bandara akan dilaksanakan diatas laut. Kemudian muncul rencana pembangunan bandara akan dilaksanakan di Bukit Teletubies, dengan luas lahan mencapai 370.98 hektar. Sayangnya kepastian pembangunan bandara di Bukit Teletubies juga belum jelas, karena harus menunggu penetapan lokasi yang katanya memerlukan waktu proses tiga hingga 4 bulan kedepan. Apakah pembangunan bandara Bali Utara hanya akan sekedar menjadi mimpi atau mimpi yang jadi realita? Selain itu, apakah benar Bali Utara membutuhkan pembangunan Bandara? Mengingat berdasarkan catatan sejarah, Bali utara atau Kabupaten Buleleng sejak dulu sudah terkenal dengan daerah pelabuhan laut.

Mencermati perkembangan informasi sejak awal isu pembangunan Bandara Bali Utara, latar belakang pembangunan Bali Utara lebih didasarkan pada alasan keterbatasan kemampuan daya tampung Bandara Ngurah Rai. Alasan berikutnya yang mengikuti adalah upaya mewujudkan pembangunan pariwisata yang seimbang antara Bali Utara dan Bali Selatan. Jika alasan daya tampung Bandara Ngurah Rai memang sudah terbatas, tentu perlu upaya untuk meningkatkan kunjungan ke Bali melalui Pelabuhan Gilimanuk, Padang Bay dan Benoa. Apalagi Bandara Ngurah Rai hanya salah satu pintu masuk menuju Bali. Jika pembangunan Bandara Bali Utara hanya demi alasan pemerataan pembangunan pariwisata antara Bali Utara dan Selatan, terus apakah pembangunan Bandara Bali Utara akan menyelesaikan kesenjangan pembangunan tersebut? Bila melihat balik ke belakang, Bali Utara memiliki Bandara Letkol Wisnu di Desa Sumberkima, Kecamatan Gerokgak. Pada Agustus 2016 bahkan terdapat rencana dari pemerintah Kabupaten Buleleng untuk mengembangkan bandara yang berstatus bandara militer tersebut menjadi bandara tempat pendaratan jet-jet pribadi. Namun hingga kini belum ada kabar realisasi dari implementasi rencana pengembangan tersebut.

Selama ini selalu terdapat upaya untuk mendengungkan pembangunan berkelanjutan di Bali, sebuah pembangunan yang memperhatikan daya tampung dan daya dukung lingkungan. Kenyataannya yang lebih terlihat hanya pembangunan yang berlanjut tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Begitu juga, pembangunan Bandara Bali Utara kini hanya lebih pada perdebatan penetapan lokasi dan belum ada informasi yang pasti mengenai kelayakan pembangunan bandara di Bali Utara. Mengingat pembangunan Bandara Bali Utara juga harus memperhatikan konsep-konsep mitigasi bencana, karena Bali Utara identik dengan daerah perbukitan dan mempunyai catatan sejarah bencana yang dikenal dengan gejer Bali.

Begitu pentingkah pembangunan Bandara Bali Utara? Apalagi Bandara Bali Utara digadang-gadang hanya untuk melayani low cost carrier (LCC). Jika memang sangat penting maka akan sangat penting juga membangun infrastruktur pendukungng lainnya yang tentunya memerlukan lahan dan akan memberikan dampak terhadap alih fungsi lahan. Jika memperhatikan potensi dan menyimak hasil penelitian Ni Komang Ayu Astiti  dari Deputi Industri dan Regulasi Kepariwisataan, Kementerian Pariwisata yang berjudul “Optimalisasi Pengelolaan Pelabuhan-Pelabuhan Kuno di Buleleng Dalam Pengembangan Pariwisata” yang dipublikasikan dalam Forum Arkeologi Volume 31, Nomor 1, tahun 2018 menyebutkan bahwa Bali Utara sejak abad ke 10 sampai masa pemerintahan Belanda sudah mempunyai image sebagai kota pelabuhan dan menjadi jalur perdagangan baik regional, nasional dan dunia. Dimana potensi sumber daya alam sebagai komoditas perdagangan, menyebabkan Belanda secara politik ingin menguasai daerah ini. Dengan membangun tujuh buah pelabuhan di perairan Buleleng menunjukan peran penting daerah ini dalam jalur perdagangan Belanda. Perkembangan sosial ekonomi dan politik menyebabkan di pelabuhan  seperti Pelabuhan Buleleng, Sangsit dan Pelabuhan Temukus berfungsi secara efektif dan menjadi triangle spot dalam perekonomian Belanda. Ayu Astiti  dalam artikelnya merekomendasikan pemerintah Kabupaten Buleleng untuk mengoptimalkan keberadaan pelabuhan tersebut dalam konteks pariwisata dan mengintegrasikan dengan komponen yang lain.

Sebelumnya Ayi Rizki Ramadani, I Gusti Ngurah Tara Wiguna dan Zuraidah dalam artikel berjudul “Pelabuhan Sangsit Sebagai Pusat Perdagangan pada Masa Pemerintahan Kolonial Belanda di Kabupaten Buleleng Abad XIX” yang dipublikasikan dalam Jurnal Humanis, Fakultas Ilmu Budaya Unud volume 20.1 tahun 2017 juga dengan tegas menuliskan bahwa jika Pelabuhan Sangsit merupakan Pelabuhan yang sudah berperan pada masa Bali Kuno, hal ini diperkuat dengan temuan keramik Dinasti Sung (abad X-XIII) dan Keramik Dinasti Ming (abad XVI-XVIII). Abad XIX Pelabuhan Sangsit dijadikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sebagai pusat perdagangan di Bali guna menunjang haluan politiknya di Indonesia bagian timur, Perannya sebagai pusat perdagangan. Disebutkan pula jika hasil penelitian prasasti yang telah diteliti terdapat pada Prasasti no 353 Sawan/Bila AI yang berangka tahun 945 Saka (1023 M), Prasasti no 409 Sembiran AIV bertahun 987 Saka (1065 M), isi prasasti tersebut menerangkan bahwa terdapat pelabuhan yang cukup penting dalam perdagangan maritim di Pesisir Buleleng, yaitu Pelabuhan Manasa. Pelabuhan ini tidak saja untuk kepentingan para pedagang dari seluruh Nusantara, seperti dari Bugis, Jawa, dan Madura namun juga sama pentingnya bagi para pedagang asing seperti dari India dan Cina.

Apabila berbicara potensi dan peluang maka yang perlu dikembangkan di Bali Utara bukanlah sebuah bandara tetapi sebuah pelabuhan. Apalagi sejarah telah memberikan catatan bahwa pelabuhan di Bali Utara merupakan pelabuhan internasional. Belum lagi apabila melihat potensi wilayah laut di Buleleng. I Ketut Suwena dan Ni Ketut Arismayanti dari Fakultas Pariwisata Universitas Udayana dalam sebuah artikel berjudul “Pengembangan Pariwisata Hijau Sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat di Desa Pemuteran Kabupaten Buleleng Bali” menuliskan jika Kabupaten Buleleng merupakan salah satu daerah pariwisata yang cukup diminati oleh wisatawan karena wisata bahari yang terbentang disepanjang wilayahnya. Dalam artikel yang sebelumnya disampaikan dalam Seminar Nasional Sains dan Teknologi (Senastek) di Denpasar pada 2016, I Ketut Suwena dan Ni Ketut Arismayanti juga menuliskan bahwa wisatawan mancanegara menjadikan Lovina sebagai daya tarik wisata favorit di Kabupaten Buleleng. Selain itu, Desa Pemuteran merupakan salah satu daya tarik wisata yang menjadi pilihan wisatawan berkunjung karena keindahan alam berupa pantai dan wisata lautnya. Terumbu karang di kawasan Pantai Pemuteran dapat dinikmati dengan snorkeling tak jauh dari tepi pantai. Pemuteran memiliki area terumbu karang dangkal terluas di Bali yang mudah dinikmati keindahannya mengingat arus lautnya terbilang aman dan tenang. Pemuteran juga terkenal sebagai kawasan dengan semangat konservasi laut yang tinggi untuk projek terumbu karang artifisal Biorock terbesar di dunia.

Dalam perkembanganya saat ini, pelabuhan di Buleleng bukan hanya menjadi catatan sejarah semata. Berulangkali kapal pesiar telah singgah di tempat bersejarah tersebut, sehingga pelabuhan yang ada di Bali Utara juga berpotensi dikembangkan menjadi pelabuhan kapal pesiar. Tabloid Kabar Buleleng, Edisi Maret 2018 sempat merilis data Dinas Pariwisata Buleleng yang menyebutkan bahwa pada tahun 2017, sebanyak 15 kapal pesiar berpenumpang wisatawan mancanegara, dengan ukuran panjang kapal rata-rata mencapai 225 meter lebih telah bersandar di Pelabuhan Celukan Bawang. Sedangkan untuk tahun 2018 ini, sebanyak 17 kapal pesiar kembali menurunkan wisatawannya untuk menikmati sejumlah destinasi wisata yang ada di Bumi Panji Sakti. Apabila peluang dan potensi yang ada saat ini mampu dikembangkan maka Bali Utara tentu akan mampu sejajar dengan Bali selatan, bahkan jadi lebih makmur. Pengembangan potensi pelabuhan dan laut di Buleleng dengan optimal sudah tentu juga akan sejalan dengan gagasan Presiden Joko Widodo untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

 

Oleh :

I Nengah Muliarta

Pemred Beritabali.com


Selasa, 12 Februari 2019 | 14:00 WITA


TAGS: Bandara Bali Utara Tak Jelas



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: