Pemutusan Akses Internet Saat Nyepi, Antara Keinginan dan Kebutuhan

Kamis, 21 Februari 2019 | 21:50 WITA

Pemutusan Akses Internet Saat Nyepi, Antara Keinginan dan Kebutuhan

Beritabali.com/ist/net

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Sejak tahun 2018 lalu pelaksanaan Nyepi di Bali diikuti dengan pemutusan akses data seluler atau internet. Hal ini tertuang dalam seruan bersama majelis-majelis agama dan keagamaan Provinsi Bali. Kendati dalam seruan tersebut, provider penyedia jasa seluler hanya diharapkan mematikan data seluler atau internet saat pelaksanaan Nyepi, tetapi hal ini masih menjadi pro dan kontra di masyarakat. Memang masih diperlukan suatu evaluasi terkait pemutusan akses internet saat Nyepi, apakah pemutusan internet tersebut sebuah kebutuhan atau keinginan saat pelaksanaan Nyepi? Evaluasi ini tentu diperlukan agar pelaksanaan Nyepi sesuai dengan konsep dasar catur brata penyepian dan bukan menjadi sebuah seremonial semata.

Informasi saat ini menjadi sebuah kebutuhan bagi manusia dalam upaya meningkatkan dan memperbaiki taraf kehidupan. Kebutuhan dan keinginan akan informasi selalu berjalan beriringan seakan sulit dibedakan. Dengan perkembangan teknologi yang cukup pesat maka Internet saat ini menjadi sarana baru dalam berkomunikasi. Ketersediaan jaringan internet selama 24 jam seakan memberikan kesempatan untuk mengakses informasi tanpa batas waktu dan batas wilayah. Bagi generasi milenial, akses internet seakan menjadi sebuah keharusan, sehingga menjadi susah dibedakan, apakah menjadi kebutuhan tersier, kebutuhan pokok atau hanya sebatas keinginan.

Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa kebutuhan adalah sesuatu yang harus dimiliki manusia karena tingkat keperluan atau urgensinya yang tinggi. Tentu dalam memenuhi kebutuhan maka hal paling penting yang menjadi pertimbangan adalah manfaat dan fungsi dari pemenuhan kebutuhan tersebut. Sedangkan keinginan dinyatakan bersifat subjektif, tidak terlalu berpengaruh pada kelangsungan hidup seseorang. Selain itu, keinginan bersifat kepuasan semata serta cenderung menyesuaikan dengan selera individu. Keinginan memang dapat bersifat positif, namun jika dapat memberikan nilai tambah. Jika pemutusan akses internet dilakukan saat Nyepi merupakan sebuah kebutuhan, maka apa manfaat dan fungsinya dalam meningkatkan kekhusukan pelaksanaan Nyepi? Jika merupakan sebuah keinginan yang bersifat positif maka apa kira-kira nilai tambahnya? Sementara internet dapat dipandang sebagai sebuah sarana, barang atau jasa yang dapat digunakan saat diperlukan dan dapat disimpan atau tidak diakses saat tidak diperlukan. Apabila dalam Nyepi melakukan pengendalian diri melalui catur brata penyepian, mengapa akses internet yang harus diputus? Jangan sampai karena masalah pribadi yang alergi mengkonsumsi ikan laut, kemudian menyalahkan nelayan yang menangkap ikan laut atau menyalahkan pedagang yang menjual ikan laut.

Ni Nyoman Juwita Arsawati, A.A.A.N. Sri Rahayu Gorda, Putu Eva dan Ditayani Antari dalam artikel berjudul “The Philosophical Meaning of Nyepi Celebration in Bali from the Context of Maintaining Natural Sustainability and Social Harmony” yang dipublikasikan dalam  International Journal of Civil Engineering and Technology, volume 9, nomor 8 tahun 2018 menuliskan bahwa Nyepi berasal dari kata sepi atau sipeng yang berarti kesepian, sunyi, nol, kosong, tidak ada kerumunan, tidak ada suara, tidak ada aktivitas. Nyepi bagi umat Hindu di Bali, adalah menggunakan kesempatan untuk mulat sarira (introspeksi diri). Saat Nyepi umat Hindu melakukan catur brata penyepian, yaitu amati geni atau tidak menyalakan api baik secara fisik maupun di dalam diri (tidak menuruti nafsu), amati karya atau tidak boleh melakukan kegiatan fisik bekerja, amati lelungan atau tidak bepergian tetapi lakukan introspeksi, dan amati lelanguan atau tidak membangunkan kesenangan tetapi untuk memusatkan pikiran pada pemurnian spiritual. Bahkan bagi mereka yang dapat berbuat lebih baik justru melakukan tapa, brata, yoga, misalnya dengan puasa selama 24 jam dan juga monobrata sambil selalu memfokuskan pikiran kepada Tuhan.

Internet hanya sebuah sarana maka saat melaksanakan Nyepi sarana yang tersedia tersebut tidak digunakan, bukan justru ditiadakan. Apalagi amati geni dapat diartikan sebagai upaya untuk tidak menyalakan api baik secara fisik maupun di dalam diri (tidak menuruti nafsu), sehingga nafsu untuk menggunakan internet yang harus diredam dan bukan justru meniadakan internet. Apabila tidak mampu menahan nafsu untuk menggunakan internet maka akan melanggar amati lelungan. Dimana lelungan berasal dari bahasa Bali dengan akar kata lunga yang berarti pergi, yang dalam teknologi informasi dapat diartikan menjelalah dunia maya. Begitu juga, jika tidak mampu menahan nafsu menggunakan internet akan melanggar amati lelanguan atau tidak mencari hiburan atau rekreasi. Mengingat saat menggunakan internet maka pengguna dapat aktif mencari hal yang diinginkan untuk kepuasan diri. Jadi saat pelaksanaan Nyepi bukan akses internet yang harus ditiadakan, tetapi nafsu atau keinginan untuk menggunakannya yang harus ditiadakan. Belum lagi akses internet bukan barang fisik seperti mobil yang apabila digunakan akan menimbulkan kebisingan.

Beberapa pihak memang sering mengkaitkan pemutusan akses internet dengan Nyepi siaran atau penghentian siaran TV dan radio saat Nyepi. Apabila dicermati penghentian siaran lembaga penyiaran saat Nyepi telah menjadi komitmen lembaga penyiaran untuk menghormati nilai-nilai agama, meningkatkan moralitas dan jati diri bangsa, seperti yang tertuang dalam pasal 5 poin b Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Nyepi siaran juga dilakukan karena isi siaran pada prinsipnya ditentukan oleh lembaga penyiaran dan masyarakat sebagai penonton hanya bersikap pasif atau hanya jadi penikmat. Sedangkan penggunaan internet yang cenderung untuk mengakses media sosial sifatnya interaktif. Dimana penggunanya sekaligus sebagai sumber, sehingga pada saat Nyepi menjadi ujian bagi penggunanya yang melaksanakan Nyepi untuk menahan diri dengan tidak posting, share atau like. Jadi kembali poinnya adalah mengendalikan nafsu atau keinginan untuk mengakses internet, bukan justru internet yang harus ditiadakan.

Nyepi siaran juga menjadi penting karena lembaga penyiaran khususnya lembaga penyiaran teresterial memberikan siarannya kepada masyarakat secara gratis, sehingga tidak memerlukan biaya untuk mengakses. Berbeda dengan internet, untuk dapat memanfaatkan akses internet memerlukan kuota dan untuk memiliki kuota harus dengan membayar. Apalagi kecenderungan masyarakat menggunakan internet hanya untuk mengakses media sosial. Selama ini kasus penggunaan akses internet yang sering muncul saat Nyepi adalah kasus postingan di media sosial. Jika kemudian dicermati lebih dalam maka permasalalahan utama terletak pada isi materi atau konten yang diunggah pada akun media sosial pada saat Nyepi, bukan internetnya yang mengganggu pelaksanaan Nyepi. Maka saat Nyepi bukan internetnya yang harus ikut Nyepi tetapi keinginan untuk mengakses media sosial dan keinginan untuk memposting status yang harus diredam. Apabila kemudian terdapat oknum tertentu yang menghina pelaksanaan Nyepi melalui postingan di media sosial, maka sudah sepatutnya diserahkan dan dilaporkan pada pihak berwajib.

Akses internet selama ini bukan hanya dapat digunakan untuk mengakses media sosial. Bagi beberapa orang yang bekerja dengan teknologi informasi, akses internet merupakan sebuah kebutuhan untuk memperlancar pekerjaan. Wartawan membutuhkan akses internet untuk mengirimkan data dan gambar untuk melaporkan hasil liputannya tentang pelaksanaan Nyepi di Bali ke seluruh penjuru dunia. Petugas penanggulangan bencana dan keamanan membutuhkan akses internet untuk melakukan koordinasi melalui group whatshapp dan berbagai kegiatan lainnya yang memerlukan akses internet dalam operasionalnya. Ketersediaan akses internet saat Nyepi juga akan membantu umat beraga lain yang tidak melaksanakan Nyepi yang berada di Bali untuk tetap dapat memenuhi kebutuhan informasinya. Sehingga umat lain yang berada di Bali tetap dapat menikmati hak asazinya untuk memenuhi kebutuhan informasinya melalui internet. Saatnya Bali menunjukkan bahwa saat melaksanakan Nyepi pun masyarakat Bali masih mampu menghargai dan menghormati hak asazi manusia umat beragama lain yang tidak melaksanakan Nyepi.

Penulis :

I Nengah Muliarta

Pemimpin Redaksi Beritabali.com

Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali.


Kamis, 21 Februari 2019 | 21:50 WITA


TAGS: Nyepi Tanpa Internet



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: