I Wayan Turun Si Pecinta Kata Serba Bisa

Minggu, 17 Februari 2019 | 09:00 WITA

I Wayan Turun Si Pecinta Kata Serba Bisa

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. I Wayan Turun begitu orang tuanya memberi nama pada anak wayahan ini. Dilahirkan di banjar kedaton, Kesiman, tahun 1950. Sang ayah , I Wayan Nyamblung , adalah seorang petani biasa. Sementara sang ibu, Ni Made Ruteng, pragina janger paling terkenal janger kedaton. Yang hampir-hanpir jadi mitos itu? Dan, I Wayan Turun bisa dialiri jiwa seni dari pihak ibu. 
 

Turun menamatkan pendidikan formal di SR I Kesiman, Tahun 1966. Tamat SMEPN tahun 1969 di Denpasar, dan ia menamatkan SSRI tahun 1971 di kota yang sama. Menurut penutura nya, sejak di sekolah rakyat ia begitu kesurupaqn dengan pelajaran kesenian, apalagi megending Bali, ia adalah jago nya.
 
Nama Sidem pada era globalisasi seperti sekarang ini, sebagai pemacu dari kemajuan zaman, sehingga berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat yang sudah jelas akan menimbulkan suatu kecendrungan, baik yang bersifat kebaikan maupun bersifat keburukan. Disamping itu dipandang perlu dari pergaulan akan terjadi pembaharuan-pembaharuan sehingga melalui pembaharuan tersebut akan datang budaya-budaya asing. Masyarakat Hindu di Bali agar mampu menyaring budaya-budaya asing yang bersifat negatif untuk masuk ke dalam negeri. Sehingga budaya Hindu tetap bisa menjadi tuan rumah.
 
I Wayan Turun berusaha ikut serta dalam memajukan seni budaya yang ada khususnya Seni Sastra. Berawal dari kegemarannya mempelajari asta kosala kosali (aturan dasar arsitektur Bali) lewat Pekak Kenjing (Batan Buah), Anak Agung Mel di Dauh Tangluk serta Ida Pedanda Oka di Geria Bindhu sehingga pada akhirnya di-winten sebagai undagi (arsitek Bali) dan diperkenankan membuat alat-alat upakara seperti bade-lembu dan bangunan tradisional Bali lainnya I Wayan Turun sebagai sastrawan yang lahir pada tahun 1950 dari seorang ayah Petani biasa bernama I Wayan Nyamblung dan seorang ibu sebagai penari Janger yang termasur di Desa Kedaton Kesiman bernama Ni Made Runteng. Kemungkinan bakat ibunya bidang seni melekat dalam jiwa I Wayan Turun.
 
Tahun 1970 I Wayan Turun mulai mempelajari sastra kawi karena ketertarikannya belajar kawisesan (kesaktian) seperti belajar nerang (jadi pawang hujan), bisa ngujanang ( membuat hujan secara gaib) dan disenangi perempuan, untungnya dia keburu insaf lalu menetapkan hati untuk berguru dalam usaha mematangkan pemahaman filsafat tentang seni dan agama beliau berguru pada Ida Pedanda Kekeran dari Blahbatuh Gianyar, Ida Pedanda Made Sidemen dari Geriya Taman Sari Sanur, Ida Pedanda Bajing dari Geriya Bindhu, Ida Rsi Agung Penatih dan Ida Dalem Pemanyun Dalam pengembaraan I Wayan Turun pada dunia Sastra jelas memperdalam lakon dirinya sebagai pengarang. 
 

Selain menulis prasasti, penyalin lontar juga termasuk pengarang yang produktif hal ini dapat dilihat dari karya sastranya yang sudah bisa dibaca seperti Kakawin Singalangala, Kidung Ki Dalang Buricek, Geguritan Balian Batur, Geguritan Kasuksman, Geguritan Busana, Kakawin Swara Puspita dan Gegurtian Penataran. Atas jasanya beliau dianugrahi Piagam Upakara Budaya dari Walikota Denpasar Drs. I Made Suwenda tahun 1995. 
 
Dalam pelestarian seni sastra beliau juga aktif sebagai kolektor lontar yang ada di Kota Denpasar. 119 lontar yang ada di rumahnya kondisinya masih sangat memprihatinkan karena diletakan ditumpuk begitu saja dan kemungkinan rusak sangat besar. Beliau berkeinginan untuk mentranslit semua lontar ke Bahasa latin dan sekaligus menterjemahkan sehingga mudah dimengerti dan dipahami oleh masyarakat khusunya Kota Denpasar. (bbn/rls/rob)


Minggu, 17 Februari 2019 | 09:00 WITA


TAGS: I Wayan Turun Seniman Denpasar Pecinta Kata Serba Bisa



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: